pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Saya sangat tertarik sekali dengan segala yang telah bung Amrih lakukan untuk melestarikan kesenian wayang!"
Indah Sasmoyo


Home Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Para Penyuka Novel saya, Para Motivator PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Monday, 02 September 2013 09:30

 

Saat itu kebetulan sedang tugas di Jakarta, ketika sebuah pesan SMS masuk ke HP saya. “Mas, besok saya tugas di Solo, saya penggemar novel-novel panjenengan, kalau berkenan besok pengin ketemu sekedar ngobrol-ngobrol..”, begitu bunyi pesan itu. Dan juga memang kebetulan esok harinya, saya sudah pulang kembali ke Solo. Sehingga agenda pertemuan itupun terjadi.

 

Dan sore hari itu kami bertemu di depan Pasar Seni dan Cinderamata Ngarsopura. Sebuah sore yang cerah dan nyaman sehingga kami bisa berbicara dan berdiskusi. Seputar banyak hal tentang cerita dalam novel-novel saya, tentang wayang, tentang keluarga, tentang kehidupan. Kami saling belajar, beliau adalah seorang staf litbang dari sebuah perusahaan kimia di Gresik, bernama M. Ihwan. Lahir di Yogyakarta, besar di Bogor, dan semenjak kecil suka dengan pertunjukkan wayang serta mengkoleksi banyak nasakah cerita wayang. RA Kosasih adalah salah satu penulis wayang yang beliau gemari.

 

Saya sangat senang. Sudah cukup banyak para pembaca dan penyuka novel-novel saya menyapa, baik di media sosial, melalui SMS, BBM, telepon, bahkan datang berkunjung ke rumah di Solo, ataupun saling bertemu di suatu tempat bila keadaan mengharuskan demikian. Suatu kali dulu pernah seorang bocah usia SD dari Kudus menelepon saya, sekedar basa-basi perkenalan di awali oleh ayahnya, kemudian pembicaraan telepon di seberang sana berubah menjadi suara bocah yang walau sepatah dua patah kata berusaha menyampaikan kekaguman terhadap cara saya mengungkap kembali kisah-kisah dunia wayang.

 

Ada lagi seorang muda karyawan sebuah perusahaan, kebetulan tinggal di Yogya, sehingga cukup dekat ketika suatu saat beberapa bulan lalu, selama beberapa minggu hampir tiap hari minggu bertandang ke rumah saya. Dia mengkoleksi semua novel wayang karya saya, tak henti-hentinya memberikan apresiasi tulus atas apa yang saya lakukan. Beberapa kali ngobrol, masuk ke ruang kerja penulisan saya, melihat peta dunia wayang yang saya buat, menyimak seksama time-line kehidupan wayang yang saya tulis di dinding ruang kerja saya sebagai alat bantu untuk menulis novel, potret sana-potret sini.

 

Pernah juga ada pengalaman unik, ketika ada seorang bapak yang kebetulan bekerja sebagai staf perusahaan besar di Semarang, yang suatu malam menelepon dan memohon dengan sangat untuk bisa bertemu mendadak saat kebetulan dia bertandang di Solo. Ada seorang pimpinan senior di perusahaannya yang akan pensiun, kebetulan sang pimpinan sangat menggemari wayang. Maka jadilah koleksi novel-novel saya akan menjadi salah satu cinderamata perpisahan bagi perusahaan dan sang pimpinan. Dan staf yang menelepon itu, datang menemui saya di Solo untuk sekedar meminta tanda tangan di buku-buku itu, dengan harapan akan menjadi kenang-kenangan yang istimewa. Saya merasa tersanjung atas apresiasi dan penghargaan sedemikian rupa terhadap karya-karya saya itu.

 

ihwan pitoyo_rev1Ada juga sebuah kejadian lucu ketika beberapa tahun lalu saya berkunjung ke Bandung. Tiba-tiba ada seorang perempuan muda menyapa. Mungkin dia cukup hafal wajah saya dari foto-foto di website maupun media sosial. Dia memberanikan diri berkenalan dan bercerita bila semua novel karya saya, dia punya dan mengkoleksinya. Karena saat itu serba kebetulan tentunya buku-buku itu tak dibawanya, dia pun tak kehilangan akal dengan menyobek secarik kertas dan meminta saya untuk membubuhkan tanda tangan di situ. Sobekan kertas itu akan dia tempel di novel, katanya. Saya pun tersenyum dan saat itu berharap memiliki waktu dan kesempatan untuk juga bisa memberikan tanda tangan di buku-bukunya, tidak hanya di secarik kertas.

 

Saya memang tidak mencatat satu-satu setiap kejadian pertemuan dengan para penyuka novel-novel saya.  Tapi setiap apresiasi itu selalu memberi dorongan semangat yang luar biasa kepada saya untuk terus tak pernah berhenti menulis kisah-kisah wayang. Seperti layaknya sebuah perjalanan panjang, untuk terus selalu menulis novel wayang juga membutuhkan semangat yang terkadang bisa diperoleh menggebu, tapi juga terkadang harus mengais mengumpulkannya. Dan para penyuka novel wayang saya yang seolah tak henti menyapa itu, menjadi salah satu sisi yang selalu memberi motivasi, mereka adalah para motivator saya.

 

Saya sangat senang karena itu bisa menjadi bertanda bahwa gaya bertutur saya dalam menceritakan kembali kisah wayang dengan sudut pandang baru, bisa mulai diterima banyak kalangan. Tidak hanya sekedar senang karena novel-novel dibeli dan dibaca semakin banyak orang, tapi lebih dari itu, kisah-kisah wayang bisa kembali menjadi sumber inspirasi kehidupan kita. Dan ketika kisah wayang kembali di suka, maka pentas pertunjukkan wayang akan diharapkan kembali menemukan masa kejayaannya. Kisah wayang, pentas wayang, serta nilai-nilai budaya nusantara yang terkandung didalamnya kembali menjadi kebutuhan.

 

Beberapa hari setelah pertemuan itu, mas Ihwan bahkan kemudian mengunggah foto kami di wallpage Facebook beliau. Satu komentarnya yang saya suka: “Saya suka pendalaman karakter wayang dalam setiap tulisannya, berasa hadir, terasa hidup..”.

 

 

2 September 2013

Pitoyo Amrih

ket foto: M. Ihwan dan Pitoyo Amrih di depan pasar cinderamata Ngarsopura, Solo (foto: M. Ihwan).


 




Last Updated on Monday, 02 September 2013 09:41
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo