pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku Memburu Kurawa sampai 3 kali khatam saya baca!!"
Wiwik Aja


Home
Seri Cermin Dunia Wayang
Menemukan Yudhistira Pada Mandela PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 13 December 2013 09:08

 

Memetakan karakter dan membuatnya agar bisa selalu konsisten bisa dideskripsikan dalam sebuah novel, bagi saya memang tak mudah. Dan saya sadar bahwa sejak awal saya menulis novel yang didalamnya bisa melibatkan ratusan karakter, bagaimana pun, saya harus bisa mencari cara agar setiap karakter itu tetap bisa konsisten unik dalam pengungkapannya. Karena karakter dalam sebuah novel harus merupakan perwujudan dari bagaimana sosok satu tokoh itu memilih kata-kata dalam dialognya, bagaimana suatu tokoh bersikap atas sebuah kejadian atau keadaan, bagaimana saya harus menggambarkan bahasa tubuh sang tokoh itu.

Salah satu rahasia dapur yang banyak para novelis lakukan adalah dengan membuat pemetaan setiap tokoh karakter dengan sosok padanan yang mudah di-recall dalam ingatan, sejenak kemudian memanggil penghayatannya, dan memvisualisasikan dalam imajinasi kira-kira apa yang akan dilakukan sang sosok padanan bila saya simulasikan berada dalam situasi jalinan plot cerita novel saya, dan kemudian menuangkannya dalam tulisan. Yang muncul kemudian bisa sebuah kalimat dialog, penggambaran bahasa tubuh, deskripsi roman muka wajah.

Last Updated on Friday, 13 December 2013 09:20
Selengkapnya...
 
Kopassus Itu Bernama Abimanyu PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 19 April 2013 13:50

Perang Baratayudha melawan preman Kurawa itu seperti tak berkesudahan. Ketika suatu hari di tengah kancah pertempuran terdapat sosok pendiam yang dengan berani menghadang perlawanan di kandang lawan. Seorang ksatria bernama Abimanyu. Seorang diri menyongsong belasan orang yang garang menyerang. Sulit dipahami memang. Nafsu apa yang ada di benak para penyerang, ketika lawan mereka seorang diri tak seimbang sudah tak berdaya bersimbah darah, tapi orang-orang ini tetap merajam. Para Kurawa ini tetap gelap mata menghujamkan parang dan melesakkan anak panah.

Last Updated on Friday, 19 April 2013 13:55
Selengkapnya...
 
Dilema Sang Salya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 30 October 2012 11:36

Saya pikir cukup detail, saya coba menggambarkan kisah seorang Salya, raja besar negri Mandraka, dalam cerita berbentuk novel di buku saya berjudul “Narasoma, Ksatria Pembela Kurawa” (Pinus, 2007). Saya coba uraikan kembali secara singkat kisah kepemimpinan Salya, dari sudut pandang orang ketiga. Dimana saya coba uraikan juga bagaimana penilaian-penilaian saya terhadap karakter Salya ini –yang ketika muda bernama Narasoma-, sehingga hal-hal yang baik bisa memberikan inspirasi bagi kita semua.

Narasoma, si Salya muda, adalah seorang yang keras kepala, dan berani menentang ayahnya atas didikan yang diberikan kepadanya. Narasoma yang kemudian memilih untuk pergi dari istana mengembara karena selisih pahamnya dengan Prabu Mandrapati, ayahnya. Apa yang bisa menjadi inspirasi kemudian, adalah ketika Salya muda ini mengambil keputusan yang berakibat sepanjang hidupnya dia harus mengelola keraguan-keraguan sepanjang hidupnya. Bagaimana dia memimpin dirinya sendiri untuk menghadapi kebimbangan dirinya atas apa yang pernah dia lakukan ketika muda.Dan bagaimana dia kemudian memutuskan menghadapi setiap konsekuensi dari apa yang pernah diputuskannya, walaupun dia sadar semua pihak bisa jadi akan melihatnya sebagai seorang yang membela kejahatan.

Narasoma kebetulan lahir dan dibesarkan di suatu negri bernama Mandraka, yang memegang budaya dan anggapan bahwa pernikahan campuran adalah sebuah aib. Apalagi bila sampai berhubungan dengan ras bangsa Raksasa, yang dianggap lebih rendah di negri ini. Hal itu akan menjadi malu keluarga.

Last Updated on Tuesday, 30 October 2012 11:58
Selengkapnya..
 
KPK-Polri ala Karna-Salya PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 18 October 2012 09:03

Membaca majalah Tempo minggu ini, ada hal menarik ketika mencermati berita tentang kisruh KPK-Polri yang belakangan begitu kentara dipertontonkan di panggung politik negri ini. Detik-detik menjelang Presiden memberi pidato dalam mengambil keputusan untuk mengelola perkembangan yang terjadi, sehari menjelang ternyata masih hangat perdebatan dan adu argumentasi antara Ketua KPK dan Bapak Kapolri dalam upaya memberi penjelasan dari perspektif hukum dan etika bahwa apa yang institusi mereka masing-masing lakukan adalah benar.

Satu lagi yang menjadi perhatian saya ketika membaca berita itu, adalah bahwa hari ketika kedua pemimpin institusi terhormat itu saling berbeda pendapat, beliau berdua sama-sama tengah menjalankan ibadah puasa. Nah!

Last Updated on Thursday, 18 October 2012 09:11
Selengkapnya..
 
Antara Jokowi, Kresna dan Petruk PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 01 October 2012 09:27

 

Perhitungan resmi KPU untuk pemilihan gubernur DKI tahun 2012 ini sudah paripurna. Dan memang benar sesuai dengan prediksi hitung cepat. Maka Jokowi pun segera bersiap menjadi gubernur baru di ibukota Indonesia ini, dengan segudang problematikanya.

Semua pun terhenyak, ada yang menggagas, menganalisa. Sebuah fenomena baru terjadi. Dukungan partai politik tidak lagi menjadi tolok ukur seseorang pasti terpilih memimpin. Wajah ganteng wibawa gaya seorang pemimpin bukan lagi jaminan dialah sang pemimpin. Rakyat ibukota ternyata lebih suka memilih seseorang yang tidak mau dikawal, makan seadanya dipinggir jalan, dan tidak lebih gagah dari ajudannya.

Pak Jokowi adalah seorang biasa. Tapi justru biasa-nya adalah luar biasanya. Saya pertama kali mengenal beliau sekitar tahun 2003. Sebuah perhelatan digelar kala itu sekedar untuk acara temu kangen antar teman. Pak Jokowi diundang karena yang punya gawe ketika itu adalah calon Wakil Walikota Solo, pak Rudy, sementara pak Jokowi adalah calon Walikota-nya. Dan saya dilibatkan karena kebetulan saya dan pak Rudy pernah bersama bekerja, susah dan senang bersama. Dan saat itu saya dan pak Jokowi duduk bersebelahan. Sejenak berjabatan tangan berkenalan. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Saat itu saya juga berpikir beliau terlalu biasa untuk seorang calon walikota.

Last Updated on Thursday, 04 October 2012 11:34
Selengkapnya..
 
« StartPrev123NextEnd »

Page 1 of 3
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo