pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..saya adalah salah satu penggemar novel wayang hasil karya Pitoyo Amrih!"
Edy Maruto


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
Kita Para 'TAKERS' (1) PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 04 October 2000 07:00

Beberapa hari lalu saya meminjam VCD film berjudul "Instinc" yang dibintangi oleh Anthony Hopkins dan Cuba Goding Jr. Beberapa bulan lalu sebenarnya saya sudah menonton film ini, hanya mungkin keterbatasan pikiran saya dalam menangkap ide, setelah menonton kedua kalinya saya baru bisa merasakan saya menangkap ada sesuatu pesan dalam film itu.

Secara singkat bisa saya jelaskan dalam film itu dikisahkan seorang anthropolog bernama Dr Ethan Powel yang selama dua tahun mempelajari sebuah komunitas 'masyarakat' gorila di sebuah pedalaman Afrika dengan cara unik yaitu hidup bersama menjadi bagian dari komunitas gorila tersebut. Sebuah 'paradigma-shift' yang luar biasa bagi Dr Powel ketika kemudian melihat dosa besar manusia selama ini yang seolah-olah tanpa dosa dengan berdalih kepada perkembangan budaya telah meminggirkan semakin menepi habitat gorila.

Lebih menarik ketika ungkapan protes Dr Powel kepada kaumnya -dalam hal ini umat manusia-, justru dijawab dengan pemerintah federal US memasukkan dia ke dalam penjara dan harus menjalani terapi jiwa. Dia menyebut umat manusia sekarang sebagai para 'takers', yang dia gambarkan berangkat dari jaman batu manusia berkembang membentuk komunitas, sebagian umat manusia berkomunitas secara sehat dengan mengambil di alam sebatas yang dia butuhkan. 

Sebagian lagi berkomunitas dengan mengeksploitasi apa pun yang ada di sekelilingnya, sampai tidak tersisa tanpa perduli dengan keseimbangan yang terganggu olehnya, dan ketika tidak ada yang bisa dieksploitasi lagi mereka bergerak kedaerah-daerah, memencar untuk eksploitasi-eksploitasi berikutnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Kelompok pertama manusia justru ikut semakin terpinggirkan bersama habitat ekosistim alam. Sementara kelompok kedua menyebar dari pusat-pusat budaya dunia dengan mengatasnamakan kepada budaya itu sendiri serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Kelompok kedua inilah yang mendominasi habitat planet bumi ini, dan dia menyebutnya sebagai takers (mungkin lebih dekat ke bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai penjarah).

Kalau kelompok pertama hanya mengeksploitasi alam sebatas yang dia butuhkan seperti disebut di atas, kelompok kedua sepertinya tidak pernah puas dengan apa yang dia dapat, sehingga yang disebut kebutuhan pun bermetafora menjadi keinginan. Kelompok kedua akan cenderung untuk entah itu mengambil, mencari, membeli apa saja karena mereka ingin, bukan karena memang perlu atau dibutuhkan. Dan sedihnya kelompok kedua ini yang sangat mendominasi, sehingga tanpa sadar kita sudah menjadi bagian dari kelompok kedua ini dengan berdalih untuk kesejahteraan, keadilan, kemajuan, dsb.

Dengan sinis Dr Powel bercerita tentang apa yang sebenarnya dipunyai para 'takers' ini. Para takers merasa bahwa mereka punya "Control" dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai senjatanya. Hanya saja kenapa justru mereka 'dikontrol' bukan 'mengontrol', mereka tunduk pada atasannya, mereka selalu dikejar-kejar waktu, sampai-sampai mereka tunduk pada keinginan mereka sendiri.

Para takers merasa mereka punya "Freedom" yang mereka beri label demokrasi atau apa saja, tapi mereka menciptakan pertahanan, membuat senjata, mengobarkan perang. Sebuah logika sederhana sebenarnya bahwa potret tersebut hanya terjadi mustinya pada orang-orang yang ketakutan, dan orang-orang yang takut bukanlah orang-orang yang merdeka.

Menurut Dr Powel yang hanya dipunyai para takers tidak lain hanyalah "Ilusion". Dengan arogan menciptakan industri dimana-mana tanpa memikirkan keseimbangan ekosistem alam atas limbahnya, karena sebenarnya mereka secara tidak sadar hanya memiliki sebuah Ilusi. Dengan sombong membuat sistim tatanan sosial masyarakat yang justru sekedar memaksa memoles sehingga muncul kelompok-kelompok strata, entah itu starata-ekonomi, strata-sosial, strata-budaya, kenapa harus ada strata karena yang dikejar adalah ilusi. Atau mungkin sedikit di-'zoom' melihat profil seorang suami yang berpenghasilan sangat-sangat-sangat jauh diatas rata-rata, istrinya masih harus bekerja sampai larut malam mengesampingkan anaknya yang tidak mengerti kenapa ia justru lebih nyaman di dekat baby-sitter, apa yang dikejar si istri lebih dekat bisa dikatakan sebagai ilusi.

Lalu kenapa Gorila? Dua tahun hidup bersama menurutnya justru memberikan suatu inspirasi bagaimana suatu komunitas itu mustinya terjadi. Di sana ada pemimpin yang melindungi dan melayani, anggota komunitas yang tunduk pada pemimpin bukan karena takut tapi karena rela, masing-masing selalu menjaga keseimbangannya, mengambil tidak lebih dari apa yang dibutuhkan, ketika habitat mereka terganggu oleh kegiatan para pemburu mereka memilih untuk menyingkir, melawan hanya ketika harus membela diri. Potret ini memang bagi saya terasa 'sounds familier' dengan apa yang dikatan Steven Covey tentang Abundance Mentality, sebuah mentalitas yang selalu melihat 'there is a plenty out there'.

Memang apa yang saya utarakan boleh jadi adalah 'mimpi' seorang penulis cerita film, sesuatu yang bisa jadi sangat tidak populer. Hanya saja saya tetap melihat riak-riak kecil ketidak-populeran itu muncul di tengah aliran deras dari sesuatu yang populer, dan riak ini justru survive. Membaca tulisan Gede Prama baru-baru ini ketika dia bertutur kepada seorang pengusaha 'justru' dengan kalimat "flood your self with love" menurut saya adalah contoh riak itu. Komunitas daerah Ledokan-Yogya yang saya pikir luar biasa, yang nilainya justru lebih tinggi dari komunitas real-estate yang saya tahu, adalah juga sebuah riak yang lain. Win-win solution pertama kali dimunculkan saya pikir bukan sesuatu yang populer pada sebuah komunitas kapitalis saat itu.

So…adakah semua ini hanya ilusi belaka ? ..bisa jadi!

 

2000

Pitoyo Amrih




Last Updated on Friday, 06 August 2010 21:20
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2020 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru


Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Popular


Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo