Membuat Senang Hidup Ini Print
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 13 March 2007 07:00

Orang muda ini tampak sedikit gugup. Terlihat sekali dia memang seorang karyawan baru. Keringat tampak menetes deras dikeningnya. Berulangkali dia mengusapnya. Colok sana colok sini, pasang sana pasang sini, nah,.. selesai sudah semua apa yang dilakukannya. Sambil terduduk dia menghela nafas panjang. Tapi tunggu,.. tak berapa lama dia bersandar, seseorang membentaknya dengan cukup keras. Sangat membuatnya terkejut!

“..he, kamu nggak lihat apa! Itu card yang kamu pasang salah itu, bagaimana sih kamu..!” sebuah kata menghardik membuat wajah orang muda ini menjadi kecut dan mendadak pucat. Sebuah kata-kata yang datang dari seorang pemilik toko komputer langganan saya. Dengan berkacak pinggang dan melotot, tampak bahwa dia sepertinya begitu marah atas kesalahan yang dilakukan salah satu pegawainya, sang orang muda ini.

Dan benar, sang orang muda itu adalah pegawai tokonya yang baru dua hari itu bekerja dengan sang pemilik toko. Siang itu dia diberi tugas oleh sang pemilik toko merakit komputer pesanan salah satu pelanggannya. Rupanya sang pegawai baru ini melakukan kesalahan. Kesalahan yang membuat si pemilik toko tampak marah dengan mata sampai melotot. Ah! Tidak biasanya si pemilik toko ini bersikap demikian. Saya sendiri sudah hampir satu tahun ini sering bertemu dan bercakap dengan si pemilik toko ini, tak pernah dia terlihat begitu marah.

“Naaa,.. kena kamu…” tiba-tiba suasana berubah seketika, ketika sang pemilik toko berteriak demikian sambil tangannya menunjuk si pegawai baru, dan kemudian tertawa lepas. Si pegawai baru, dari yang semula pucat pasi, menjadi terbengong. Saya pun ikut terbengong. Sementara sang pemilik toko tidak hentinya terbahak-bahak. Sampai perut buncitnya bergerak-gerak. Saya pun menjadi tersenyum karenanya.

“..Dia orang baru,.. yaa.. maklumlah kalau salah pasang…,” si pemilik toko kemudian berusaha menjelaskan kepada saya. Ditengah derai tawanya dia tampaknya mulai sadar bahwa bercandanya tidak hanya membuat ‘kena’ si pegawai baru itu. Tapi juga ‘mengenai’ saya.

Cukup lama saya terdiam berpikir. Yang ada di pikiran saya adalah kesan terhadap pemilik toko ini yang begitu luar biasa. Ditengah suasana kemrungsung karena harus melayani pesanan yang begitu banyak sementara dead-line pesanan yang begitu mendesak, dia justru menciptakan suasana bercanda. Tiga orang pegawai yang lain, yang di situ juga sibuk merakit komputer, tampak juga ikut tertawa lebar pertanda bahwa mereka sudah biasa dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sehingga tak heran bila selama ini saya menilai hubungan antara sang majikan dengan para pegawai-pegawainya ini begitu akrab.

“..sudahlah, mas,.. Hidup itu musti seneng, ndak perlu dibuat susah…,” kembali di tengah tawanya yang belum juga berhenti, sang pemilik toko berkata kepada pegawai baru yang baru saja dikerjainya. Sambil sang pegawai ini ditepuk-tepuk bahunya. Sementara si pegawai masih juga berwajah serius. Seperti tak percaya akan kejadian yang baru saja terjadi, sambil berusaha untuk tersenyum.

Dilanjutkan tak lama kemudian sang pemilik toko menjelaskan si pegawai baru itu atas kesalahan yang baru saja dilakukannya. Dengan penjelasan secara panjang lebar beserta tips-tips yang benar bagaimana cara merakit sebuah komputer. Lambat laun, si pegawai baru yang semula begitu tegang ini pun, mulai tampak santai dalam bekerja.

Ada satu kalimat terucap dari sang pemilki toko tadi yang kemudian memaksa saya kembali terdiam berpikir. Hmm, .. “ hidup itu musti seneng, ndak perlu dibuat susah..”. Karena kalimat ini, walaupun terdengar sederhana, tapi kalau kita maknai akan selaras seperti ide yang dikatakan Stephen Covey: To Learn, To Love, To Live dan To Leave a Legacy.

Sang pemilik toko itu, kalau kita coba pikir secara dalam, tidaklah mungkin dia bisa bercanda demikian di tengah apa yang harus dilakukannya segera. bila dia tidak memiliki secara jelas visinya. Saya sendiri tidak tahu persis, apakah visi itu tertulis, ataukah hanya tergambar begitu jelas di benaknya. Apakah visinya sebatas kepada visi sebagai pengusaha toko, visi sebagai majikan ataukah yang paling ‘ujung’ yaitu visi atas pertanyaan besar kita semua sebagai manusia yaitu visi terhadap ‘untuk apa’ kita diberi hidup diciptakan ke dunia ini.

Berulang kali kita belajar bahwa kita sebagai manusia, secara alamiah kita seharusnya memiliki apa yang disebut sebagai ‘kebebasan dalam memilih apa yang akan kita lakukan’ (freedom to choose). Dan ini sebenarnya kekuatan kita sebagai manusia. Bekal ini sebenarnya sudah ada sejak lahir. Kita bisa memilih untuk kita ‘pakai’ bekal ini, atau kita tinggalkan. Freedom to choose yang didasari pada 4 hal yaitu: self-awareness (kesadaran diri), imagination (mampu berimajinasi), conscience (mampu mendengarkan apa kata hati), dan independent-will (kehendak atau kemampuan kita untuk berkemauan memilih apa tindakan kita).

Dan lihatlah apa yang sudah dilakukan oleh si pemilik toko teman. Dalam kondisi keterdesakannya, ketika dia bisa dengan kuat bisa mengendalikan dirinya, kapan harus marah, kapan harus menghardik, kapan harus berkata ‘ya’, kapan harus menegur, kapan harus berkata ‘tidak’, artinya kita bisa menyebut dia memiliki apa yang disebut sebagai ‘kesadaran diri’. Motoriknya dikendalikan sepenuhnya oleh pikirannya, bukan oleh emosinya, bukan oleh pengaruh keadaan, bukan karena pengaruh orang lain.

Manusia juga harus mampu berimajinasi. Saya yakin si pemilik toko ini paling tidak pernah berimajinasi misalnya ketika dia bersikap demikian bagaimana respon pegawainya. Ketika di amarah, apakah justru produktivitas atau penurunan motivasi yang ditunjukkan oleh karyawannya. Dan itu semua pasti sudah terekam di kepalanya.

Dan consience atau nurani. Setiap orang pasti punya nurani. Tinggal masalahnya suara hati kecil ini ‘terdengar’ atau tidak. Saat ini pun, saya ada pada pemahaman bahwa suara nurani akan dengan mudah kita dengar ketika kita terbiasa meluangkan waktu untuk berhenti dan diam sejenak di tengah kesibukkan kita. Sejenak merenung, menggagas sesuatu, berpikir secara jernih. Proses inilah yang biasanya membuat ‘pendengaran’ kita akan suara nurani akan semakin tajam.

Sampai kemudian itu semua dapat termanfaatkan dengan baik ketika kita memiliki independent-will. Kekuatan untuk mengambil sikap secara mandiri. Tidak terpengaruh keadaan, tidak tergantung teman, tidak dalam kondisi terintimidasi siapa yang dianggap lawan.

Walaupun mungkin tidak terstruktur seperti apa yang coba saya rangkai, saya yakin bapak pemilik toko ini, sudah mampu untuk benar-benar memanfaatkan ‘bekal’ ini sebagai manusia. Sehingga benar-benar dia bisa mengendalikan dirinya. Dialah yang menjadi ‘tuan’ atas dirinya sendiri. Bukan keadaan, bukan orang lain.

Anda bisa bayangkan. Ditengah kemendesakan pesanan terhadap tokonya. Biasanya sebuah kesalahan kecil bisa menimbulkan ledakan amarah bagi sebagian orang. Apalagi seseorang yang pada posisi majikan terhadap pegawainya. Karena memang paradigma seorang karyawan selama ini memang masih pada pengertian bahwa gajinya sudah termasuk menerima marah atasan. Dalam arti bahwa hal ini bisa menjadi legitimasi bagi atasan atau  sang majikan untuk marah kapanpun dia ingin marah. Mengesampingkan segala faktor yang secara positif bisa membangun pemberdayaan bersama.

Tapi sang majikan pemilik toko ini justru mengajak bercanda. Perkara apa yang dilakukannya mungkin masih bisa menjadi bahan perdebatan mengenai baik tidaknya terhadap pengaruh pemberdayaan diri sang pemuda karyawan baru itu. Tapi yang jelas si pemilik toko sudah berusaha untuk menyatukan semua yang ada pada dirinya untuk selalu berusaha seperti apa yang didefinisikan Covey, to learn, to love, to live, dan to leave a legacy.

Lagi-lagi, mungkin saya agak terbata-bata menuangkan pikiran saya. Tapi yang jelas siang itu, atas kejadian singkat antara pemilik toko dan karyawan barunya, di ujung pemikirannya saya merasakan sebuah penglihatan atas sebuah ungkapan Covey di bukunya 8th Habit, yang sampai saat ini masih begitu remang-remang bagi saya: “..find your voices, and help others to find theirs..”. Dan terlihat memang setelah itu, sang pemuda karyawan baru tampak lebih santai dalam bekerja. Saya hanya berkata dalam hati, mungkin itulah salah satu tips suksesnya sebagai sang pemilik toko…

 

13 Maret 2007

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com - home improvement

bersama memberdayakan diri dan keluarga

 




Last Updated on Thursday, 26 August 2010 15:31
 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo