pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Bagus dan menarik critanya!!"
Bayu Cinta


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
(Tuhan Selalu Berbicara) Kita Hampir Selalu Mendengar Beda (6) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 03 April 2001 07:00

"Apakah Keadilan itu?" Sebuah pertanyaan yang rasanya makin absurd di telinga kita akhir-akhir ini. Tapi sungguh pertanyaan inilah yang mengganggu pikiran Plato beberapa ratus tahun sebelum Masehi. Sebuah pertanyaan yang berawal dari bicara-Nya tentang 'Adil', yang pada detik ini hasil pen'dengar'an kita akan hal ini dahsyat sekali beda-bedanya. Anda boleh melakukan riset kecil terhadap sepuluh orang untuk memberikan pendapat tentang apa itu 'adil', bisa jadi anda malah mendapatkan limabelas macam jawaban mungkin.

Pertanyaan di atas petama kali dicatat memang di-trigger oleh Plato ketika dia melihat bahwa dari sejarah bentuk tiran maupun demokrasi tidak menjawab rasa adil dalam masyarakat negaranya. Kemudian dalam tulisannya 'Republica', Plato menggambarkan sebuah negara utopia yang menurut anggapannya bisa menjawab bagaimana sebaiknya keadilan itu diciptakan. Pada dasarnya dalam negara utopisnya ini Plato menganggap manusia harus berperan sesuai dengan kemampuannya.

Ketika seorang anak lahir, mereka harus dipelihara negara. Kemudian mereka dilatih pendidikan dasar fisik dan pengetahuan alam, pada usia dua puluh tahun kemudian diseleksi. Yang tidak lulus dikembalikan dalam masyarakat untuk menjadi 'orang kebanyakan' semisal petani, pedagang, dsb. 

Yang lulus ikut dalam pendidikan lanjut berupa pendidikan matematika, geometri dan astronomi selama sepuluh tahun.Gagal di tahap ini akan di 'arah'kan untuk menjadi tentara dan pegawai istana. Sementara sisanya akan menerima penerima pendidikan filsafat dan studi tentang ke-tatanegaraan selama sepuluh tahun. Mereka inilah yang kemudian menjadi pemikir negara dan kemudian menunjuk crème de la crème (yang terhebat dari yang paling hebat) sebagai raja untuk memimpin negara tersebut.

Sebuah pemikiran yang dirasa banyak orang mengada-ada, tapi sejarah telah membuktikan pemikiran ini-lah yang telah menginspirasikan terbentuknya hukum pemerintahan kerajaan yang malang melintang selama hampir satu millenium di dataran eropa. Dan bahkan kalau kita rada ke timur sampai ada yang kemudian mencoba 'memerosokkan' diri kepada ide komunisme dan fasisme. Semuanya berawal dari manusia mencoba men'dengar' bicara Tuhan mengenai Keadilan.

Atau lebih nggegirisi lagi ketika 'bicara' Tuhan akan adil yang di'dengar' sehingga membentuk 'hukum' berkamuflase menjadi politik atas ide Niccolo Machiaveli. Sebuah pen'dengar'an akan adil yang sebagian besar orang terasa ganjil (karena demi menciptakan keadilan seorang pemimpin 'justru' harus membuang jauh apa yang disebut pertimbangan moral), yang kemudian secara ekstrim menginspirasikan munculnya tokoh-tokoh 'berdarah dingin' dari sejak Cesare Borgia sampai Adolf Hitler. Dan banyak yang percaya pula bisa jadi ide inilah yang menginspirasikan pemimpin-pemimpin ala Mafia di dataran Italia dan Amerika.

Atau bahkan mungkin bagi saya 'lucu' ketika keadilan diterjemahkan dalam bentuk mengelompokkan orang dari warna kulit seperti yang pernah terjadi di Afrika Selatan dan Amerika pada masa-masa awal usia negaranya. 

Ketika ide-ide untuk menciptakan keadilan kemudian menjadi 'carut-marut' karena ternyata tidak memenuhi rasa adil. Ada sebuah bentuk pencerahan pada saat deklarasi Hak Asasi Manusia yang bisa jadi menjadi ide kenapa bentuk demokrasi yang paling survive untuk saat ini. Yang lagi-lagi ini semua berawal dari 'what things should be' di pemikiran manusia atas 'bicara'-Nya akan Keadilan.

Mungkin bisa jadi anda menganggap saya rada kurang produktif. Tapi sampai saat ini saya 'masih' sampai pada pendapat bahwa keadilan itu 'tercipta', bukan 'diciptakan'. Atau dengan kata lain mungkin bisa saya simpulkan bahwa: "Apa pun keadaan kita saat ini, itulah kondisi adil bagi kita…karena itu datang dari 'bicara'-Nya". Yang menurut logika saya 'justru' seharusnya dasar pemikiran (pendengaran akan bicara-Nya) ini membuat kita untuk selalu berusaha, berusaha untuk menjadi lebih baik, berusaha untuk membuat rasa adil bagi diri sendiri.

Walaupun begitu saya juga setuju bahwa itu semua harus paling tidak didasari sebuah 'aturan main' buatan manusia (yang memang dalam rangka untuk mencoba mengejawantahkan 'aturan-main'-Nya). Yang kita sebut sebagai hukum dengan anak-pinak peraturan yang mengikutinya. Yang meskipun begitu rupanya -mungkin anda juga setuju - praktek akan hal ini masih terasa terseok-seok. Yang mungkin memang bisa jadi karena kesepakatan kita akan 'what thing should be' rasa adil bisa jadi 'terlalu' tunggang langgang di dalam masing-masing alam pikiran kita.

Sejarah telah memberikan banyak pelajaran bagaimana 'beda'- nya kita dalam mendengar bicara-Nya akan keadilan. Di masa mendatang bisa jadi semakin ragam lagi 'beda'nya. Dan saya pikir itulah dinamika selama kita ada kemauan untuk selalu belajar dan membuang jauh bentuk-bentuk pemaksaan kehendak. Mungkin kita umat manusia bergerak lambat dalam hal ini (dibanding hal-hal lain seperti teknologi, industri, dsb) , tapi bolehlah ketika 'sudah' ada semangat semacam: "Nobody is above the law … Everybody is equal before the law ...."

Semoga bukan hanya sekedar kredo agar lembaga peradilan looks cool……

 

2001

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 21:13
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo