(Tuhan Selalu Berbicara) Kita Hampir Selalu Mendengar Beda (1) Print
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 01 February 2001 07:00

Saya kebetulan dilahirkan di Semarang, dari keluarga Jawa. Suatu saat di waktu saya kecil dulu pernah orang menceritakan ke saya bahwa bunyi ayam jago berkokok di pagi hari adalah 'kukuruyuuuk'. Walaupun kalau sang ayam jago berkokok di telinga serasa tidak begitu mirip benar dengan apa yang orang lafalkan, tapi bolehlah itu 'sekedar' menjadi kata ganti agar bisa untuk dikomunikasikan antar orang.

Sekitar empat belas tahun lalu saya mulai merantau ke Bandung untuk menuntut ilmu. Suatu saat ketika saya di Bandung, tetangga saya yang kebetulan asli Bandung bercerita tentang kokok ayam jago yang berbunyi 'kongkorongook'. 

Lho! Jangan-jangan ayam jago Semarang dengan ayam jago Bandung memang berbeda bunyinya. Pagi besoknya saya coba dengarkan dengan seksama bunyi ayam jago, dan ternyata menyuarakan suara yang sama persis dengan ayam jago tempat saya berasal. Tapi kenapa orang-orang melafalkannya berbeda? Bagi saya sebuah pertanyaan menarik. Karena yang jelas lafal yang terjadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan bunyi ayam jago sebenarnya. Di mana pun anda berada bunyi ayam jago ya seperti itulah. Perbedaan 'hanya' terjadi ketika gelombang bunyi itu sampai ke telinga manusia, kemudian sinyalnya ditangkap oleh otak, otak menerjemnahkan, untuk kemudian diteruskan kepada saraf motorik pita suara. Orang Bandung dan orang Semarang sama-sama 'hanya' berusaha melafalkan apa yang mereka dengar. Benar dan salah hanyalah pada di mana anda berada.

Jauh di jaman Yunani pernah hidup seorang astronomer bernama Ptolomeus, dengan perhitungan letak bintang yang dilakukannya dia menyimpulkan bahwa bumi terletak di pusat alam semesta. Copernicus menggunakan metoda yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan Ptolomeus, ternyata menyimpulkan bahwa mataharilah pusat alam semesta. Beberapa dasa warsa yang lalu dengan metoda yang jauh lebih canggih ternyata bahwa disimpulkan matahari di mana bumi mengelilinginya ternyata juga 'mengelilingi' pusat galaxy yang jaraknya jutaan tahun cahaya dari matahari itu sendiri. Baru beberapa tahun yang lalu ada seorang astronomer menjelaskan tentang gerakan benda-benda langit yang begitu 'complicated' yang dengan perhitungan relativitas ruang dan waktu sampai pada kesimpulan, bisa jadi bumi memang benar pusat alam semesta. Lho!

Terlepas dari masalah benar atau salah para astronomer di atas 'hanya' berusaha menyimpulkan apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dikombinasikan dengan apa yang mereka tahu. Masalah benar atau salah hanyalah masalah waktu kapan mereka menyimpulkan itu.

Seperti saya utarakan pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya menganggap semua apa yang bisa kita lihat, dengar, cium, rasakan, sentuh adalah sebuah Mahakarya bentuk 'bicara' Tuhan. Yang kemudian tertransformasikan melalui panca-indera menuju di otak untuk diolah, pikir, renungi, dan simpan dalam bentuk memori otak adalah menjadi suatu bentuk apa yang kita 'dengar' dari 'bicara' Tuhan tadi, tidak peduli kita sadar atau tidak. Dan di otak kita apa yang kita 'dengar' tadi akan terkotak -seperti yang secara luar biasa di 'terjemahkan' oleh Stephen Covey- menjadi what things are atau sering disebut sebagai realitas (berupa semacam 'film' di otak kita) dan what things should be atau nilai. 

Jarak antara relitas dan nilai akan menjadi sebuah dinamika yang akan selalu kita renungi, argumentasikan, atau rangsangan akan suatu tindakan. Dan bagi orang yang selalu berusaha untuk 'mendengar' Tuhan, akan merasakan selalu saja ada jarak antara realitas di otak kita dengan 'bicara' Tuhan itu sendiri sebenarnya. Itulah yang seharusnya menjadi rangsangan orang untuk selalu belajar.

Berangkat dari sini, saya bisa mengatakan bahwa siapa pun yang mengatakan apa pun adalah sesuatu yang pantas kita hargai dan itu jauh dari masalah benar atau salah, karena benar atau salah hanya masalah kapan dan di mana anda.

Saya sebenarnya rada merinding juga ketika cerita hal ini kemudian ada seorang bertanya, lalu dimana letak Kitab wahyu Tuhan. Sebuah pertanyaan yang saya sangat khawatir jawaban saya akan di 'salah-persepsikan'. Karena saya 'menganggap' kitab Tuhan adalah sama seperti bentuk wahyu Tuhan yang lain seperti pohon, binatang, air mengalir, petir, angin, matahari, alam semesta. Yaitu sebuah bentuk 'bicara' Tuhan yang seharusnya kita harus selalu berusaha 'mendengar'nya. Benar atau salah muncul ketika pada suatu waktu dan tempat kita akan selalu mendapati orang-orang yang berbeda ke'pandai'an dalan 'mendengar-Nya'. Sehingga akan terasa kita akan 'berbeda' dalam mendengar. Dan kepandaian dalam 'mendengar' itulah yang seharusnya kita asah denga cara saling menghargai sesama, berbagi dan selalu 'open mind'. Sehingga kita akan selalu belajar sesuatu. Sesuatu yang mungkin tidak selalu mudah untuk dilakukan.

Sehingga saya bisa berkata bahwa hak individu setiap orang untuk mengatakan bahwa apa yang dia katakan atau lakukan adalah benar. Tapi sungguh naif ketika ada orang yang merasa apa yang dia katakan atau lakukan adalah yang paling benar. Sebuah fenomena yang masih saja ada pada orang-orang di sekitar kita…

 

2001

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 21:16
 
Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo