pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Buku NARAS0MA, belajar sifat dan perwatakan manusia. Saya suka!"
Malinda Pudyastuti


Home Karepe Bilung
Wakil Rakyat Kebanyakan PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 25 February 2014 09:32

 

karepe bilung_gbrTahun ini memang jadi tahun yang kemrungsung bagi para calon wakil wakyat itu. Ya, maaf,.. kalo aku harus ngrasani sampeyan semua. Tapi ya memang begitu itu kenyataannya. Tiba-tiba orang itu berubah. Tidak yang dipusat atau yang di daerah semua. Semua serba ‘pokoknya’, mengesampingkan hal-hal lainnya yang seharusnya lebih penting. Pokoknya aku harus menang saat pilihan nanti. Pokoknya!

 

Nah,.. cara-caranya itu lho? Jaman dulu itu malah lebih mending sepertinya. Walau jaman dulu memang ada gontok-gontokkan. Tapi orang dulu itu sangat hormat pada alam dan sekelilingnya. Tidak ada cerita orang jaman dulu itu kok misalnya merusak pohon. Lha sekarang ini kok kebangetan. Tiap hari aku itu rasanya pengin marah sama sampeyan para caleg itu kok. Bayangkan, tiap hari itu aku mendengar pohon-pohon di jalan pada nangis kesakitan. Badannya ditancapi paku-paku untuk pamer wajah. Belum jadi wakil rakyat, sama pohon-pohon saja sampeyan itu nggak menghormati, apalagi nanti kalo sudah jadi duduk enak di kursi dewan yang terhormat, sama kita rakyat kecil pasti ya lali alias lupa.

 

Aku itu juga nggak ngerti, apa wakil rakyat itu bisa jadi salah satu mata pencaharian to? Apa wakil rakyat itu bisa jadi cita-cita to? Apa wakil rakyat itu bisa menular ke sanak saudara gitu? Aku dengar ternyata mereka banyak yang masih saudara. Bapaknya nyaleg, eh, .. ibunya juga nyaleg. Beda partai gak apa-apa, yang penting bisa cari cara agar kemungkinan gol jadi anggota dewan lebih besar. Eh, ini  ditambah lagi anaknya juga ikut nyaleg, baru saja lulus kuliah.. opo tumon? Ya apik sih ada generasi muda juga ikut bertarung menawarkan diri untuk mewakili segolongan rakyat duduk di dewan menyuarakan pendapat yang diwakilinya. Tapi ya apa bener memang itu kenyataannya, bocah ini memiliki niat tulus akan mengabdi kepada rakyat yang diwakilinya? Apa bukan sekedar iseng-iseng nyaleg daripada selesai kuliah nglamar kerja yang serba tidak pasti, mending ikut ketenarang bapak-ibunya, ikut nyaleg, syukur-syukur bisa cukup suaranya, lumayan nanti dapat gaji bulanan. Toh kerjaannya cuman duduk dan jalan-jalan. Maaf, lho ya.. tidak perlu didebat. Cukup diskusikan saja sama diri sampeyan sendiri.

 

Ada lagi kabar wakil rakyat dipusat sana. Semua tahu kalau hampir semua anggota dewan terhormat yang saat ini menjabat itu juga maju nyaleg. Tidak peduli pernah terkait kasus apa, kasak-kusuk pernah selingkuh seperti apa, tetap saja tanpa malu maju lagi. ‘Kan belum terbukti secara hukum..’, begitu katanya mungkin. Yang penting sluman-slumun-slamet. Dan semakin dekat dengan hari pemilu ini, rupanya sampeyan-sampeyan itu semakin parah saja. Aku dengar yang bolos rapat itu semakin banyak saja. Alasan inilah,.. itulah. Padahal banyak di rakyat jelata itu yang tulus tak pernah berhenti mengabdi sepenuh hati walaupun imbalan tak pasti, ee,.. ini yang mewakili duduk di atas sana malah selalu menikmati imbalan yang selalu penuh, tapi pengabdiannya tak pasti. Dan herannya, tiap hari seperti itu, tidur sampeyan semua tetap saja nyenyak. Masih banyak rakyat yang sampeyan wakili itu makan saja tak pasti, eh,.. sampeyan mengemban tanggung jawab seenaknya.

 

Ada lagi acara tivi wawancara dengan calon anggota dewan. Reporternya memang hebat, pertanyaannya langsung ke sasaran, membuat kelabakan. Wong calon wakil rakyat kok ditanya masalah utama yang dihadapi daerah tempat rakyat yang bakal diwakilinya sendiri kok tidak tahu. Lah, maju jadi calon itu atas dasar apa?

 

Semua memang sudah kebolak-balik. Sebenarnya yang ada di benak sampeyan sehingga mau jadi wakil rakyat itu apa sih? Aku hanya pengin tahu tujuan sampeyan jadi wakil rakyat itu apa? Nggak perlu dijawab, katakan saja dengan jujur sama hati sampeyan sendiri? Pengin kaya? Ingin dihormati? Ingin terkenal? Kepengin nggaya?  Atau apa? Ya, maaf lho ya,.. aku sulit untuk berprasangka baik bahwa sampeyan semua memiliki niat luhur untuk mewakili rakyat, menyuarakan hati rakyat, memperjuangkannya sehingga menjadikan kehidupan bangsa lebih baik. Karena yang aku lihat aku dengar itu sama sekali tidak ada yang mendukung menjadikan aku berprasangka baik seperti itu. Yang banyak jadi berita dan sikap yang sampeyan pertontonkan itu cenderung membuat semua orang lebih mudah berprasangka buruk.

 

Jadi tolong ya bapak ibu calon anggota dewan yang terhormat. Setiap sampeyan habis sembahyang, mau tidur, pikir lagi dengan jernih, apa tujuan sampeyan semua mengajukan diri jadi wakil rakyat. Apa benar sampeyan semua memiliki niat tulus mengorbankan jiwa raga untuk kepentingan rakyat dan bangsa.  Bukan diri dan pastai. Apa benar sampeyan semua akan sanggup menepati janji-janji sampeyan. Bersedia amanah atas kepercayaan yang diberikan kepada sampeyan. Sanggup untuk tidak bohong di setiap perkataan dan sikap sampeyan. Kalau tidak, resikonya akan jadi orang munafik lho. Kalau sampeyan semua punya nalar, masih percaya Tuhan dan kematian, seharusnya mau berjuang jadi wakil rakyat itu tak mudah. Kecuali kalau memang mata sudah buta, telinga sudah tuli. Rakyat njungkir-njempalik seperti apa saja ya ndak akan digagas.

 

Aku ini abdi, berdiri di tengah kerumunan, dudukku juga nyempil diantara orang kebanyakan. Dari dulu memang ceriwis, tapi tak begitu didengar. Memang hakekatku, memang nasibku. Aku tidak seperti kang Petruk yang mulutnya bisa maladi idu geni. Atau nggegirisi seperti adi Sabdo Palon yang diam anteng tapi sanggup mengajak alam berbersih-diri, pasti jadi bencana manusia dan membuat ciut nyali. Sampeyan yang hidup di jaman serba gemerlap ini cuman akan dengar mulutku yang selalu cerewet, selama sampeyan semua tetap bertindak tidak seharusnya. Menjadi wakil rakyat. Rakyat kebanyakan! Yang kebanyakan masih resah tak pasti besok makan apa. Yang kebanyakan belum pinter butuh dibuat pinter bukan malah dibodohi. Yang kebanyakan masih melihat pejabat seperti majikan karena pengkondisian yang sampeyan ciptakan. Yang kebanyakan masih jauh dari ayem tentrem hidupnya, resah ribet karena gegeran ndak mutu antar sampeyan sendiri.

 

Tolong didengarkan direnungi. Maaf kalau banyak omong. Mending aku yang selalu banyak omong daripada sampeyan makin lupa bisa membuat kang Petruk dan adi Sabdo Palon sesekali datang seperti janjinya…

 

 

25 Feb 2014

Kolom ‘Karepe mBilung’

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Tuesday, 25 February 2014 15:10
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo