pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku karangan Pitoyo Amrih ini secara tak terduga menawarkan sesuatu yang beda dari cerita wayang biasanya. Pendekatannya begitu humanis dan sarat emosi.."
Zee


Home
Karepe Bilung
Karepe Bilung PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 01 December 2012 11:43

karepe bilung_gbrKulonuwun… mungkin sudah banyak yang tahu, mungkin juga banyak yang gak tahu. Nama aku Bilung. Lengkapnya Bilung Sarawita. Sampeyan semua beruntung lahir dan hidup di jaman yang serba wuiih ini.. Aku juga beruntung hidup panjang aku ternyata sampai juga ke jaman ini. Aku juga gak begitu tahu dan jelas asal-usulku, sepertinya tiba-tiba begitu saja aku ditakdirkan menjadi seorang pengembara. Dulu kemana-mana ikut Kang Togog. Diberi kesempatan hidup dari jaman wayang yang wingit sampai jaman sekarang yang serba cetar membahana..

Aku ini orangnya banyak ngomong. Jangankan orang lain, kadang aku sendiri juga ndak mudah memahami omongan yang keluar dari pikiranku. Seperti begitu saja. Bicara angan-angan, ngomong tentang kehidupan yang aneh dan lucu-lucu, segala kejadian yang pernah aku alami. Biasanya kemudian selalu muncul ide gila, ngawur, waton, dari apa yang aku lihat. Bisa jadi gagasan cemerlang tentang suatu hal, tapi mungkin juga sekedar asal bicara.

Tapi ndak apa-apa. Dulu sekali orang lebih suka diam. Aku yang memang banyak bicara, tak banyak mendapatkan penyanggah bicara yang berarti. Tapi dulu kebanyakan orang yang mendengar kata-kataku adalah para raja. Para raja yang sukanya merusak, jiwanya labil, mudah marah, mudah mendendam, meledak-ledak, kadang juga aku lihat seperti anak-anak, sukanya kekerasan, dan selalu melihat hidup ini seperti main-main. Tapi para raja itu dulu sebenarnya tidak sedang mendengarkan kata-kataku, mereka yang tampak diam mendengar sebenarnya sedang mencari hiburan. Jadilah celotehan aku menjadi bahan tertawa. Tapi aku ndak apa-apa. Dan aku tetap berkata-kata, mengeluarkan isi hati dan pikiran, banyak maunya.

 

Last Updated on Tuesday, 04 December 2012 08:19
Selengkapnya...
 
mBagusi PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 03 December 2012 20:11

karepe bilung_gbrOalah,.. jaman sekarang kok ya masih ada seorang priyayi, pemimpin, pejabat, yang kelakuannya mbagusi. Sungguh, aku pikir kelakuan mbagusi bagi seorang pemimpin itu hanya terjadi di jaman wayang dulu. Jaman sekarang kok ya masih ada, seorang bupati yang pethitha-pethithi kemaki. Berdalih dalil-dalil agama untuk membenarkan kelakuan dan akal bulusnya. Inilah yang membuat aku semakin curiga pada orang-orang jaman kini. Agama yang seharusnya menjadi pintu yang memiliki perbawa bagi perenungan diri pribadi masing-masing menuju Tuhannya, kini agama telah menjadi komoditas. Menjadi dasar pembenaran bagi sebuah kepentingan. Menjadi kedok dibalik nafsu. Nafsu keserakahan maupun birahi. Ternyata orang-orang para pemimpin sekarang bisa jadi lebih edan dan nggilani daripada para raja yang pernah saya ikuti dulu.

Kelakuan yang sudah meninggalkan budaya kemanusiaan, yang kemudian berlindung dibalik dalil agama yang tentunya dipelintir dari persepsinya dan kebenarannya sendiri, juga berkilah dengan aturan-aturan hukum yang ditarik ulur, kelakuan seperti inilah yang aku sebut dengan watak mbagusi. Tindak-tanduk yang sebenarnya tidak bagus, tidak baik, tapi dibuat seolah-olah menjadi boleh, bahkan dijejal-jejalkan dengan norma seolah menjadi sesuatu yang baik. Terkadang jadi fetakompli. Oaalaah, bener-bener mbagusi orang-orang ini!

 

Last Updated on Tuesday, 04 December 2012 08:19
Selengkapnya...
 
Hambalang PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 15 December 2012 10:15

karepe bilung_gbrWah! Kumpul dengan para sesepuh budaya memang selalu menyenangkan. Beliau-beliau ini selalu saja bisa melihat dari sisi yang berbeda. Berbicara menyampaikan pendapat tentang suatu keadaan yang terjadi di sekitar. Kadang mengalun mengomentari masalah dengan santun, sesekali menukik, berteriak keras, bisa-bisa berbelok berkelok sampai kepada tempat yang sama sekali aku baru lihat. Ah! Begitu menyenangkan!

Salah satu dari beliau ini pernah bertanya kepadaku. Tentang bagaimana aku merasakan ‘kahanan’. Karena itulah yang biasa menjadi bahan untukku agar bisa terus berkata, terus berceloteh, terus menyampaikan karep. Ah! Bingung juga kalau aku musti menjelaskan apakah arti ‘kahanan’. Mungkin bahasa Indonesia bisa didekati dengan arti ‘keadaan’. Tapi kalau direnungi, maksud ‘kahanan’ tidak sesederhana ‘keadaan’. Karena ‘keadaan’ biasanya hanya dikenali dengan panca indera, mata, telinga. Tapi ‘kahanan’ lebih dari itu. Harus juga dikenali dengan rasa, hati, intelektual spiritual,.. wuiihh, istilahku ini lama-lama kok ya sulit kupahami sendiri..

 

Last Updated on Saturday, 15 December 2012 10:26
Selengkapnya...
 
Blusukan sambil Ngangkang PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 09 January 2013 15:01

karepe bilung gbrWeih! Ini bagus ini,.. dua kata bahasa Jawa yang tadinya jarang diomongkan, hanya jadi guyonan saudara-saudara di desa, itupun pelosok, sekarang kok jadi me-nusantara. Semua seantero Indonesia kini tahu apa itu ‘blusukan’ dan arti kata ‘ngangkang’. Tapi ya itu, sebagian orang menggagas keras nan serius kedua kata ini, tapi sebagian lagi di belakang terkekeh mengejek. Wong ‘blusukan’ dan ‘ngangkang’ kok tiba-tiba menjadi kata yang sering diucap dan ditulis akhir-akhir ini. Di berita koran, televisi, internet. Ada yang berdebat seru berdiskusi, ada yang menjadikannya lelucon.

Kalau dari kata Jawa, ‘blusukan’ itu artinya apa ya? Coba aku ingat-ingat. Waktu aku kecil dulu, kang Togog suka mewanti-wanti supaya aku tidak dolan blusukan, bisa digigit ular, kena duri, nanti bisa kesambet. Berarti kira-kira ‘blusukan’ itu artinya ya pergi ke tempat rimbun, kotor, kebon liar. ‘Blusukan’ mungkin juga boleh diartikan dengan pergi ke tempat yang jarang atau belum pernah disinggahi orang. Sehingga yang melakukan blusukan akan kemungkinan mendapat resiko. Resiko badan kotor, menjadi bau, luka mungkin, atau bahkan sakit. ‘Blusukan’ juga diartikan sebagai kegiatan yang spontanitas, tak direncana, tanpa ijin, diam-diam.

 

Last Updated on Wednesday, 09 January 2013 15:12
Selengkapnya..
 
Wakil Rakyat Kebanyakan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 25 February 2014 09:32

 

karepe bilung_gbrTahun ini memang jadi tahun yang kemrungsung bagi para calon wakil wakyat itu. Ya, maaf,.. kalo aku harus ngrasani sampeyan semua. Tapi ya memang begitu itu kenyataannya. Tiba-tiba orang itu berubah. Tidak yang dipusat atau yang di daerah semua. Semua serba ‘pokoknya’, mengesampingkan hal-hal lainnya yang seharusnya lebih penting. Pokoknya aku harus menang saat pilihan nanti. Pokoknya!

 

Nah,.. cara-caranya itu lho? Jaman dulu itu malah lebih mending sepertinya. Walau jaman dulu memang ada gontok-gontokkan. Tapi orang dulu itu sangat hormat pada alam dan sekelilingnya. Tidak ada cerita orang jaman dulu itu kok misalnya merusak pohon. Lha sekarang ini kok kebangetan. Tiap hari aku itu rasanya pengin marah sama sampeyan para caleg itu kok. Bayangkan, tiap hari itu aku mendengar pohon-pohon di jalan pada nangis kesakitan. Badannya ditancapi paku-paku untuk pamer wajah. Belum jadi wakil rakyat, sama pohon-pohon saja sampeyan itu nggak menghormati, apalagi nanti kalo sudah jadi duduk enak di kursi dewan yang terhormat, sama kita rakyat kecil pasti ya lali alias lupa.

Last Updated on Tuesday, 25 February 2014 15:10
Selengkapnya...
 


Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo