pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Bintang 5 untuk Novel Resi Durna!"
Ulil Ananta


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
Bangku Depan Selalu Kosong.. PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 24 December 2002 07:00

Setiap kali saya mengajar, dimana kebetulan saya juga dimintai tolong pada waktu luang di luar jam kerja untuk membantu memberikan materi kuliah di salah satu perguruan tinggi di Solo, ada hal menarik yang sempat saya perhatikan yaitu…selalu saja bangku deret depan kosong!

Karena budaya timur yang begitu melekat pada mahasiswa saya, mungkin saya bisa mengerti ketika pertemuan pertama semester ini beberapa bulan yang lalu hal tersebut terjadi. Yang pada dasarnya sepertinya mereka takut ketika duduk di bangku depan. Takut kalau ditanyai (karena duduk depan tentunya lebih mudah untuk kelihatan), takut kalau dimintai tolong, atau mungkin juga takut kecipratan titik-titik air dari mulut saya kalau mereka duduk tepat di depan saya ketika saya ngomong. Atau ketakutan-ketakutan lain yang saya tidak pernah ngerti kenapa.

Pada pertemuan pertama tersebut, saya kemudian meminta dengan sangat mereka untuk mengisi bangku deret depan. Saya jelaskan kepada mereka bahwa mereka ‘have nothing to worry’ jika terlalu dekat dengan tempat saya berdiri mengajar. Dengan ogah-ogahan mereka pun patuh. Sebenarnya bagi saya bukan maksud untuk ngerjai mereka atau apa, karena pada dasarnya sebuah kelas perkuliahan semestinya berlangsung komunikasi verbal antara semua orang yang terlibat. Dan efektifitas dari komunikasi, saya pikir akan lebih baik jika kita bisa paling tidak mengeliminir atau mengurangi salah satu kendala komunikasi verbal langsung yaitu…jarak! Pada pertemuan pertama itu saya pun belum begitu masuk ke bahan perkuliahan, saya lebih berusaha mengakrabkan diri dengan mereka dengan harapan ketakutan seperti asumsi saya di atas bisa berkurang. Tampaknya pun mereka semakin enjoy dengan situasi kuliah yang saya bawakan.

Tapi aneh bin ajaib, pada pertemuan kedua seminggu berikutnya, hal yang sama terjadi, bangku deret depan kembali kosong! Sepertinya mereka kembali baru mengenal saya pada pertemuan kedua ini. Kali ini saya sengaja ngomong rada pelan sambil tetap berusaha membuat suasana sesantai mungkin. Dan cukup berhasil, beberapa yang duduk belakang secara sukarela pindah ke paling depan ketika mereka merasa suara saya tidak terdengar.

Pada pertemuan ketiga minggu berikutnya, hal yang sama terjadi lagi! Entahlah, seolah-olah giliran berbagi ilmu, budaya kita lebih cenderung membawa kita untuk memilih ‘duduk dibelakang’ sajalah, kalau ada ‘tribune’ ya tribune saja. Sukur-sukur kalau bisa sambil duduk di luar, pokoknya lulus. Sehingga parameter sebuah penguasaan ilmu bukan lagi pada tahu atau tidak tahu, tapi kepada lulus atau tidak lulus. Dan ritual ini pun berlanjut pada pertemuan minggu-minggu berikutnya dimana bangku deret paling depan paling tidak pasti lebih kosong dari paba bangku deret-deret berikutnya.

Saya pikir tidak ada hal yang salah dalam sopan santun adat timur kita, dimana hal itu sebagai bentuk respons saling menghargai seseorang terhadap orang lain. Tapi entah kenapa lingkungan tempat mendidik kita untuk berbudaya justru membawa kita kepada sikap yang terlalu membuat jarak antara orang yang lebih tahu (baca: orang yang lebih tua) dengan orang yang tidak. Sehingga sengaja dibuat tabir antar keduanya supaya yang tidak tahu tetap tidak tahu, sehingga yang tahu tetap pada posisi yang lebih tahu. Akibatnya pun bisa sampai kepada rasa kurang percaya diri pada yang belum tahu, minder..bahkan untuk duduk di depan sekali pun dalam rangka agar pengetahuan yang di dapat lebih mudah.

Lebih lucu lagi ketika pada budaya belajar-mengajar di bangku kuliah, sistem telah membawa ‘pengetahuan’ menjadi lebih tidak penting ketimbang ‘kelulusan’. Seolah mendidik orang yang tadinya ‘hanya’ sebatas minder, untuk menjadi apatis, amat sangat pragmatis, sehingga dalam kondisi tertentu akan selalu muncul sikap opportunis.

Mungkin anda yang membaca tulisan saya ini menduga saya agak ‘marah-marah’ dalam menulis. Hanya saja kalau anda bertanya kepada saya bahwa kita harus marah kepada siapa karena kondisi ini, saya pun juga bingung untuk menjawabnya. Sampai sekarang pun ‘lingkaran-pengaruh’ saya masih sebatas hanya pada memberikan materi kuliah dengan sebaik-baiknya, sambil memberi nilai-nilai yang entah mereka bisa nangkap apa tidak semacam berusaha hadir tepat waktu, berusaha menepati janji, berusaha berkata jujur (saya pikir masih banyak dosen bila ditanya tidak tahu, justru membuat jawaban serumit mungkin supaya tidak ada kesan tidak tahu dan membuat supaya mahasiswa semakin tidak ingin tahu).

Ah, tapi mungkin juga ‘Things aren’t always as they seems’….

 

2002

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 22:02
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo