|
Suatu Ketika, apakah itu yang Ditunggu Manusia? |
|
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Monday, 30 April 2012 13:00 |
Setelah membaca salah satu buku kumpulan artikel saya, yang berjudul "Ilmu Kearifan Jawa", salah seorang sahabat meminta pendapat saya tentang tafsir lagu Sujiwo Tejo berjudul "Pada Suatu Ketika". Sebuah lagu yang luar biasa. Ketika pertama kali menjadi hit kala itu, bahkan lagu ini dan seluruh lagu di album yang sama, selalu saya putar berulang-ulang. Saya merasa ada sesuatu dalam lagu ini. Sebuah renungan yang juga terdapat pada seluruh lagu dalam satu album itu. Mas Sujiwo Tejo memang sosok yang fenomenal. Tapi entahlah, apakah lagu yang dibuat itu memang sengaja dicipta untuk dimaknai dan direnungi begitu dalam, ataukah dia lebih berfokus hanya pada estetika vokal konsonan pemilihan kata. Tapi yang jelas, bagi saya, lagu ini mengandung makna lebih dari sekedar apa yang ditulis dan dinyanyikan. Bahkan lebih dari apa yang sudah terdengar ditelinga. Tafsir bebas itu coba saya tulis dalam artikel berikut:
Pertanyaan pada judul diatas sebenarnya bisa sangat penting untuk di-‘ingin-tahu-i’ bagi seharusnya seseorang yang mau untuk memahami hakekat hidupnya di dunia ini. Pertanyaan ini muncul begitu saja setelah saya membaca kembali, mendengar, merenung atas lagu yang dicipta dan digubah begitu luar biasa oleh Sujiwo Tejo. Lagu berjudul ‘Pada Suatu Ketika’.
Lagu ini dibuka dengan semacam kegelisahan ketika orang melihat bahwa segala macam angkara murka, pertikaian, kekerasan di atas bumi ini, mengapa tak juga segera berakhir. Sepertinya tak akan pernah berakhir. Ketika disana terdapat sebuah perbedaan pendapat dan sikap dalam melihat suatu hal, maka potensi pemaksaan kehendak, yang bisa jadi berujung pada kekerasan akan selalu muncul. Mungkin itulah yang disebut angkara murka. Sebuah kegagalan seseorang dalam memahami hakekat hidupnya, saat dia tidak bisa untuk memunculkan semangat berbagi dalam dirinya. Sikap berbagi untuk hidup bersama dalam satu dunia di atas bumi ini.
Wong takon wosing dur angkoro
(Orang-orang bertanya kapan angkara murka berakhir)
|
|
Last Updated on Tuesday, 01 May 2012 16:59 |
|
Selengkapnya
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Sunday, 07 February 2010 00:00 |
Lagu yang menggugah!.. dan saya pikir anda pun setuju dengan pendapat saya. Sekelompok anak muda yang kini julukan bandnya begitu akrab di telinga anak muda itu tidak hanya menyenandungkan lagu cinta remaja, mereka juga mempersembahkan lagu yang kemudian menjadi semacam penyemangat bagi siapa saja yang mendengarnya terutama ketika seseorang merasa dalam kondisi titik terendah. Video klip lagu ini pun di garap apik. Silhuet seorang penari jalanan yang sakit-sakitan tapi tetap harus bekerja menghidupi dirinya. Potret seorang pegawai kantoran yang merasa terkoyak harga dirinya ketika apa yang dia lakukan seperti menjadi tak berguna.
D'Masiv.. demikian nama band itu, pun pintar memilih kata-kata dan nuansa alunan nada sehingga bisa dengan mudah membuat setiap pendengar merenung. Merenung sejenak akan keberadaan dirinya..
tak ada manusia yang terlahir sempurna jangan kau sesali segala yang telah terjadi
|
|
Last Updated on Saturday, 28 April 2012 12:21 |
|
Read more...
|
|
Tell me why this is a Land of Confusion? |
|
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Thursday, 22 January 2009 00:00 |
Pelantikan Obama menjadi presiden Amerika seperti menjadi ikon perubahan itu sendiri. Tidak biasanya sebagian mata dunia menyaksikan detik detik pelantikannya. Bagi orang Amerika, seolah mengukuhkan bahwa anda bisa bermimpi apa saja dan menjadi nyata. Bagi penduduk dunia, sebuah perubahan yang memang menjadi semangat Obama ketika kampanye seolah menjadi tumpuan harapan.
Panggung dunia itu seolah tak berhenti. Peristiwa demi peristiwa saling silang. Seperti ketika harapan penduduk dunia begitu besar terhadap presiden terpilih Amerika, seolah perasaan marah setelah sebelumnya lebih dari duapuluh hari Israel menggempur penduduk sipil Palestina, menjadi terhibur seketika.
Semua ini seperti kembali mengingatkan saya kepada lagu apik yang pernah menjadi hits di tahun delapan puluhan. Lagu group band Inggris, Genesis berjudul ‘Land of Confusion’. Lebih dari duapuluh tahun berlalu, seakan sindiran Genesis belum juga usang bagi perikehidupan kita. Dan tidak hanya itu, video klip yang dibuat itupun, ketika saat itu sang presiden adalah Ronald Reagan, juga semakin mensyahkan sindiran itu bahwa seolah nasib dunia bisa jadi hanya digenggam oleh segelintir orang. Sehingga disebutnya bahwa kita adalah orang-orang yang kebingungan, hidup di dunia yang juga berisi kebingungan-kebingungan.
Cobalah anda rasakan bagaimana sindiran Genesis itu begitu mengena pada kehidupan kita saat ini.
I must’ve dreamed a thousand dreams Been haunted by a million screams But I can hear the marching feet Theyre moving into the street.
|
|
Last Updated on Saturday, 28 April 2012 12:05 |
|
Read more...
|
|
Mendendang Laskar Pelangi |
|
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Saturday, 01 November 2008 00:00 |
'Film ini tidak begitu mewakili bukunya', begitu kata sebagian teman saya mengomentari film Laskar Pelangi karya Riri Riza ini. Tapi sebagian lagi berkomentar bahwa apa nuansa keindahan dalam film itu bisa mengejawantah menakjubkan melebihi apa yang dituang dalam buku, bahkan Andrea Hirata pun sang penulis, dalam sebuah kesempatan memuji film itu lebih bagus daripada buku yang dibuatnya.
Tapi apa pun itu tetap dua karya itu baik versi buku maupun versi film-nya, adalah sebuah karya yang patut kita acungi jempol pada keduanya. Buku, memiliki karakter dan kekuatannya sendiri, yang mampu membuat panorama imaji bagi setiap pembacanya. Ketika sang buku diangkat menjadi sebuah film, tentunya juga menjadi tantangan sendiri bagi orang yang berkompeten dalam film untuk mewujudkan itu semua dalam bahasa visual. Orang boleh berdebat mana lebih baik, tapi bagi saya keduanya telah berkontribusi memberi sebuah wawasan bahwa ditengah macam ragam perbedaan kita, di tengah masalah keseharian yang menyesakkan, di tengah segala urusan yang sepertinya tak kunjung habis, ada sebuah kekayaan dalam hati kita yang akan selalu membuat kita bahagia, ketika kita mau bersyukur atas apa yang kita punya dan selalu merayakan apa pun perbedaan antara kita. Pun lagu karya Nidji yang menjadi OST film itu. Sungguh sebuah kerja berat ketika itu semua harus diwakili pada sebuah lagu. Sederet bait kata singkat dan alunan nada itu harus mewakili suasana, mimpi, cita-cita, semangat, kesederhanaan, kebersamaan, keceriaan, dan segala macam emosi yang tertuang dalam buku dan film itu. Coba anda simak lirik sambil mata tertutup dengarkan irama lagu itu. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya
|
|
Last Updated on Thursday, 26 April 2012 12:49 |
|
Read more...
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Saturday, 04 October 2008 00:00 |
Di tengah semarak group band muda yang lebih banyak mengusung tema roman, dan segala macam hal yang bersifat 'dunia', kumpulan anak muda ini mengajak kita untuk sejenak merenung tentang taubat kepada Sang Pencipta.
Walaupun mungkin dianggap sebagai salah satu strategi pasar dengan mengusung lagu tema religi saat bulan Ramadhan yang baru lalu, tapi bila kita menyimak lirik itu, ada sebuah makna dalam yang patut juga kita sejenak mendengar secara seksama dan renungi. Coba kita dengarkan seksama kata-kata itu.. Izinkan ku ucap kata taubat Sebelum Kau memanggilku kembali pada-Mu, menutup waktuku Izinkan ku serukan nama-Mu Sebelum nyawa dalam tubuhku Kau ambil, kembali pada-MU Karna ku tahu, hanyalah pada diri-Mu Tempatku mengadu, tempatku mengeluh Di dalam do’aku
|
|
Last Updated on Thursday, 26 April 2012 12:41 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 3 |