Ingin Sepeda... Print
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 27 November 2002 07:00

Sekitar tahun 1996 sampai kurang lebih selama dua tahun, kebetulan saya terlibat dalam sebuah proyek yang disitu melibatkan seorang engineer dari sebuah perusahaan mesin besar dari Austria. Dia berasal dari Jerman, berkeluarga, memiliki dua orang anak laki-laki yang sekarang sedang menginjak dewasa. Selama hampir dua tahun di Solo, terkadang sekali waktu istri dan anaknya pun datang berkunjung, sehingga selain secara profesional saya banyak belajar dari dia, secara pribadi juga karena kami hampir tiap hari berkomunikasi kami cukup bisa saling belajar dan cukup dekat satu sama lain.

Diumurnya yang sudah hampir kepala lima, dia juga memberikan banyak pelajaran kepada saya tentang bagaimana mensikapi hidup terutama kaitannya dengan bagaimana saya terkagum akan semangatnya dalam bekerja. Pada dasarnya dia adalah seorang yang memiliki etos kerja yang tinggi, sangat menghargai waktu, selalu to the point dalam mengkomunikasikan suatu hal. Terkadang kami pun berbeda pendapat dalam suatu hal, dan bila hal itu terjadi terkadang dia pun bisa berbicara dengan nada sangat tinggi. Semula saya mengira bahwa mungkin dia tidak menyukai saya, tapi dengan berjalannya waktu saya semakin melihat bahwa bila dia karena suatu hal kemudian tidak menyukai kaitannya dengan saya, yang tidak disukainya adalah keadaan pada saya –pendapat saya, respon saya, perilaku saya- bukan tidak suka kepada saya sebagai manusia. Sesuatu hal yang saya pikir kita sebagai orang timur justru harus banyak belajar. Diluar jam kerja …dia lebih banyak bercanda.

Melihat dia begitu seakan ‘gila kerja’, tentunya secara logika dia memiliki keinginan akan sesuatu. Pernah dia bercerita suatu hal yang menarik kepada saya tentang pendapatnya ketika suatu kali saya bertanya apa keinginannya dalam hidup ini.

Dia pun kemudian bercerita bahwa berkeinginan dalam hidup adalah seperti layaknya seorang anak kecil yang minta kepada orang-tuanya dibelikan sebuah sepeda. Karena suatu hal kemudian si orang tua menunda membelikan si anak sepeda dengan berbagai alasan. Si anak pun kemudian selalu merengek mengingatkan orang tuanya akan janji beli sepeda. Ingatan akan sepeda selalu ada di kepala si anak, dan si anak tak henti-hentinya selalu menanyakan perihal sepeda kepada orang-tuanya. Ketika sarapan bersama, pulang dari sekolah, makan malam bersama, menjelang tidur, selalu bila ada kesempatan menanyakan kapan sepeda akan dibelikan.

Misalnya sang orang-tua menjanjikan si anak bahwa sepeda akan dibelikan bila dia lulus dari SD beberapa tahun lagi, ketika kelulusan tiba ingatan si anak yang pertama adalah menagih janji orang-tuanya akan sepeda.

Suatu ketika kemudian dibelikannya si anak sepeda. Betapa senangnya dia, hampir tiap saat dia selalu melewatkan waktunya dengan sepedanya. Membersihkannya supaya selalu tampak baru, menaikinya dengan hati-hati, memandanginya. Orang lain jangankan bisa meminjam sepeda, memegangnya pun pasti ditegur oleh si anak.

Seminggu berlalu, sebulan, dua bulan dan seterusnya. Perhatian si anak kepada sepeda pun tanpa sadar sedikit demi sedikit berkurang. Sepeda pun lama kelamaan menjadi kotor dan berdebu tidak pernah dibersihkan. Sepulang sekolah dimana dahulu sepeda selalu diletakkan dengan hati-hati, sambil melompat dari sepeda si anak pun cukup melempar sepeda begitu saja. Rantai yang dulu setiap hari diminyaki, sekarang tidak pernah lagi. Karat pun mulai menggerogoti sepeda, dan ketika sepeda sudah tidak begitu tampak menarik lagi, si anak pun enggan naik memakai sepeda itu lagi. Sampai kemudian dia beranjak dewasa dan meminta sepeda-motor kepada orang tuanya. Kejadian yang sama pun kurang lebih akan berulang, hanya substansi ‘sepeda’ telah berubah menjadi’sepeda-motor’

Dia berpendapat apa pun keinginan dalam hidup, bagi dia nasibnya kurang lebih akan seperti sepeda. Dan bila kita memilih untuk berkeinginan terhadap sesuatu menurut dia kita tidak lebih akan selalu mengulangi hal-hal yang sama, rasa senang yang sama, bahkan mungkin kesalahan yang sama.

Cukup heran juga bagi saya, dimana orang dengan etos kerja yang sangat tinggi, ternyata apa yang dia dengar akan bicara-Nya kok rada ‘berbau’ sikap yang alon-alon waton kelakon.

Tapi saya melihat bisa jadi dia yakin akan pendengaran bahwa semua tak pernah sia-sia, atau jangan-jangan semacam pendengaran bahwa hidup ini (sekedar) mampir ngombe. Karena justru ketika dia melihat dunia seperti layaknya cerita di atas, menjadikannya memiliki etos kerja tinggi dan selalu menghargai waktu detik demi detik.

Hanya saja pada wilayah tertentu saya rada kurang setuju dengan pendapatnya, dimana yang jadi persoalan ketika kita bekerja bukan pada masalah keinginan, tapi lebih kepada bagaimana kita mensikapi keinginan yang timbul pada kita. Sehingga substansi ‘sepeda’ hanya masalah waktu dan tempat.

Sebagian besar dari kita di Indonesia terkadang dari kecil kita diberi pembelajaran menyederhanakan dengan ‘sebaiknya kita bekerja bila ingin “sepeda” (penghasilan, uang, karir, pengakuan,dsb)’. Bahkan lucunya bahkan sebagian dari kita sampai berandai-andai ‘bisa nggak ya punya “sepeda” tapi tidak bekerja’. Dan ‘sepeda’-‘sepeda’ yang kita ingini akan selalu menjadi pembenaran terhadap apa pun semangat kerja yang kita pilih.

Atau jangan-jangan saya yang keliru, dimana sesungguhnya atas bicara-Nya tak pernah ada ‘sepeda’, sehingga permenungan akan etos kerja menjadi semacam ‘kerja dengan suka cita’-nya Kahlil Gibran…ya..mungkin saja seharusnya begitu!

 

2002

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 21:53
 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo