pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..pelajaran penting dari wayang mas Pitoyo Amrih!!"
Imam Subchan


Home
Seri Tuhan Selalu Berbicara
Meyakini Pendengaran .. Semua Berakhir Kepada Tuhan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 06 October 2001 07:00

Bila saya melihat atau kebetulan diperlihatkan sebuah momen di mana ada seseorang yang meninggal, entah itu langsung yang terjadi pada orang di sekitar saya, ataupun tidak langsung yang bila kita melihat rasanya semakin hari menjadi semakin biasa berita kematian baik di surat kabar, majalah, televisi. Saya terkadang bertanya dalam hati dengan sebuah pertanyaan yang menurut saya tak seorang pun mengetahui benar -kecuali dari petunjuk-petunjuk tuntunan agama yang tentunya dibuat oleh-Nya sebatas pada 'supaya bisa dijangkau' pikiran manusia-, yaitu: Apakah yang terjadi dengan mereka (orang yang meninggal itu)? Seandainya salah seorang dari mereka bisa menyampaikan sebuah berita kepada kita yang masih di dunia ini, kira-kira berita baikkah, sehingga membuat kita rindu ingin segera ke 'sana'. Atau kengeriankah, sehingga dari hari ke hari kita akan dihantui sebuah perasaan yang sangat lucu yaitu 'takut mati' (karena bagaimanapun juga suatu saat mati akan menjemput kita).

Last Updated on Friday, 06 August 2010 19:57
Read more...
 
Meyakini Pendengaran .. Semua Menuju Ke Kesetimbangan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 06 December 2001 07:00

Sekali waktu kalau anda mau, saya minta anda untuk 'iseng' sejenak yaitu menendang bola di dalam sebuah lapangan bola, sekeras mungkin! Kita bisa bayangkan, bola akan melambung, menyentuh tanah, melambung kembali, menyentuh tanah, mungkin melambung lagi, mungkin memantul dinding, mungkin memantul pohon, masuk parit atau banyak kemungkinan lagi 'polah' gerakan bola tadi sampai kemudian suatu waktu diam. Secara fisika mungkin bolehlah dijelaskan bahwa diamnya bola adalah karena resultan gaya-gaya terhadapnya membuat bola diam. Tetapi apa pun itu yang jelas pada suatu waktu bola akan kembali diam. 

Saya yakin diamnya bola adalah salah satu bentuk kesetimbangan yang bisa kita jadikan contoh dalam hal ini. Hanya saja saya ingin memberi garis bawah bahwa bentuk kesetimbangan tidak selalu dalam bentuk diam. 

Last Updated on Friday, 06 August 2010 20:51
Read more...
 
Meyakini Pendengaran .. Semua Tak Pernah Sama PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 06 January 2002 07:00

Pada mulanya saya sempat bingung dalam mencari judul untuk penyampaian ide saya kali ini. Setelah berbagai alternatif, akhirnya saya pilih judul seperti di atas, semoga bisa ketangkap makna ide yang saya maksud. Kata-katanya mirip benar dengan salah satu lirik lagunya Padi, salah satu kelompok musik yang lirik-liriknya hampir selalu memberikan inspirasi di kepala saya.

Pada tulisan sebelumnya saya sempat menyinggung sebuah semangat kepekaan pen'dengar'an kita terhadap sebuah perubahan. Pada tulisan ini saya memakai istilah 'semua tak pernah sama'. Sekilas rada mirip memang. Tapi bolehkan saya berbagi pemikiran saya bahwa bagi saya keduanya sama sekali beda, yang bahkan bisa jadi pada wilayah-wilayah tertentu bisa menimbulkan pemikiran yang tampaknya bisa bermakna paradoks satu sama lain.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 20:54
Read more...
 
Meyakini Pendengaran .. Manusia pun Tak Pernah Sama PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 06 February 2002 07:00

Dikisahkan terdapat seorang arsitek muda, sukses di kariernya, hidup bersama istri dan anaknya. Tahun demi tahun membuat kesibukan kantornya semakin bertambah sampai hampir tak ada waktu lagi dilewatkan bersama keluarga. Kemudian timbul ide gilanya dimana dia bersedia menjadi obyek percobaan kloning di sebuah lembaga penelitian. Dengan metode akselerasi pertumbuhan jadilah si arsitek ke dua sama persis dengan dirinya sang arsitek pertama. 

Maka sang arsitek pertama melewatkan banyak waktunya di rumah, sedang sang arsitek kedua khusus konsentrasi di pekerjaan kantor. Masih belum puas dengan itu, si arsitek pertama kembali mengkloning dirinya karena merasa tidak bisa menikmati hidupnya, dimana hari-harinya selalu dipenuhi kerepotan dengan istri dan anaknya yang masih kecil. Jadilah arsitek ke tiga, yang kemudian bertugas khusus kegiatan di rumah. Sedang arsitek pertama melewatkan waktunya lebih banyak dengan hobinya. Arsitek pertama, kedua dan ketiga pada saat awal memiliki kepribadian yang sama persis karena toh 'dibuat' dari 'cetakan' yang sama yaitu arsitek pertama.

Apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Arsitek pertama menjadi bosan dengan kehidupannya karena melewati hari-harinya dengan hal yang itu-itu juga. Arsitek kedua kelihatannya bisa menikmati hidupnya pada kesibukan kantor, tapi karakternya telah berbeda sama sekali dengan arsitek pertama. Dimana arsitek kedua telah mejadi orang yang workalholic, sangat rasional, dan selalu menghindari hal-hal yang melibatkan emosi. Arsitek ketiga pun yang lebih banyak melewatkan waktunya dengan keluarga telah berubah menjadi orang yang perasa, pandai memasak dan mengurus rumah, selalu rapi dalam penampilan.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 20:57
Read more...
 
Meyakini Pendengaran ... Memanen Harta yang Ditanam PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 06 March 2002 07:00

Mendekati masa-masa pensiunnya, Ayah mertua saya saat-saat ini sedang giat-giatnya mencoba merintis kegiatan bercocok tanam. Dengan menyewa lahan di daerah pinggiran kota Yogya, mencoba menghimpun anak-anak muda putus sekolah, modal seadanya dan kemauan untuk belajar, beliau memulai bercocok tanam bawang merah kurang lebih setahun yang lalu.

Apa yang menjadi tujuan beliau dengan kegiatan ini, berdasarkan apa yang saya tahu kurang lebih mencoba menggeluti dunia pertanian sehingga menjadi kegiatan yang produktif, paling tidak keuntungan yang di dapat bisa untuk memberdayakan orang-orang muda di sekitar tempat lahan pertanian agar bermanfaat bagi mereka.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 20:59
Read more...
 
Meyakini Pendengaran .. Semua Tak Pernah Sia-sia PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 19 March 2002 07:00

Pada tulisan lalu saya ajak anda untuk mendengar sebuah bicara-Nya bahwa semua hal yang kita pikirkan, kita ucapkan, kita lakukan dan kita alami sebagai konsekuensinya adalah seperti layaknya kegiatan bercocok tanam. Yang permenungan lebih jauhnya saya sependapat dengan Frances H Burnett dalam salah satu novelnya yang menyatakan :”If you look in the right way, you will see that the whole world is a garden….”. Sebuah garden yang hasil akhirnya sangat tergantung bagaimana kita dalam menanamnya.

Keyakinan akan pendengaran ini kalau saya coba tarik garis lurus lebih dalam lagi, ternyata sampai kepada sebuah pengertian akan bicara-Nya bahwa semua ini tak pernah sia-sia. Ya..betul, apa pun yang telah anda pikirkan, katakan, lakukan dan alami tidak akan pernah sia-sia.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 22:17
Read more...
 
Meyakini Pendengaran .. Things Aren't Always As They Seems.. PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 29 March 2002 07:00

Sengaja judul di atas tidak saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia, selain karena lebih ringkas sehingga baris judul tidak terlalu panjang seperti bila saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia, juga karena kalimat di atas serasa lebih ‘familier’ terdengar di telinga bila terucap dalam bahasa Inggris. ‘Things aren’t always as they seem’ saya pikir juga sebuah pengertian yang sering diucapkan untuk mengingatkan seseorang bahwa memang apa yang kita lihat (‘lihat’ dalam hal ini menyangkut semua panca indera, sehingga bisa berarti juga dengar,  rasakan, baui, dsb) belum tentu seperti yang sebenarnya terjadi.

Dan ini sungguh bagi saya sebenarnya bisa dirasakan juga merupakan salah satu bentuk ‘bicara’-Nya. Kenapa demikian ? Karena memang pada kenyataannya bahwa hampir selalu manusia menilai sesuatu berdasarkan hanya dari yang di-‘lihat’. Dan hampir selalu kemudian, bahwa penilaian tadi tidak seperti apa yang sebenarnya atau seharusnya. Sehingga seolah-olah secara logika mengandung pengertian bahwa Tuhan mencipta lewat ‘bicara’-Nya untuk ‘menguji’ manusia akan apa yang di’lihat’. Yang mana permenungan selanjutnya ber-’ujung’ kepada belum tentu apa yang kita ‘lihat’ adalah memang itu bicara-Nya.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 22:21
Read more...
 
Meyakini Pendengaran .. Hidup Itu (Mungkin) Mampir Ngombe.. PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 06 April 2002 07:00

Pada jaman dahulu, masyarakat komunitas pedesaan di Jawa mempunyai semacam kebiasaan untuk menyediakan kendi tempat air minum di halaman rumah. Air minum dalam kendi ini setiap pagi hari selalu diperbarui. Air minum ini sengaja disediakan untuk para musafir yang bisa jadi haus dalam menempuh perjalanannya. Hal ini adalah semacam simbol wujud penghargaan tuan rumah terhadap perjalanan yang dilakukan terhadap musafir tadi. Sang musafir tidak perlu repot-repot mengetuk pintu untuk menemui tuan rumah hanya sekedar untuk minta minum, yang bisa jadi menyita waktu perjalanannya. Karena biasanya musafir jaman dahulu hanya berhenti untuk beristirahat bila telah sampai tujuan atau sudah memasuki jelang malam.

Sehingga yang dilakukan sang musafir hanya sekedar mampir ngombe (berhenti untuk minum) kemudian segera pergi. Sesuatu yang sangat singkat. Yang kemudian istilah ‘mampir ngombe’ ini kemudian dipakai oleh para pujangga tanah Jawa pada jaman dahulu untuk menggambarkan bahwa betapa singkat hidup yang kita lalui di dunia ini di bandingkan ‘perjalanan’ itu sendiri.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 22:25
Read more...
 
Meyakini Pendengaran .. Manusia Boleh Memilih PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 22 April 2002 07:00

Dari apa yang saya ketahui,  hal mendasar yang membedakan kita manusia dengan makhluk lain di muka bumi ini adalah anugerah untuk kita atas bicara-Nya, bahwa kita manusia punya kemampuan untuk menjatuhkan pilihan.

Seekor harimau dari jaman pra-sejarah sampai sekarang tetap menjadi perannya seperti sekarang yang menjadi bagian dari keseimbangan ekosistim alam. Sang harimau atas bicara-Nya tak akan pernah berkehendak untuk memilih misalnya merubah strategi berburunya sehingga lebih efisien. Atau misalnya berkehendak memilih untuk mencoba makan daun-daunan agar siapa tahu lebih bermanfaat ketimbang daging. Hal ini sama dengan jutaan spesies hewan, baik yang masih survive hidup sampai sekarang maupun yang atas ketidakmampuan memilih,  sebagian dari mereka punah.

Pohon mangga atas bicara-Nya akan selalu tetap berbuah mangga. Pohon mangga tak akan pernah berkehendak untuk memilih misalnya berekayasa supaya menghasilkan buah berganti-ganti sesuai musim (buah) nya agar manusia tak pernah berpikir untuk menebangnya.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 22:28
Read more...
 
« StartPrev12345NextEnd »

Page 3 of 5
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo