pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku bukunya pak Pitoyo keren keren, cerita wayangnya dimuat dalam novel yang sangat menakjubkan!"
Nanang Roedy Wibowo


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
I'm Sure I'm not The Only One PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 28 January 2003 07:00

Mengikuti ‘rentetan’ tulisan saya, pernah suatu ketika salah seorang teman saya dengan antusias bertanya kepada saya “Gimana sih cara berpikir agar bisa nulis ?”. Tentunya yang dia maksud adalah secara spesifik pengin tahu bagaimana cara menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Yang mana terhadap jawaban saya waktu itu jujur saya katakan saya pun tidak begitu yakin apakah itu memang yang seharusnya.

Dengan berlagak se-elegant mungkin dalam menjawab, sebenarnya jawaban saya waktu itu kurang lebih menyadur dari tulisannya Mike Rich ketika salah seorang tokohnya William Forester berkata, “ …the key of writing is not to think what you will write, but to write what you are thingking…”. Dan untungnya dia juga belum pernah dengar perkataan tadi jadi gaya sok elegant saya cukup sempurna tanpa ketahuan bahwa saya hanya menyadur (he..he..he).

Saya tidak tahu persis mengapa Tuhan menciptakan sebuah sistem sedemikian rupa sehingga sampai kepada keberadaan kita saat ini. Dan kemana pun ujung permenungan sistem tadi, selalu sampai pada dimana kita semua manusia seharusnyalah berinteraksi satu sama lain saling berkomunikasi dalam rangka menggali rahasia alam semesta ini, dalam rangka menggali sistem Tuhan tadi, dalam rangka menggali atas pendengaran kita akan bicara-Nya.

Sebuah komunikasi antar manusia pada dasarnya menurut saya adalah sebuah sharing antar manusia dalam mendengar bicara-Nya. Sebuah contoh misal komunikasi antar seorang dokter dengan pasiennya, tidak lain adalah sharing hasil si dokter dalam mendengar bicara Tuhan mengenai ilmu kesehatan manusia (yang secara kental di tempuh melalui kuliahnya) kepada sang pasien yang juga mendengar bicara Tuhan melalui sakit yang dideritanya. Atau misal komunikasi yang berujud pertengakaran mulut antara seorang pedagang kain dan calon pembelinya mengenai masalah harga dan kualitas barang yang dijual. Dimana sang penjual tidak lain men-sharing apa yang dia dengar atas bicara-Nya mengenai barang yang dia jual dan si pembeli juga demikian atas hak-hak yang seharusnya diperolehnya dalam membeli barang. Hanya mungkin bentuk sharing-nya menjadi semacam saling memaksakan apa yang masing-masing dengar atas bicara-Nya adalah yang paling benar, diwujudkan dari pertengkaran mulut tadi.

Dari bentuk yang paling sederhana berupa bahasa Tarsan seperti yang dilakukan nenek moyang kita beribu tahun yang lalu, bahasa verbal dengan segala macam ragamnya dari yang ‘telanjang’ sampai yang paling terbalut rapi –semacam yang dilakukan John F Kenedy dan Kurschev dalam sama-sama mencegah perang dunia ketiga saat Cuban Missile Crisis- , bahasa yang diwujudkan dari tingkah-laku kita dalam merespon sesuatu sebagai wujud pendengaran atas bicara-Nya, yang diwujudkan melalui alat bantu berupa gambar, tulisan, model, patung, puisi, dsb. Atau misal seperti angan-angan sebagian dari kita memakai semacam media telepati, sehingga apa pun yang ada di kepala kita ketika kita niatkan untuk diketahui orang lain, cukup konsentrasi dan..bang!…sampailah informasi itu semuanya di kepala orang lain tadi.

Sehingga harapannya kita dalam mendengar bicara-Nya, dapat melakukan check, re-check, cross-check dan balance-check atas pendengaran kita melalui penglihatan kita terhadap apa yang orang lain dengar melalui komunikasi. 

Bagi saya begitulah seharusnya, apa dan bagaiman pun keyakinan kita atas apa yang kita dengar akan bicara Tuhan, sudah selayaknya kita manusia untuk juga berusaha melihat apa yang orang lain dengar. Memang ada orang yang dengan mudah mau ‘memperlihatkan’ apa yang dia dengar, tapi ada juga orang yang karena alasan tertentu selalu menyembunyikan pengetahuan yang dimilikinya.

Saya berusaha menjadi orang yang melakukan sesuatu agar orang dengan mudah bisa melihat apa yang saya dengar atas bicara-Nya. Bahkan melalui ‘alat bantu’ yang coba saya buat, tulisan saya, lukisan-lukisan saya, hasil pekerjaan saya, dsb.

Sehingga pemikirannya sampai kepada bahwa mustinya ‘alat bantu-alat bantu’ yang saya buat tadi mustinya tidak hanya diwujudkan melalui pikiran tapi juga hati yang ikut mejadi saksi atas bicara-Nya. Sehingga saya pikir tidak berlebihan ketika seseorang bingung mikir kira-kira pengin nulis apa. Jawaban Forester di atas cukup mendasar yaitu menulis adalah “To write !!” bukan “To Think”.

Moga-moga teman saya berlanjut niatannya untuk menulis, karena saya membayangkan sungguh indah jika semua dari kita mau untuk berusaha melihat apa yang orang lain dengar dan berusaha juga memperlihatkan juga apa yang kita masing-masing dengar atas bicara-Nya. Sehingga dalam berbagi hidup di dunia ini tak perlu lagi ada prasangka, saling menyalahkan, berusaha merasa paling benar…beserta seluruh implikasi-implikasinya.

Well,..seperti kata John Lenon,…”You migh say I’m a dreamer…but I’m not the only one…”.

I’m sure you are not the only one, Mr Lenon… ada saya, teman saya tadi, dan anda,  mungkin ?

 

2002

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 22:05
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo