pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Webpitoyo.com

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Boleh jadi, dialah satu satunya penulis novel wayang berbentuk sekuel, dicetak dalam format seperti novel pop yang menarik."
Ardus M Sawega


Home Seri Wacana Budaya
Mengangkat Kisah Wayang dalam Novel PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 27 April 2012 15:47

Mungkin memang pesawat telepon saya yang sedikit bermasalah sehingga suara saya tidak begitu terdengar jelas oleh lawan bicara di seberang sana. Dan hal itulah yang menjadi kendala sehingga suara saya terdengar sangat pelan di radio, walaupun malam itu saya mencoba bersuara keras dan mendekatkan gagang telepon sangat dekat dengan mulut saya. Saat itu juga, saat bincang-bincang berlangsung, melalui Facebook, beberapa sahabat langsung memberi masukan tentang suara saya yang terdengar kurang keras tertimpa suara sang penyiar.

 

Syukurlah hal itu tidak mengurangi makna dan pesan yang coba saya sampaikan melalui acara bincang-bincang budaya itu. Tanggapan para pendengar dan para sahabat yang kebetulan menyimak acara tersebut, sangat positif. Adalah sebuah acara Talk Show live yang disiarkan dari studio RRI Semarang disiarkan melalui Programa 1 dan Programa 4, berlangsung tadi malam, Kamis, 26 April 2012, selama satu jam penuh tanpa jeda iklan, dari jam 22.00 sampai dengan 23.00. Saya yang di rumah, di Solo, dengan komunikasi via telepon, berbincang dengan Bp Iwan, penyiar RRI Semarang di studio RRI di Semarang.


Menurut info sang pemandu acara, siaran radio ini menjangkau seluruh pulau Jawa. Juga terdapat siaran streaming di internet sehingga dengan perangkat komputer saya di rumah, acara ini sempat saya rekam dalam bentuk audio sehingga bisa didengar kembali melalui gadget player di bawah ini. Klik pada tanda play warna kuning.


 

 


Seperti biasanya setiap acara bincang-bincang yang saya pernah ikuti sebagai narasumber, di awal dibuka dengan beberapa pertanyaan seputar pertanyaan kenapa dan bagaimana saya menulis novel wayang. Seputar motivasi saya yang mencoba berusaha berkontribusi terhadap ketersinambungan budaya bangsa khususnya budaya wayang ini, sampai cerita bagaimana saya membuat kerangka besar cerita berdasar literatur naskah wayang Jawa, saya tuangkan dalam imajinasi berbentuk peta, timeline, sketsa-sketsa, catatan tentang karakter dasar, yang menuntut saya menuliskan setiap episode, bab demi bab dalam novel yang saya tulis.

 

Hal yang menurut saya menarik, adalah ketika salah seorang penanya melalui telepon, justru mengkritik cerita wayang Nusantara, dan cerita wayang Jawa khususnya yang beliau anggap tak ubahnya seperti menjiplak kisah Mahabarata dan Ramayana yang notabene ditulis oleh pujangga dari India pertama kalinya.

 

Saya mencoba menjawab dengan memberikan pengertian tentang wayang, seperti yang beberapa kali saya sampaikan dalam beberapa seminar budaya maupun seminar tentang wayang. Karena bagaimanapun juga, budaya wayang telah diakui dunia –dalam hal ini UNESCO- sebagai budaya warisan yang asli milik bangsa Indonesia. Dan wayang harus dilihat sebagai kesatuan utuh dari tiga perspektif yang saya tawarkan untuk memudahkan kita dalam melihat persoalan. Yaitu perspektif wayang sebagai media pertunjukkan, tidak hanya pertunjukkan pentas, tapi juga bisa meluas kepada ‘pertunjukan’ dalam bentuk seni lukis, patung, dsb. Kemudian perspektif wayang sebagai penyampai sebuah cerita atau kisah, yang memang kebetulan kisah yang paling populer, bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Dan satu lagi yang menurut saya tak kalah penting ketika melihat wayang dari perspektif sebuah cara kita untuk mengkomunikasikan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

 

Di sinilah kemudian kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan pertama adalah sebuah apresiasi akan kisah itu, sehingga ketika kita menceritakan kembali kisah itu harus benar-benar sesuai dengan kisah aslinya yang dari India, atau pilihan untuk justru menggali kisah-kisah itu yang sudah digubah oleh para pujangga dan pelaku seni di nusantara sejak jaman Airlangga dulu, berkembang sedemikian rupa, ke barat, ke timur, sampai sekarang ini. Karena dari kisah yang sudah digubah itulah kita bisa berupaya membuka kembali tabir tentang karakter budaya dan nilai-nilai kepribadian yang pasti terkandung dalam kisah-kisah gubahan itu. Karena kembali kita bisa ingat, bahwa salah satu perpektif wayang sebagai pembeda budaya pertunjukkan boneka di negara lain adalah, wayang dalam kisahnya mengandung muatan nilai yang dikomunikasikan ke khalayak.

 

Di akhir bincang-bincang, saya juga sempat menyadur sifat wayang yang konon adalah buah pemikiran Sunan Kalijaga, dimana wayang memiliki sifat Hamot yang berarti bisa memuat banyak hal, Hamong yang bisa diartikan sebagai luwes, bisa mengakomodasi banyak hal, dan Hamengkat, yang bisa ditafsirkan bahwa wayang bisa diupayakan kelestarian dan ketersinambungannya dari sisi mana saja. Sehingga semua orang berkontribusi terhadapnya. Tidak melulu tanggung jawab para dalang, pemerintah, pelaku seni, akademisi budaya, tapi juga tanggung jawab kita semua.

 

Saya yang tidak bisa mendalang, bukan pelaku seni professional, juga bukan akademisi budaya, merasa juga terpanggil untuk ikut berkontribusi. Saya suka dan bangga dengan wayang, saya merasa menemukan passion saya ketika saya menulis dan berimajinasi tentang sebuah kisah manusia. Dan jadilah novel wayang sebagai bentuk kontribusi saya.

 

Tak terasa bincang-bincang selama satu jam itu begitu cepat. Amat sangat terlalu cepat untuk menyampaikan banyak hal tentang wayang dan budaya bangsa yang masih bisa digali dan didiskusikan. Berharap akan selalu ada pencarian dan diskusi yang melibatkan semua komponen bangsa. Karena saya yakin, disanalah seharusnya kita mencari apa itu karakter jati diri bangsa yang sepertinya akhir-akhir ini begitu sering kita dengar menjadi pertanyaan kita bersama.

 

 

27 April 2012

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Friday, 27 April 2012 21:39
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2013 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo