pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Webpitoyo.com

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..sangat menarik sekali! Berharap sekali suatu saat kisah2 yang pak Pitoyo tulis dapat difilm kan.."
Hamzah Fanshury


Home Seri Pemberdayaan Diri dan Keluarga
Kapan Kita Selesai Dengan Diri Kita? PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 31 March 2012 12:37

Beberapa hari lalu ada sebuah kalimat penggugah luar biasa keluar diucap Anies Baswedan dalam sebuah acara talk-show di sebuah stasiun televisi. Dalam pembicaraan itu, dia bersama tamu narasumber Dahlan Iskan dan Machfud MD. Berdiskusi tentang definisi dan kebutuhan akan seseorang dengan sikap kenegarawanan bagi pemimpin bangsa Indonesia. Sebuah kalimat yang saya ingat sampai sekarang, bahkan beberapa malam ini sempat selalu saya renungkan. Bung Anies mencoba menggaris bawahi definisi seseorang yang memiliki ciri-ciri kenegarawanan adalah seseorang yang salah satu tanda-tandanya, bahwa dia merasa ‘sudah selesai dengan dirinya’. Kalimat yang sederhana, dipikiran saya langsung bisa mendudukkan pada sebuah definisi yang sangat tepat mengena.

Seseorang yang ‘sudah selesai dengan dirinya ‘,.. hmm. Begitu jauh pikiran saya mencoba merenungi makna ini. Dalam acara itupun bung Anies mengutarakan keterangan penjelasan mengenai definisinya, bahwa setiap pemikiran seorang negarawan bangsa adalah ‘its not about me, its about this republik…’.

‘Sudah selesai dengan dirinya’, membawa pemahaman bahwa orang tersebut sudah selesai dengan kebutuhan bagi dirinya. Lalu pikiran saya pun mencoba membongkar-bongkar tentang apa itu kebutuhan manusia. Dan teorinya Abraham Maslow tentang ini mungkin bisa menjadi salah satu pijakan untuk memahami kebutuhan manusia.

Dari yang paling dasar, yaitu kebutuhan Fisik, bisa diterjemahkan sebagai kebutuhan nafsu yang paling dasar, kebutuhan akan rasa lapar, bernafas, butuh makan, seks, rasa ingin istirahat. Ketika orang merasa kebutuhan ini sudah tercukupi, maka akan meningkat pada kebutuhan ‘level’ berikutnya, yaitu kebutuhan akan Rasa Aman. Yaitu rasa aman atas ancaman disakiti secara fisik, rasa aman secara financial, rasa aman terhadap kesejahteraan diri dan keluarganya, rasa aman ketika hidup dalam sebuah komunitas. Terpenuhinya kebutuhan diri ini, akan membawa orang akan meningkatkan ‘level’ kebutuhannya pada tahap berikutnya, yaitu kebutuhan akan Rasa ingin dicintai. Orang ini merasa kebutuhannya terpenuhi ketika orang memperhatikannya, mendengar pendapat-pendapatnya, mendapat perlakuan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Yang bisa berlanjut meningkat kepada kebutuhan akan Rasa ingin dihargai atau dihormati. Keinginan untuk melihat orang lain selalu menghargainya, membutuhkannya, meningkatnya rasa percaya diri. Sampai kemudian meningkat pada puncak kebutuhan diri pada Rasa ingin mengaktualisasikan diri. Kebutuhan untuk menggagas nilai-nilai, moralitas, melihat hal-hal diluar dirinya lebih penting dari pada kebutuhannya, kebutuhan untuk memberikan kontribusi positif pada kehidupan di sekitarnya.

Bagi saya sendiri, mungkin semua itu bisa saling dikait-kaitkan dengan misalnya pendapatnya Stephen Covey tentang ‘maturity’ seseorang dimana diistilahkan olehnya, bahwa kedewasaan seseorang adalah sebuah proses yang dengan sadar ditempuh untuk membawa diri dari ketergantungan (dependence), menuju watak kemandirian (independence) sampai kepada sikap dewasa yang di-terminologikan dengan istilah kesalingtergantungan (interdependence). Tapi rupanya Covey belum selesai ketika kemudian pada bukunya 8th Habit, dia bicara tentang the Greatness. Yang dari kacamata saya mungkin mirip-mirip dengan ‘human-needs’-nya Maslow pada level paling tinggi.

‘Orang yang selesai dengan dirinya’ bisa didekati dengan pengertian sosok orang yang sudah pada level 5-nya Maslow sampai pada tingkatan di luar itu. Karena toh definisinya Maslow sendiri saya melihat bahwa itu adalah kebutuhan diri, sehingga orang yang sudah selesai dengan dirinya, tentunya tidak lagi berpikir tentang dirinya, dan itu mungkin diluar konteks Human-needs. Atau mungkin bisa didekati dengan 8th Habit-nya Covey, ketika sosok seseorang bisa dilihat tingkat maturity-nya saat dia berpikir tentang hal-hal ‘Legacy’ pada konsep the Greatness. Hal-hal baik yang bisa ditinggalkannya yang menjadi kontribusi selama hidupnya di dunia.

Tapi terlepas dari itu semua, bisa jadi bung Anies punya pendekatan sendiri untuk menjabarkan istilahnya itu, yang mungkin juga bisa berbeda dengan pendekatan saya. Tapi apapun itu, ketika definisi ‘sudah selesai dengan dirinya’ sebagai salah satu ciri kenegarawanan seseorang yang seharusnya melekat pada para pemimpin bangsa ini di’tabrak’-kan dengan profil figur para pemimpin kita baik tingkat nasional maupun daerah, eksekutif, yudikatif maupun para wakil wakyat, bisa jadi kita akan berkernyit dahi, atau malah mungkin tersenyum kecut, bahkan mencibir melihat kenyataan.

Saya sendiri akan tetap memegang pemahaman bahwa apa yang terlihat belum tentu itulah yang sebenarnya terjadi. Tapi bagaimana pun juga kita hanya akan bisa menilai dari sebatas pemetaan apa yang kita lihat, dengar, rasakan oleh panca indera.

Dan sangat sulit bagi saya ketika melihat seorang pemimpin yang masih sibuk memoles citra dirinya di depan khalayak agar selalu ‘look good’, untuk saya nilai sebagai seseorang yang ‘sudah selesai dengan dirinya’. Sulit bagi saya untuk menilai seorang wakil rakyat yang ‘sudah selesai dengan dirinya’ ketika dia masih perlu merasa harus bergaya dengan arloji, pakaian dan mobil mahal agar orang lain mau menghargai dirinya sebagai ‘Anggota Dewan yang Terhormat’. Juga ketika saya mendengar berita seorang kepala pemerintahan daerah yang masih punya waktu untuk berselingkuh atau mengkorupsi uang rakyat, membuat saya harus menyimpulkan bahwa mereka semua sebenarnya ‘belum selesai dengan diri mereka’.

Tapi mungkin tidak akan pernah habis kalau kita bicara tentang orang lain. Lebih baik kita melihat diri kita masing-masing. Dan bilamana kita merasa ‘selesai dengan diri kita’ pun, menurut saya tidak harus kita berpikir tentang hal besar, berpikir sesuatu yang mencakup seluruh bangsa. Boleh jadi kita ‘selesai dengan diri kita’, kemudian kita berpikir dan bertindak demi kebaikan orang-orang di sekitar kita, memberdayakan orang-orang di sekeliling kita. Karena ‘sudah selesai dengan diri kita’, apa pun yang kita kerjakan sudah ‘its not about me,.. its about them, its about civilization, ist about life, about mankind, about our next generation…’, dan banyak lagi ‘about’ yang lain. Dan yang bisa menilai bukan orang lain. Yang bisa menilai apakah kita sudah selesai dengan kita hanya kitalah yang secara jujur bisa menilai diri kita sendiri.

Sehingga tidak berlebihan, bila saya mencoba mengajak anda untuk sejenak melihat dengan jujur diri kita masing-masing, apakah kita sudah selesai dengan diri kita sendiri. Dan bila belum, pertanyaan berikutnya adalah kapan kita akan agendakan saat dimana kita sudah selesai dengan diri kita. Karena menurut saya ini bukanlah soal uang, kekayaan, kesuksesan, jabatan, status sosial, predikat, atau apa pun pengakuan orang lain, ini adalah murni soal segala hal yang ada di pikiran dan hati kita dalam melihat dunia.

Mungkin tidak sulit untuk dikatakan atau dipikirkan, tapi yang jelas sampai sekarang, ketika suatu ketika seseorang ditawari sebagai wakil rakyat, calon bupati, atau apa pun predikat seorang pemimpin, belum pernah ada yang dengan jujur berkata apakah mereka ‘sudah selesai dengan diri mereka’ dan siap untuk berpikir dan bertindak demi kepentingan semua di luar dirinya. Artinya, bisa diasumsikan mereka semua merasa ‘sudah selesai dengan diri mereka’. Sehingga khalayak harus kecewa ketika pada kenyataannya perilaku mereka justru mengindikasikan bahwa sebenarnya mereka belum selesai dengan diri mereka.

Tidak berlebihan kalau setiap saat kita harus mengingatkan diri kita sendiri, ‘sudah selesaikah kita dengan diri kita sendiri..?’

 

31 Maret 2012

Pitoyo Amrih




Last Updated on Saturday, 31 March 2012 12:47
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2013 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo