pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku yang benar benar mengesankan!!"
Nanda Baskoro


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
Akankah Kita Cukup 'Abundance'? PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 06 December 2002 07:00

Pernah suatu ketika saya begitu tertarik akan kira-kira apa yang dipikirkan oleh seorang teman saya. Setiap saya bertemu dia, selalu saja pembicaraannya tidak jauh dari ‘mengapa si anu mobilnya bisa lebih bagus dari saya’. Atau ‘kok bisa ya si anu bisa beli rumah sebagus itu’. Bahkan semacam ‘andai saja saya dapat hadiah semilyar’. Atau bahkan yang lebih “parah” lagi pernah dia bercerita tentang tetangganya yang ‘kok bisa tetangganya yang tidak begitu ganteng bisa beristri cantik’.

Dari kacamata saya sebenarnya tidak ada yang kurang dari temen saya yang satu ini. Rumahnya sudah cukup mewah bagi saya, mobilnya dua dan dua-duanya juga jauh terlalu mewah bagi saya. Dari kecil saya pikir dia selalu berkecukupan mengingat dia adalah anak tunggal dari orang tua yang berada. Istrinya…seharusnya menurut saya dia musti selalu bersyukur diberi kesempatan oleh-Nya istri yang sederhana dan pengertian. Hanya saja dia selalu melihat orang lain lebih beruntung dari dia. Sehingga seolah-olah dia tidak kunjung berhenti untuk selalu bertanya akan bicara Tuhan yang terdengar kurang begitu ‘merdu’ bagi dia.

Hal ini menarik bagi saya karena saya jadi teringat akan konsepnya Stephen Covey tentang abundance mentality dan scarcity mentality.

Dari pengertian saya, scarcity mentality adalah sebuah mentalitas dimana apa yang ada di dunia ini amat sangat terbatas dan kita harus berebutan dalam mendapatkannya. Bagus sekali dimana Covey menggambarkannya dengan sebuah kue pie, dimana misal ketika orang lain sudah mendapatkan separuh lebih bagian potongan pie, seolah-olah kita berebut sisa bagian tadi.

Sehingga yang terjadi kemudian adalah semacam mentalitas yang selalu mempertanyakan kenapa orang lain mendapat ‘potongan pie’ yang lebih besar, dan kenapa saya harus berusaha memperebutkan ‘potongan pie’ sisanya. Mentalitas semacam ini yang kemudian mendorong ungkapan-ungkapan semacam ‘waduh, dia memiliki lebih banyak uang dari saya’, atau ‘waduh, dia karirnya lebih bagus dari saya’, atau ‘cilaka bener, dia lebih pinter dari saya’, dan lain sebagainya.

Yang implikasinya pun bisa merentang dari yang positif seperti misalnya kemudian memacu diri untuk mendapatkan ‘bagian potongan pie’ yang lebih besar –tapi masih tetap dalam mentalitas supaya jangan sampai mendapatkan ‘potongan kecil’ dalam berebut sebuah ‘pie’-. Sampai yang menjurus negatif dimana kemudian yang terjadi adalah prasangka jelek sebagai bentuk ‘pelipur’ bahwa ‘potongan pie’ yang orang lain peroleh adalah melalui cara-cara yang tidak benar…’ah, pasti dia korupsi’…’nggak mungkin kalo dia nggak kasih suap’….’mungkin dia lewat “jalan belakang”’…

Yang ujung negatifnya bisa sampai kepada pembenaran akan tindakan untuk mendapatkan ‘potongan pie’ yang lebih besar, yaitu dengan juga harus melakukan ‘kecurangan-kecurangan’ dalam hidup seperti yang diprasangkakan.

Abundance mentality adalah mentalitas dimana selalu melihat daripada kita mempergunjingkan sisa ‘potongan pie’ yang diperebutkan, bahwa apa pun itu selalu saja ‘there is a plenty out there…”. Kita bisa ‘membuat’ pie-pie sendiri dengan merubah cara pandang dalam hati dan pikiran kita akan ‘pie’ itu sendiri.

Tetangga sebelah beli mobil baru,…ah betapa senangnya mereka berkesempatan dalam hidup untuk bisa menikmati mobil baru. Saya ikut senang karena mereka senang. Akankah saya ikut beli mobil baru? Pertanyaannya kemudian adalah butuhkah saya akan sebuah mobil? Yang kemudian berlanjut kepada mampukah saya beli sebuah mobil? Kalau mampu dan kebetulan butuh…ya belilah mobil sebatas kebutuhan, tidak dalam rangka karena tetangga beli mobil sehingga saya harus memperlihatkan bahwa saya juga ‘mendapatkan potongan pie’ paling tidak sama dengan tetangga saya. Kalau belum mampu….barangkali saya harus merenungi lagi arti kata ‘kebutuhan’ agar tidak bias menjadi yang disebut sebagai ‘keinginan’. Mungkin kurang lebih begitu hikmah dari abundance mentality.

Tapi jangan-jangan teman saya ini hanya sekedar tidak begitu mendengar bicara-Nya bahwa semua memang tak pernah sama. Atau tidak begitu mendengar bahwa semua akan berawal dari-Nya dan akan selalu berakhir kepada-Nya yang membawa pengertian pada pembelajaran akan apalah artinya mobil, rumah, kedudukan ketika memang suatu saat itu semua harus berakhir kepada-Nya.

Atau mungkin juga Covey sajalah yang terlalu berimajinasi akan bentuk mentalitas ideal bagi kehidupan manusia,…entahlah…yang jelas sampai sekarang rumah bagus, mobil bagus, karir bagus, uang banyak, dihormati banyak orang, akan masih selalu tampak ‘indah’ bagi sebagian besar orang…

 

2002

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 21:56
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo