pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..keren nih.. ada kreasi animasi wayang adaptasi dari novel 'Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata'.."
Dewanta


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
Menggantung di Monas PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Wednesday, 06 March 2013 08:07

Saya bayangkan hari-hari berganti ke depan ini adalah hari yang akan sangat panjang dan melelahkan bagi bung Anas. Tidak saja lelah karena harus meniti waktu dalam mencari jarum pembelaan diantara jerami jerat hukum dan jutaan mata rakyat Indonesia yang  memelototi kasus tersebut. Saya tidak sedang menggali tentang kasusnya, juga tidak berusaha membedah  dari perspektif hukumnya, karena toh itu diluar kompetensi saya, dan informasi yang saya dapat pun mungkin masih bias butuh verifikasi validasi lebih dalam. Saya lebih tertarik dengan pernyataan bung Anas sekitar Maret 2012 lalu yang memberi  berkata bahwa dia siap digantung di monas bila ada satu rupiah pun Hambalang masuk ke kantongnya.

Perjalanan hukum masih panjang memang. Bisa jadi proses pengadilan dan segala tetek-bengek-nya akan memakan lebih dari setahun untuk sampai kepada keputusan pengadilan yang bersifat  tetap menyatakan bahwa bung Anas bersalah atau tidak. Tapi sikap hati-hati KPK yang kemudian meningkatkan status hukum bung Anas menjadikannya tersangka paling tidak sudah sekian langkah menuju ke sana. Ditambah rekam jejak KPK yang selama ini masih ‘bersih’ tak satupun status tersangka yang kemudian dinyatakan tidak bersalah.

Artinya semakin kuat kita boleh berandai-andai bahwa dia bisa jadi akan dinyatakan bersalah dalam kasus ini. Dan bila hal ini benar maka menurut saya sungguh menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita manusia untuk semakin berhati-hati menjaga salah satu bagian tubuh kita yang bisa berakibat berbalik menghujam diri, yaitu mulut.

Suatu ketika dulu ada orang bijak leluhur kita yang memberi nasehat melalui tembang ‘Gundul Pacul’. Yang kemudian bisa ditafsirkan bahwa Pacul adalah ‘papat sing ucul’ atau empat hal yang bisa lepas, empat hal yang bila tidak kita pimpin dan kelola dengan baik bisa membuat kita sombong dan takabur yang berujung pada hal buruk yang akan menimpa kita. Empat hal yaitu ketika kita punya mata tak berusaha ‘melihat’, punya telinga tapi tak ‘mendengar’, punya mulut tak bisa menjaganya, dan punya pikiran tapi tidak amanah, tidak jujur pada diri sendiri, menafikkan integritas.

Kali ini saya hanya ingin bicara masalah mulut. Dari apa yang terucap keluar dari mulut seseorang bisa menjadi sombong dan takabur. Demi sebuah kepentingan terkadang dengan mulut kita merayu bermanis kata, berbohong dengan dalih demi kepentingan yang lebih besar, atau bahkan bersumpah serapah dengan kata-kata yang tidak selayaknya diucap oleh seorang manusia beradab.

Dan saya menilai bung Anas adalah salah satu orang yang ketika itu kurang bisa menjaga mulutnya. Terlepas apakah nantinya dia divonis bersalah atau tidak, kata itu sudah terlanjur diucap, sampai ke jutaan pasang telinga, direkam dimana-mana. Tak bisa ditarik lagi, tak bisa dihapus. Kata ‘gantung saya di Monas’ bisa jadi kalau saya memakai istilah Jawa, adalah sekedar ‘guyon parikeno’. Artinya itu bukanlah sumpah atau janji. Kalimat itu sekedar memberi penekanan dan pemantapan kepada semua orang bahwa dia (menurut dia) tidak bersalah.

Perkara salah atau tidak bersalah dalam arti yang sebenar-benarnya, mungkin hanya bung Anas sendiri yang tahu. Itupun kalau dia sengaja melakukan kesalahan. Kalau dalam melakukan kekeliruan dia tidak sengaja, bagaimana pun dia akan menyanggah bahwa dia tidak bersalah. Misal dalam hati kecil dia sudah tahu bahwa kemungkinan bisa jadi terselip ada kontribusi kesalahan dirinya dalam kasus Hambalang sekecil apa pun, maka sungguh sebuah sifat takabur yang luar biasa sampai dia tak mampu menjaga mulutnya sendiri yang keluar kata-kata: ‘gantung saya di Monas’. Kalau dia memang orang baik, bisa jadi dia yakin tidak bersalah, atau tidak tahu kalau ada rekam jejaknya dulu yang bisa diindikasikan sebagai kesalahan dalam kasus ini. Dalam hal ini tetap saja kalimat yang keluar tergolong sebagai kata-kata takabur yang mengabaikan keniscayaan manusia, bahwa bagaimanapun juga manusia tidaklah sempurna, manusia dengan perangkat pikiran sebagai pengelola sikap, perintah untuk memutuskan melakukan sesuatu, dan tempat merekam kejadian masa lalu pastilah memiliki banyak kelemahan, bahkan bisa sakit.

Dan apa jadinya bila suatu ketika kelak dia memang divonis bersalah? Hukum manusia memang juga banyak hal tidak sempurna, entah itu sistemnya, perangkatnya, ataupun filosofi yang mengisi perspektif manusia semua yang terlibat di dalamnya. Tapi putusan itu tetap saja dihormati dan dihargai sebagai hal yang memang menjadi aturan main kita bersama dalam hidup bernegara. Dan bila vonis bersalah itu memang benar-benar terjadi, apakah bung Anas kemudian akan benar-benar menggantungkan dirinya di Monas?

Kalaupun dia kemudian sadar akan kekhilafan, dan diperlihatkan kesalahan yang kemudian membuat dia merasa bersalah, dan kemudian  berkukuh bersikap ksatria akan gantung diri di Monas, maka apa kata dunia dan bagaimana malunya peradaban generasi bangsa bila kita membiarkan dan melihat hal itu terjadi. Semakin gila lagi bila sampai ada orang yang tertawa dan bertepuk tangan, menjadikan itu sebagai gurauan. Karena menurut saya hal ini menjadi gurauan ini hanya akan menjadi lucu bagi orang yang memang merasa ‘menjaga mulut’ itu bukanlah sesuatu yang penting. Sehingga saya tetap yakin peristiwa ‘gantung-menggantung’ itu tak akan pernah terjadi, atau negri kita justru menoreh lembaran hitam karena memfasilitasi seseorang gantung diri demi sebuah janji.

Tapi memang pada kenyataanya kita memang masih juga melihat contoh tokoh masyarakat yang pongah tak mampu menjaga mulutnya demi sebuah kepentingan. Kita baru saja juga mendengar tentang istri seorang calon gubernur yang akan menyiapkan peti mati untuk suaminya bila korupsi, yang bisa dilogika itu demi tujuan menjaring simpati orang agar memilih suaminya sebagai gubernur kelak. Atau ketika beberapa tahun kebelakang kita pernah mendengar ada seorang calon ketua KPK yang bersumpah sengsara tujuh turunan bila dia sendiri yang terindikasi korupsi. Apakah dia tidak sadar bahwa ketika itu semua diucap tidak hanya manusia yang mendengar. Alam pun mendengar. Setan mendengar. Malaikat mendengar. Dan tentu saja Tuhan juga mendengar. Dan bila kita mau berpikir jernih, ucapan-ucapan seperti itu adalah sebuah bentuk sombong luar biasa kita makhluk manusia.

Sebuah pelajaran berharga agar kita selalu menjaga mulut kita sebelum berucap. Juga sebuah ujian berharga bagi kita manusia Indonesia. Karena ketika kasus hukum berjalan, semua orang mengawal demi keadilan, maka seharusnya tak ada lagi kata-kata ‘menagih janji’ baik itu sekedar gurauan ataupun serius tentang ‘gantung di Monas’.  Saya yakin beban bung Anas atas kata-katanya yang pernah terucap dulu sudah cukup berat baginya. Kita mengolok-olok menambah bebannya. Dan biarlah kata-kata ‘gantung di Monas’ sendiri yang benar-benar menggantung di Monas.

 

23 Feb 2013

Pitoyo Amrih - www.pitoyo.com

 

Artikel yang sama dan komentar bisa dilihat di Kompasiana

 




Last Updated on Wednesday, 06 March 2013 08:13
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo