|
Memperkuat Integritas Membangun Sinergi |
|
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Saturday, 04 May 2013 12:55 |
(Tulisan dibawah adalah artikel yang saya buat dan dimuat di majalah internal perusahaan tempat saya bekerja. Saya pikir tak ada buruknya tulisan ini untuk juga dibagi ke semua, mengingat di dalamnya berisi perspektif nilai-nilai yang bersifat universal dan tak ada materi tulisan yang dapat mengganggu prinsip kode etik tugas dan tanggung jawab saya sebagai karyawan perusahaan)
Memang tidak mudah mencerna pesan apa yang disampaikan Ust. Wijayanto ketika itu. Ada yang larut dengan guyonannya, ada yang kemudian tak henti berdiskusi mencoba memahami. Bagi saya juga tak mudah untuk memahami apa itu integritas, apa itu sinergi. Ketika kita mulai terang menjamah pemahaman itu pun terkadang agak sulit juga hal itu kemudian bisa dijelaskan kepada orang lain dengan kalimat sederhana yang mudah dimaknai. Saya ingat kalimat bijak Albert Einstein: ‘If you can’t explain it simply, maybe you don’t understand it well enough..’. Integritas dan Sinergi memang mungkin tak akan bisa mudah menjadi sebuah definisi. Saya termasuk yang setuju bahwa Integritas dan Sinergi lebih mudah dipahami dengan sebuah keteladanan. Dan itu juga tidak mungkin terjadi secara instan.
Ada hal yang sempat saya catat saat ceramah itu yang mencoba memberi penekanan dari perspektif yang sedikit berbeda tentang makna Integritas. Yang diberi jabaran: Demonstrate Honesty, Keeps Commitment dan Behave Consistently.
|
|
Last Updated on Saturday, 04 May 2013 13:06 |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Friday, 15 February 2013 17:50 |
Sebagian besar perempuan berkerudung itu seperti terlihat canggung ketika harus memasuki Music Room Hotel Sunan Solo. Dan rasa kikuk mereka pun cair ketika acara dimulai dan Gus Candra Malik dengan senyum mengembang berkata bahwa kalimat kalimat Allah seharusnya menjangkau semua tempat dibumi ini, agar tak ada lagi kecurigaan.
Adalah suatu siang di hari Selasa, 12 Februari 2013. Suasana mendung gerimis di luar sama sekali tak tercium murungnya sampai ke Ruang Music Room yang terletak di pojok temaram area basement bangunan hotel. Dan kesan menentramkan pun segera menyeruak ketika Gus Candra membuka acara dengan lagunya “Seluruh Nafas”. Terasa sekali getar suasana religi menghapus prasangka atmosfir Music Room saat mulai syair itu terdendang. “..Bila kau sebut nama Allah terus-menerus dan tak berhenti.. Maka Kasih dan Sayang-Nya pun menyatu denyut nadi dan darahmu.. “
Sungguh sebuah kehormatan bagi saya, Gus Candra meminta saya untuk menjadi salah satu pembicara pada siang itu. Membedah buku tulisannya berjudul “Makrifat Cinta”. Menemani pembicara lain yang tentunya lebih mumpuni bila diminta bicara secara keilmuan tentang Tasawuf dan semacamnya, Ustadz KH Dian Nafi, pengasuh pondok pesantren Al-Muayyad, Windan, Solo. Dipandu oleh moderator, seorang penulis dan pembawa acara dari kota Yogyakarta, mas Puthut EA.
|
|
Last Updated on Friday, 15 February 2013 18:12 |
|
Selengkapnya...
|
|
Pelajaran Adam Lanza bagi semua Keluarga |
|
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Wednesday, 26 December 2012 11:07 |
Banyak orang Indonesia silau dengan negri Amerika. Sebagian ada yang bahkan berandai bisa hidup di sana. Negri yang menjunjung tinggi kebebasan katanya. Rujukan tentang bagaimana demokrasi seharusnya dipraktekkan. Banyak negri yang juga membuat semacam road-map dengan pernak-pernik perikehidupan yang mengacu pada model negri Amerika sebagai rumusan. Tapi benarkah negri ini memang sebuah negri impian? Tragedi yang baru saja terjadi di Connecticut tentang seorang Adam Lanza, yang pada usia belianya –entah apa yang ada di benaknya- membunuh orang-orang di tengah kehidupan kota yang damai dan tentram, seharusnya membuat kita semua bertanya, benarkah model kehidupan negri Amerika memang bisa dijadikan acuan? Apakah kejadian itu hanya sebuah anomali serba kebetulan, ataukah memang Adam Lanza adalah puncak gunung es sebuah tata kehidupan negri yang sebenarnya sedang sakit?
|
|
Last Updated on Wednesday, 26 December 2012 11:11 |
|
Selengkapnya...
|
|
Generasi Muda Indonesia bukan Lesmanamandrakumara! |
|
|
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Saturday, 03 November 2012 10:24 |
Anda bisa jadi melihat saya sebagai orang yang terlalu optimis, atau mungkin melempar angan-angan. Tapi sungguh, ditengah hingar bingar media pemberitaan tentang negri kita sendiri yang membuat banyak orang memandang Indonesia sedang carut-marut, krisis sosial, ekonomi, dan sebangsanya, saya kok melihat secara berbeda. Kita bangsa Indonesia sebenarnya secara perlahan tapi pasti sedang bergerak menyongsong era kebangkitan negri kita sebagai negara maju! Di tengah proyeksi negara maju yang semakin murung dan tak pasti, bangsa Indonesia sedang yakin menuju kebangkitannya. Semua faktor untuk mendukung itu semua tampak nyata, hanya tinggal satu yang tersisa, kemauan kita untuk bergerak ke sana!
Mari kita bicara data. Data yang konon berasal dari lembaga terhormat yang melewati berbagai proses validasi yang tak sederhana. Tak ada alasan untuk meragukan data ini. Saya bukanlah seorang ahli ekonomi makro, tapi saya pikir tak begitu sulit mengenali dan menggagas data-data tersebut.
|
|
Last Updated on Saturday, 03 November 2012 10:33 |
|
Selengkapnya..
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Friday, 04 May 2012 08:23 |
Ada yang menarik sempat saya catat pada acara diskusi tadi malam. Bahwa setiap orang sebaiknya mampu menemukan ‘irama’ dalam dirinya. Itulah yang akan membantu kita menemukan keseimbangan diri, sehingga bisa hidup secara berkualitas, memiliki ketenangan hati dan pikiran. Semakin menarik ketika sang narasumber mendefinisikan apa itu irama. Karena ternyata sesuatu bisa dikatakan ber-‘irama’ ketika disana terdapat paduan kombinasi harmoni antara suara dalam sebuah nada, dan suara keheningan. Nah!
Dia istilahkan dengan sebutan ‘Sound of silence’. Kenihilan sebuah suara ternyata adalah salah suatu suara yang penting, yang berkontribusi sehingga tercipta sebuah harmoni. Lebih jelasnya, beliau membandingkan ketika saat kecil di Inggris limapuluhan tahun yang lalu. Dimana suara yang terbentuk dan terdengar di telinga di sepanjang kehidupan, ketika berangkat ke sekolah, saat bermain, lebih banyak didominasi oleh suara ‘alam’. Burung berkicau, gemericik air, gemeresak daun ditiup angin, suara teratur yang keluar dari seorang pandai besi saat menempa. Semua itu berpadu, dan tanpa sadar kadang membentuk alunan melodi senandung diri yang spontan. Sambil berangkat ke sekolah, sepanjang jalan dia bersenandung dengan kombinasi nada dan diam, yang bisa jadi selalu berganti-ganti saban harinya. Itulah yang kemudian membentuk irama dalam diri. Mempengaruhi bioritme, dan pada akhirnya selalu menjaga keseimbangan dan kesehatan fisik dan jiwa. Hal itu kemudian dia bandingkan dengan keadaan sekarang, dimana suara menjadi semakin individu dan bising. Banyak orang kemudian menjaga jarak dengan kebisingan sekitarnya, memakai ear-phone di telinga untuk mendengarkan lagu. Alhasil, di tambah suara latar yang gemuruh kebisingan kehidupan kota seakan tak pernah henti, suara keheningan itu seolah hilang. Semakin sulit mencipta komposisi irama yang lengkap karena ketiadaan suara keheningan. Sehingga semakin sulit orang menemukan irama dalam dirinya.
|
|
Last Updated on Friday, 04 May 2012 08:31 |
|
Selengkapnya..
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 12 |