pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Novel 'Narasoma' tak sekadar mengisahkan perang saudara yang amat memilukan, beserta adu kesaktian yang ditampilkan secara rinci dan cukup seru!"
Rini Nurul Badariah


Home Seri Wacana Budaya
Tak Ada Nasi Lain: Novel Merawat Rasa Sejarah PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 19 July 2013 13:54

 

Sebenarnya apa definisi tentang Novel Sejarah? Mungkin bisa didekati dengan pengertian berupa tulisan panjang cerita fiksi yang mengambil latar belakang sejarah. Dalam definisi ini memang ada kontradiksi, yaitu: fiksi dan sejarah. Bagaimana sebuah fiksi bisa dimaknai sebagai sejarah? Dan sampai batas apa sebuah sejarah bisa di-fiksi-kan. Sampai pada pertanyaan berikutnya adalah: seberapa jauh penulis novel tersebut memiliki tanggung jawab etis tentang akurasi peristiwa sejarah yang melatar belakangi cerita yang disampaikannya? Apalagi bila sang penulis novel adalah juga yang menjadi saksi langsung mengalami peristiwa sejarah itu.

Pertanyaan ini muncul di pemikiran saya, saat acara diskusi dan peluncuran novel berjudul “Tak Ada Nasi Lain” tulisan Suparto Brata. Pada acara itu, saya diberi kehormatan untuk menjadi salah satu pembicara utama, diselenggarakan atas prakarsa Bentara Budaya Solo, di Gramedia, Balai Soedjatmoko, Jl Slamet Riyadi, Solo, pada tanggal 17 Juli 2013 lalu. Menjadi pembicara utama selain saya adalah seorang novelis sejarah bernama RM. Daradjati. Pertanyaan itu muncul begitu saja ketika dalam acara tanya jawab, ada seorang hadirin, dia seorang ahli sejarah, yang kebetulan hadir dan memberi komentar cukup panjang lebar tentang novel tersebut. Dia memberi beberapa catatan yang cukup tajam tentang peristiwa-peristiwa dalam novel tersebut yang menurutnya tidak begitu akurat merepresentasikan peristiwa sejarah yang menjadi latar belakang cerita.

Saya sendiri menilai “Tak Ada Nasi Lain” adalah novel yang apik untuk dinikmati. Gaya bahasanya sederhana. Menceritakan kisah keseharian tentang seorang bocah sampai dia beranjak dewasa, bernama Saptono, yang kebetulan hidup dititipkan di keluarga bangsawan di Gajahan, Solo. Segala peristiwa susah senang, khawatir gembira, dilantun lancar dalam balutan kisah keseharian masa itu. Tidak seperti sekarang dimana yang terkadang rasa khawatir takut tidak selalu terhadap hilangnya nyawa, di masa perjuangan, rasa was-was hampir selalu bisa berarti resiko akan ajal. Saptono yang melewati masa penjajahan Belanda, transisi pendudukan Jepang, sekaligus dalam kungkungan kehidupan bangsawan. Juga ketika melewati masa kemerdekaan, dan masa pergolakan sosial sampai dengan menjelang tahun 60-an. Semua diceritakan syahdu bagai lantunan musik keroncong yang membujuk. Mengingatkan saya pada rasa suka terhadap gaya penceritaan Umar Khayam. Sederhana, indah, menyentuh rasa.

Betul, rasa! Inilah yang kemudian saya sampaikan sebagai hal utama dalam acara itu. Dalam membedah novel ini, mungkin masih terlalu jauh bagi saya untuk bisa menelisik kaidah kesusastraan karya, apa lagi melalui pendekatan sejarah Solo yang tentunya sangat terbatas pengetahuan saya dalam hal ini. Seperti yang saya tulis dalam makalah saya malam itu, saya memilih untuk berbagi apa yang saya rasakan ketika membaca novel ini.

Novel ini telah membuat penglihatan-penglihatan baru tentang rasa dan perasaan yang selama ini absurd bagi saya dalam memahami peristiwa seputaran kemerdekaan. Terutama apa yang dirasakan orang kebanyakan di Solo kala itu. Peristiwa sejarah memang kita bisa lihat dan pelajari dari tulisan jurnal ataupun reportase, bahkan mungkin karya ilmiah sejarah. Tapi tulisan itu terkadang memberi jarak. Memaksa kita untuk hanya bisa melihat tanpa pernah bisa memahami. Novel ini berhasil memberi saya gambaran pemahaman rasa kehidupan sosial di kota Solo ketika itu. Dan saya yakin rasa itu orisinal, ketika datang dari sosok penulis yang memang mengalami sendiri rentetan peristiwa itu. Seorang yang mengalami sendiri masa kejadian 1945. Hal yang langka kita jumpai saat ini. Membuat saya melihat bahwa apapun yang Suparto Brata tulis itu, terlepas dari kritik masalah akurasi peristiwa sejarah yang terjadi, beliau sudah menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

bedahbuku takadanasilain

Panelis diskusi dari kiri: Yunanto Sutyastomo (moderator), Suparto Brata (penulis novel), Pitoyo Amrih (pembicara I), RM. Daradjati (pembicara II), Ardus M. Sawega (Bentara Budaya Solo-penyelenggara)


Suasana diskusi semakin bernas ketika Suparto Brata juga panjang lebar menyampaikan kritik pendidikan saat ini yang memprihatinkan akan pengkondisian yang membuat gairah budaya membaca dan menulis di kalangan anak-anak dan remaja kita saat ini. Bahkan beliau sempat menyampaikan hasil survei entah sumber dari mana tentang rata-rata anak usia sampai sekolah menengah atas, berapa jumlah judul buku yang pernah mereka baca. Di negara-negara maju rata-rata pada bilangan diatas 30 judul buku, Malaysia sekitar 6 judul buku, Singapura pada bilangan 10 judul buku, Jepang sekitar 20-an judul buku. Survei di Indonesia menyatakan hampir semua anak usia SMA belum pernah membaca satu judul buku pun! Hal yang bertolak belakang ketika usia sekolah dulu. Suparto Brata bercerita di tengah suasana kisruh lahirnya bangsa Indonesia itu, murid-murid sekolah sudah wajib untuk membaca buku. Membaca dan membaca. Membuat banyak orang juga tergerak untuk menulis dan menulis. Seperti yang Suparto Brata lakukan. Pengalaman yang sama yang juga disampaikan RM Daradjati, yang berusia hampir 75 tahun, sang pembicara utama lain.

Diskusi yang dihadiri juga oleh budayawan skala internasional yang kebetulan tinggal di Solo, Halim HD, juga banyak dihadiri seniman, penulis, budayawan, tokoh masyarakat, sejarawan, itu ditutup sekitar hampir jam sebelas malam. Diakhiri oleh ulasan singkat tentang proses penerbitan buku yang menurut saya cukup dramatis, oleh Ardus M. Sawega, perwakilan Bentara Budaya Kompas di Solo. Dan terakhir ditutup oleh moderator mas Yunanto Sutyastomo.

Dibawah adalah tulisan saya yang dicetak sebagai makalah untuk hadirin malam itu:


 


 

 

Tak Ada Nasi Lain: Novel Merawat Rasa Sejarah

 

Naskah sastra dengan latar belakang sejarah kemerdekaan Indonesia 1945 sudah hampir tak ada. Rekaman itu kini hanya tersedia dalam teks-teks buku pelajaran yang terkadang kaku dan terlalu berjarak. Sesekali menggurui dan menghakimi. Sebagian lagi terekam dalam karya jurnalistik berbentuk ensiklopedia ataupun riset ilmiah, yang harus tunduk pada tata cara pemotretan obyektif yang tak boleh menggapai rasa.

 

Dalam membaca suatu peristiwa, terkadang saya lebih suka menangkap rasa tinimbang melihat sebuah lukisan natural yang hanya mengajak untuk melihat tanpa berusaha untuk memahami. Bagi saya akan lebih lengkap rasanya, ketika misalnya kita menelisik sejarah peristiwa 1965, juga sesekali menikmati, meriung, mengakrabi tulisan dalam bentuk novel seperti buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer, atau yang diterbitkan akhir-akhir ini semacam Saman (Ayu Utami, Gramedia, pertama terbit 1998), Amba (Laksmi Pamuntjak, Gramedia, 2012), Pulang (Leila S Chudori, Gramedia, 2013).

 

Atau misal sejarah panjang masa Orde Baru, dimana bahkan sebagian besar naskah rekaman peristiwa sudah bisa dipastikan akan selalu berpihak pada penguasa ketika itu. Untuk memahami, menangkap rasa dan suasana justru butuh ungkapan-ungkapan dari tulisan fiksi, yang terkadang selain dimaksudkan untuk memperhalus resistansi terhadap penguasa, juga secara bebas akan lebih mampu mengajak orang untuk merasakan apa yang sebenarnya terjadi, tidak sekedar mengetahui apa yang terjadi. Mungkin itulah mengapa orang lebih mudah merawat ingatan terhadap berbagai kejadian masa Orde Baru, dari novel-novelnya Romo Mangun, lagu-lagunya Iwan Fals, sajak-sajak Rendra. Tinimbang reportase sejarah, berita, rekaman peristiwa dan semacamnya.

 

Dalam membaca sebuah karya yang membawa rasa sejarah, saya terkadang suka iseng membagi mengelompokkan rasa yang ditawarkan dari penglihatan penulisnya. Ada penulis yang memang tak pernah mengalami merasakan. Biasanya mereka kemudian melakukan studi, menelusur tempat terjadinya peristiwa untuk menangkap rasa yang mungkin masih membekas, mewawancara para saksi pelaku peristiwa agar bisa menyentuh sedih, amarah, suka, benci atau apa pun rasa itu sebagai bahan tulisan nanti. Yang kemudian khalayak menilai kepiawaian seorang penulis –salah satunya- dari sisi ini. Dari sisi sampai dimana dia bisa membawa semua rasa peristiwa dalam karyanya. Jauh atau dekat walau jarak itu tetap ada.

 

Dan yang menurut saya istimewa adalah pada kelompok penulis yang memang mengalami peristiwa itu. Menurut saya istimewa karena bagaimana pun juga bentuk tulisannya, struktur bahasanya, dan segala macam kaidah sastra yang bisa jadi membawa hal-hal rancu didalamnya, tetap akan berisi muatan rasa orisinal tentang sebuah peristiwa. Dan akan semakin istimewa ketika peristiwa itu adalah sebuah peristiwa sejarah, apalagi bila itu merupakan bagian dari sejarah penting perjalanan kelahiran sebuah bangsa seperti rangkaian kejadian sebelum dan sesudah 1945 di Indonesia.

 

Itulah mengapa sebelum membaca, saya sudah menciptakan prasangka suka kepada novel Suparto Brata ini yang memberi gairah sendiri dalam menyusuri bacaan karena saya yakin benar beliau sendirilah yang membuat sulaman segala perasaan itu sehingga tertuang dalam cerita novel ini. Rasa tentang kota Solo di jaman itu, nyaman tertahan bersama penjajah sebelum tahun kemerdekaan, ketakutan-ketakutan saat Jepang berkuasa, gegap gempita era kemerdekaan, perasaan tentang serba kekurangan, rasa tentang hidup sebagai anak titipan di lingkungan bangsawan, bahkan rasa tentang seorang laki-laki remaja di jaman itu, yang saya yakin bagaimanapun juga kita di jaman ini tak mungkin bisa menjamahnya dalam angan sekalipun, tanpa kehadiran buku ini.

 

Saya tidak tahu persis mengapa novel yang sudah ditulis sekian lama ini baru diterbitkan saat ini. Mungkin ada muatan sisi ekonomis. Tapi apa pun itu, novel ini seolah telah mengalami masa inkubasi yang panjang sejak ditulis dilahirkan. Sehingga ketika diterbitkan serta merta buku ini menjadi barang langka, walaupun itu mungkin tidak banyak disadari oleh kita yang hidup di masa yang bagaimana pun juga jauh lebih baik dan menyenangkan tinimbang masa-masa kemerdekaan dulu. Langka karena sang penulis sendiri yang juga mengalami peristiwa demi peristiwa yang diceritakan dalam novel ini. Langka ketika penulis sendiri yang merekonstruksi kehidupan sosial yang datang dari penglihatannya sendiri. Langka ketika novel yang merekam peristiwa hampir 70 tahun lalu ini, beliau sang perekam hidup masih duduk bersama kita di sini berdiskusi tentang apa yang sudah beliau tulis. Langka ketika rekaman perasaan itu diungkap dengan gaya bahasa yang tak begitu asing dicerna kepala. Dan langka ketika novel ini menjadi satu dari sedikit novel yang diterbitkan saat ini yang memilih merawat rasa sejarah bangsa, khususnya sejarah sosial kota Solo di seputaran era tahun 1945.


 


 

19 Juli 2013

Pitoyo Amrih





Last Updated on Friday, 19 July 2013 14:11
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2017 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo