Jagad Gedhe Jagad Cilik Print
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 26 November 2012 10:11

"Saya merasa, konsep 'jagad cilik'-jagad gedhe' di Serat Cipta Waskita sepertinya mirip dengan terminologi 'paradigm-principle' di buku Covey. Di Serat Cipta Waskita  yang berbunyi 'jagad cilik jenenge manungsa, batinira ... yen jagad gedhe Hyang Manon' .. mungkin bisa didekati bahwa pemahaman 'jagad gedhe' adalah apa yang benar-benar seharusnya terjadi,.. garis Tuhan.. Sunatullah.. hukum alam. 

'Jagad gedhe' mungkin tak akan pernah kita jangkau, tak bisa dengan tajam kita definisikan. Terhadap 'jagad gedhe', kita hanya bisa mempersepsikan, menelaah, membuat rumusan. Model, kesimpulan, peta di otak kita. Manusia yang melihat 'jagad gedhe' tak akan benar-benar melihat yang sebenarnya. Dia hanya memetakan penglihatan itu di kepala mereka sambil kemudian merekonstruksikannya dengan memadukan unsur pengalaman, pengetahuan, pendidikan, paradigma sebelumnya. Jadilah gambaran 'jagad gedhe' itu di kepala kita masing-masing, yang saya yakin peta 'jagad gedhe' berbeda-beda di kepala kita masing-masing. Padahal 'jagad gedhe' itu satu, unik, hakiki, ketentuan Ilahi. 

Yang kemudian berbeda-beda bukan 'jagad gedhe'-nya, tapi tafsir masing-masing dalam melihat. Tafsir terhadap 'jagad gedhe' yang unik dan satu itu menjadi bermacam-macam dan banyak di kepala masing-masing orang. 'Jagad gedhe' yang satu dipetakan menjadi bermacam-macam sejumlah banyaknya manusia di dunia dalam melihat 'jagad gedhe'. Jadilah 'jagad gedhe' di kepala dan hati kita masing-masing. Mungkinkah itu yang disebut 'jagad cilik'?

Upaya manusia seharusnya selalu belajar berupaya agar 'jagad cilik' dirinya sama dan menyatu dengan 'jagad gedhe'. ... itupun pasti tak mungkin. Manusia dengan 'jagad cilik'-nya hanya mampu berusaha mendekati 'jagad gedhe'. Seberapa jauh jarak antara 'jagad gedhe' dan 'jagad cilik' masing-masing orang menandakan seberapa dekat orang tersebut memaknai kehidupannya. Hanya saja, terkadang, ada orang yang menilai, menghakimi, menggurui jarak milik orang lain, sementara jaraknya sendiri masih sangat jauh. Banyak orang sibuk melihat jarak 'jagad cilik' dan 'jagad gedhe' milik orang lain sementara tak peduli terhadap jaraknya sendiri. Padahal, penglihatannya akan jarak itu tak lain adalah 'jagad cilik'-nya juga sehingga bila jaraknya sendiri jauh maka penglihatannya juga jauh dari 'jagad gedhe', jauh dari yang sebenarnya. 

Saya melihat, konsep dalam Kearifan Jawa sekian abad lalu ini mirip dengan idenya Covey tentang 'paradigm' -'principle'. 'Paradigm' bisa disetarakan dengan 'jagad cilik', 'principle' bisa disejajarkan dengan 'jagad gedhe'. Semakin menarik, ketika dalam serat tersebut juga ada ungkapan 'becik ketitik ala ketara', yang baik akan terlihat yang buruk tampak karena dalam konsep 'paradigm', ada definisi 'reality: what things are' dan definisi 'value: what things should be'. Baik 'reality' maupun 'value' keduanya berada dalam 'jagad cilik'. 

Kesadaran hal itu membawa kita ke dalam pengertian bahwa kalau 'becik' (baik) pasti suatu saat akan 'ketitik' (diketahui) demikian juga 'ala' (buruk) bagaimanapun juga akan 'ketara' (terlihat), karena di kepala setiap orang pasti akan punya 'gap' antara realitas dan 'value', yang menyebabkan sesuatu akan diberi predikat 'becik' (baik) atau 'ala' (buruk). Tapi, harus tetap diingat bahwa 'becik' dan 'ala' itu masih di wilayah 'jagad cilik', di kepala kita dalam memandang dunia. Dan, apakah 'becik'-'ala' kita memang benar, tergantung jarak 'jagad cilik' dan 'jagad gedhe' kita masing-masing. 

Semangat dari ini semua: boleh-boleh saja bila kita menganggap diri kita benar, tapi jangan sekali-sekali menganggap diri paling benar karena bagaimanapun kebenaran di 'jagad cilik' kita, masih ada kebenaran hakiki di 'jagad gedhe' yang hanya menjadi milik Sang Kuasa. Dan, kita manusia harus sadar, 'jagad cilik' kita tak akan pernah menjadi sama dengan 'jagad gedhe'-Nya.

 

26 Nov 2012

Pitoyo Amrih

(pertama diunggah di kultwit twitter akun @PitoyoAmrih, dikumpulkan menjadi bentuk artikel di akun FB oleh Jeffry Em)

 




Last Updated on Monday, 26 November 2012 10:21
 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo