pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Saya suka kisah ini, saya pernah tahu kisah ini dari nonton wayang dengan Dalang Ki Mantep Sudarsono"
Yusuf Supriadi


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 29 October 2002 07:00

Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kost, pernah saya tinggal di suatu lingkungan di daerah pinggiran kota yang mungkin bagi sementara orang cukup mengerikan. Hampir setiap malam di depan pintu pagar rumah kost saya selalu berkumpul banyak pemuda dari yang seusia SMA sampai seumuran saya bahkan ada yang beberapa tahun lebih tua dari saya, mereka melewatkan waktu mereka hingga menjelang pagi bermabukan.

Saya mendengar berbagai upaya telah dilakukan agar mereka tidak melakukan hal tersebut oleh para perangkat desa dengan pendekatan terhadap terutama keluarga-keluarga dekat mereka, agar mereka mau membatasi kegiatan tersebut terutama demi menjaga kondisi keamanan desa. Tapi toh hal tersebut selama saya tinggal di sana tidak pernah berubah.

Hampir setiap malam, saya melihat dari kejauhan mencoba untuk melihat dan memikirkan, kira-kira mengapa sampai kemudian mereka memilih untuk melakukan hal demikian. Sampai kemudian suatu malam saya beranikan diri untuk mendekati mereka mencoba berbaur dengan mereka.

Pada awalnya memang situasinya sangat dingin, mereka melihat saya dengan curiga, dan saya ada perasaan takut bila saja keberadaan saya membuat mereka tidak nyaman. Sampai kemudian seseorang dari mereka menyapa nama saya, dan ketika dalam kegelapan saya perhatikan, dia adalah seorang muda yang saya sangat kenal yang pada sore hari membantu pamannya berdagang di warung mie ayam tidak jauh dari situ.

Dari beberapa pembicaraan, mungkin karena saya mencoba selalu bersikap untuk menghargai mereka sebagai sesama manusia siapa pun mereka dan apa pun yang mereka perbuat, mereka pun tampak menghargai keberadaan saya.

Ritual mereka cukup unik, mereka membeli minuman keras beberapa botol, mereka campur dalam satu kan minuman besar, ditambah beberapa botol soft-drink, dan beberapa aroma minuman yang saya tidak mengerti betul. Kemudian kan tersebut diputar bergiliran, sambil ketika melewati seseorang, mereka menuang ke gelas yang mereka masing- masing bawa dan meminumnya, begitu seterusnya sampai minuman dalam kan habis,  mereka oplos kembali, putar kembali, mungkin sampai uang mereka semalam itu habis atau mereka terlalu mabuk untuk bisa berpikir sehingga mereka selesai dengan kegiatan mereka, sebagian pulang, dan sebagian lagi jatuh tertidur di mana dia duduk di pinggir teras tepi jalan. Dan sambil begitu mereka ngobrol sana-sini, sambil makan makanan yang mereka bawa bila ada.

Malam pertama bersama mereka, ketika kan melewati saya, saya berusaha dengan sopan untuk menolak dan meneruskan ke sebelah saya. Awalnya tampak mereka terlihat aneh, tapi ternyata mereka mau untuk menghargai saya yang hanya sekedar ikut ngobrol bersama mereka, tanpa ikut mabuk bersama mereka.

Beberapa kali saya lewatkan malam bersama mereka, saya mulai kenal mereka, dan sungguh mengejutkan…selain mereka semua adalah penduduk asli di desa itu, di siang hari mereka bukanlah tanpa pekerjaan. Sebagian besar mereka adalah pemuda wiraswasta malah dibilang cukup sukses, ada yang pedagang daging kambing dengan pangsa pasar sebagian besar warung sate kambing di kawasan Solo selatan, ada yang pengusaha wartel. Ada yang kelihatannya sederhana yaitu bisnis sampah, tapi bisa memperkerjakan lebih dari sepuluh orang dengan omzet ratusan ribu rupiah per harinya. Beberapa adalah sarjana yang bekerja di perkantoran. Sebagian dari mereka masih kuliah. Memang bisa jadi desa itu boleh dibilang desa yang cukup surplus perputaran uangnya, bisa dibuktikan mereka semua memiliki motor, bahkan beberapa dari mereka bermobil. Dan semakin mengejutkan, mereka membeli minuman dengan cara semacam arisan siapa yang menjadi cukongnya, setiap harinya bisa mencapai seratus ribu rupiah, dan itu uang mereka sendiri bukan dari hasil kegiatan kriminal atau semacamnya.

Beberapa dari mereka, dari pembicaraan mereka sepertinya punya pemikiran-pemikiran yang bagus dalam melihat dunia. Entah itu ide pengembangan usaha, cara mendidik anak, cara memajukan desa, dsb.

Sungguh berada diantara mereka, saya seperti berada pada sebuah dunia dimana semuanya seperti mengalir apa adanya, dan kenikmatan hidup atas jerih payah mereka kebetulan hanya satu di benak mereka yaitu minum minuman keras, secukupnya dan tanpa mengganggu orang lain. Beberapa bulan bersama  mereka tidak seorang pun diantara mereka yang meminta saya uang atau pun mengancam saya. Saya tidak mendapat semacam sangsi karena setiap kali mereka menawari minum saya tolak, dan saya bebas untuk ikut kumpul dengan mereka atau tidak.

Saya yakin bahwa things aren’t always as they seem, dan pengalaman saya di atas adalah salah satu buktinya. Di tengah penilaian buruk terhadap mereka, denial komunitas atas mereka…saya telah belajar sesuatu dari mereka…

Mungkin seperti yang pernah saya sampaikan ungkapan penyair Dante, bisa jadi mereka tidak sepenuhnya lost the right path, tapi mereka hanya sedang‘sampai’ di tempat the most unlikely place….

Komunitas seperti di atas mungkin ada banyak di sekitar kita, komunitas yang saya pikir kita semua setuju bahwa tidak seharusnya berjalan demikian dalam artian bahwa kejadiannya bisa dialihkan ke hal yang lebih produktif atau bermanfaat. Hanya saja untuk mengubahnya, paling tidak kita harus mau untuk juga belajar dari mereka akan apa yang mereka lihat atas bicara-Nya….

 

2002

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 21:48
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo