Menciptakan Kebutuhan Pertunjukkan Wayang Print
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 03 January 2015 11:25

 

ketemu sing bener piye, sing apik piye lan sing payu piye..” (meramu agar benar, bagus dan laku), begitulah kira-kira rangkuman dari obrolan saya dengan Ki Manteb Soedharsono, sang maestro dalang kondang pada suatu kesempatan bertemu beberapa minggu lalu di Slawi, Tegal. Bagi saya petemuan itu memang sungguh kesempatan berharga yang tak selalu dengan mudah terjadi. Panitia Festival Dalang Dulongmas 2014, mendudukan kami satu meja sebagai juri festival tersebut. Sebuah kehormatan bagi saya, ketika panitia memberi kepercayaan kepada saya mendampingi pak Manteb, praktisi pedalangan yang telah membawa pentas pertunjukkan wayang dalam genggamannya sekian lama, ada pak Prof. Kasidi, guru besar pedalangan ISI Yogyakarta, bapak Prof. Bambang Murtiyoso, guru besar ISI Solo, dan bapak Prof. Teguh Supriyanto, guru besar Sastra, Seni dan Budaya, UNNES, Semarang. Saya berada ditengah para dewa dunia pedalangan dan wayang.

Sebuah festival yang digagas Ki Enthus sebagai bupati Tegal, dalam upaya menciptakan ketersinambungan profesi pedalangan sehingga tetap menjadi kebutuhan dan ditempatkan pada posisi yang seharusnya ditengah kehidupan sosial masyarakakat Indonesia saat ini.

Sebuah gagasan besar, dengan harapan besar. Ketika para senior praktisi dan akademisi pedalangan berupaya agar budaya wayang tidak tergerus jaman di tengah arus modernisasi masa kini yang diantaranya berimplikasi pada terbentuknya pusaran budaya yang bisa membius siapa pun yang lena sehingga lupa diri terhadap identitas dan budaya sendiri.

Menyiapkan para profesional pertunjukkan wayang adalah satu hal. Menggodok kompetensi sejak dari para dalang, tim pengrawit, sampai kepada manajemen pertunjukkan karena mau tak mau dunia pentas budaya saat ini harus bisa merubah diri untuk juga menggendong serta strategi usaha jitu ditengah upaya mengusung idealisasi tatacara pentas itu sendiri. Seperti kesimpulan di atas, pentas pertunjukkan wayang klasik yang benar dimana secara tradisional mempertahankan nilai seharusnya, harus digagas sehingga akan selalu bagus si mata dan telinga para konsumen pentas, dan lebih dari itu juga harus bisa mengakomodasi para pelaku ekonomi sehingga pentas bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan. Pentas budaya yang membawa nilai nusantara dan selalu dipertahankan bagus sehingga laku untuk bisa tetap dijaga ketersinambungannya. Cita-cita sempurna, tapi bagaimana?

Apa yang sudah dilakukan Ki Enthus, juga para akademisi dan praktisi pedalangan, adalah upaya satu sisi menyiapkan ketersediaan para pelaku pentas budaya yang kompeten yang bisa menjawab perubahan jaman. Para dalang yang diharapkan bisa menciptakan aksen, differensiasi, idiom-idiom baru tanpa meninggalkan pakem tradisi. Dan kita sebagai khalayak harus mengapresiasi, memberi ruang seluas-luasnya, membicarakannya secara positif.

Sisi lain adalah upaya menciptakan kebutuhan! Seperti juga saya sempat menangkap kalimat Ki Manteb kurang lebih, “nek dalang akeh ki njur sing arep naggap sopo..?” (kalau dalang tersedia yang kemudian membiayai pentas siapa?). Terhadap pentas pertunjukkan tradisi, budaya, saat ini para pelakunya lebih banyak sering menunggu adanya kebutuhan dari para ‘konsumen’ mereka. Dan dari pengamatan saya, saat ini peran pemerintah masih sangat besar bagi keberlangsungan pertunjukkan itu. Bisa kita lihat dari pusat maupun daerah, pentas pertunjukkan budaya hampir selalu dibiayai oleh anggaran negara. Entah itu memang berasal dari instansi yang punya gawe pentas wayang misalnya, atau pemerintah pusat, daerah kota kabupaten propinsi membuat acara yang bersinggungan dengan budaya sehingga menciptakan roda ekonomi produk budaya bisa ikut berjalan.

Saat ini sudah sangat jarang terdengar seseorang atas nama individu ataupun keluarga, maupun perusahaan swasta menjadi pemrakarsa pentas pertunjukkan tradisional budaya. Walau disana-sini saya masih mendengar tentang pengusaha si-A atau pemuka masyarakat si-B yang secara individu atau mengatasnamakan keluarga besarnya mengadakan pentas pertunjukkan wayang kulit misalnya, tapi kabar itu tidak lagi terdengar sesering dulu ketika saya masih bocah.

Kita mungkin juga mendengar tentang perusahaan swasta, instansi perbankan, beberapa perusahaan rokok yang program CSR (Corporate Social Responsibility) mereka memberi penekanan pada kegiatan pentas tradisi dan budaya lokal. Tapi bagi saya itu semua lebih terasa seperti sebuah kewajiban, bukan kebutuhan. Kebutuhan dipercaya berawal dari pemahaman akan terciptanya nilai tambah yang bermanfaat, baik itu material maupun non-material. Program CSR walaupun dipahami secara jangka panjang akan memberi nilai tambah bagi perusahaan, tapi saya yakin banyak perusahaan masih melihat itu sebagai bentuk kewajiban dunia usaha sebagai bagian dari kehidupan bernegara.

Inilah tantangan bagi kita semua: Menciptakan Kebutuhan! Mengapa sinetron Mahabharata versi India kini ratingnya begitu tinggi, karena mereka para produser berhasil menciptakan kebutuhan! Lalu mengapa kita tidak mengupayakan hal yang sama terhadap pentas tradisi dan budaya lokal?

Saya bisa mencoba menawarkan penciptaan kebutuhan akan pertunjukkan yang menampilkan tradisi budaya lokal itu, dari lingkaran yang paling kecil yaitu keluarga. Bagaimana kita menempatkan karya budaya dan tradisi lokal lebih tinggi dari produk-produk karya asing. Sehingga keluarga kita terutama anak-anak kita terbiasa melihat karya budaya kita sendiri sebagai sesuatu yang membanggakan. Lebih lebar dari itu, anda pemilik modal, atau anda seorang pengambil keputusan yang memiliki lingkaran pengaruh yang besar, tidak harus hingar bingar kampanye budaya, cukup anda ciptakan gelombang kepedulian dan kebutuhan tentang produk nilai budaya lokal pada lingkaran pengaruh anda.

Sekarang banyak bermunculan orang-orang yang memiliki lingkaran pengaruh di dunia maya. Sebagian dari mereka anonymous. Mereka memiliki banyak follower, rajin sebagai buzzersocial media tycoon. Setiap postingan bisa jadi akan menggelinding bak bola salju yang pada akhirnya bisa dibaca didengar jutaan orang. Sudah saatnya anda peduli dengan nilai budaya lokal beserta produk-produk tradisinya sebagai tanggungjawab anda memberi manfaat terhadap keberadaan anda sebagai warga negara Indonesia. Sehingga selalu terdengar, selalu berada dipermukaan, terlihat, dan selalu menjadi kebutuhan!

Menyiapkan ketersediaan pelaku pentas budaya yang membawa nilai nusantara butuh didukung dengan upaya kita semua menciptakan kebutuhan bagi pentas budaya itu sendiri. Agar selalu terjaga kesinambungannya dan lestari menjadi tuan rumah bagi negri kita sendiri. Misalnya budaya wayang, bukan hanya karena tanggung jawab kita sebagai bangsa untuk selalu mempertahankan gelar yang terlanjur tersemat dari UNESCO yang menobatkan Wayang sebagai warisan dunia, tapi lebih dari itu, karena –bila kita mau- dari situlah kita bisa meng-‘ekstrak’ akar nilai budaya jati diri kita sebagai bangsa. Dari situlah kita bisa mengawali pemahaman kita tentang diri kita sendiri…

 

25 November 2014

Pitoyo Amrih

Artikel yang sama juga ditayangkan di Kompasiana.com

 




 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo