pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..sangat menyukai novel2 wayang pak Pitoyo.. membaca novelnya membuat saya seperti ingin hidup di era pewayangan itu.."
Ryma Hidayat


Home Seri Kearifan Jawa
Tampil Untuk Berani Mengalah PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Tuesday, 20 September 2011 10:05

(Sebuah perspektif dan renungan makna tembang “Mijil”). Tahun 1993, kira-kira beberapa minggu setelah wisuda sarjana, kakek saya menghadiahi sebuah bingkisan atas kelulusan saya. Berisi sebuah pena dan secarik kertas. Secarik kertas berisi syair tembang Macapat, yang berjudul “Mijil”. Saya ingat tembang itu juga pernah dilafalkan ketika saya usia SD sebagai salah satu bahan mata pelajaran sekolah. Dan seperti ketika sekolah dulu, saat saya membaca deretan kalimat “Mijil” di depan kakek saya, kala itu, juga terasa biasa saja. Namun waktu berjalan, sesekali juga saya membaca lagi syair “Mijil” itu. Semakin terasa ada makna di sana. Dan kini, ketika saya membaca lagi syair itu, saya semakin merasa, bahwa hadiah berupa catatan syair “Mijil” adalah sebuah hadiah yang sangat berharga bagi saya.

Saya yakin setiap orang yang memiliki akal sehat pasti berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi hari demi hari menjalani hidupnya. Tinggal mungkin masalahnya, persepsi dan definisi ‘baik’ bagi setiap orang pastilah berbeda-beda. Ada yang menganggap keadaan baik adalah ketika kita mencari kebenaran, upaya lebih baik hari demi hari bisa diartikan sebagai semakin luas mendapatkan penglihatan akan kebenaran. Sementara sebagian lain menganggap baik adalah mendapat keuntungan, bila esok hari aset yang dimilikinya lebih banyak maka berarti hari esok lebih baik daripada hari ini. Ada juga yang melihat pada tolok ukur kemenangan akan sebuah persaingan. Karir meningkat, semakin dikenal banyak orang, bagi kelompok orang ini akan dianggap sebagai sebuah perjalanan menjadi baik.

Peta kehidupan di kepala kita yang kebetulan ditakdirkan hidup di jaman yang serba gemerlap bin instan ini memang bisa jadi membuat segalanya menjadi membingungkan. Pun bila tidak dilandasi oleh perenungan tujuan hidup yang secara tajam bisa selalu kita bawa, pemahaman yang ada di kepala kita justru bisa membawa kepada sebuah penglihatan akan ilusi. Sepertinya nyata tapi palsu. Tampak menyenangkan tapi membosankan.

Sehingga terkadang kita pun bisa ikut hanyut di dalam pusaran arus kehidupan yang justru membuat kita semakin jauh dari keinginan kita untuk menjadi lebih baik. Suatu ketika ada seseorang meneriakkan ide sehingga bisa menjadi pengusaha sukses dalam waktu singkat, maka orang pun berbondong-bondong mendengarkannya. Di tempat lain ada orang yang punya tips sukses karir dalam waktu singkat, maka ganti orang mengerubuti orang ini. Lalu apa sih sebenarnya definisi menjadi baik?

Dan beruntung kita memiliki pujangga sekaligus filsuf kehidupan jaman dahulu, yang bila kita secara jernih belajar dari apa yang mereka hasilkan, tersurat maupun tersirat, kita akan belajar untuk memahami diri kita sendiri. Seperti apa yang tergubah dalam tembang “Mijil”, yang konon dikomposisikan pertama kali oleh para Wali Songo. Yang berisi sebuah inspirasi tentang ‘bagaimana’ untuk menjadi lebih baik,.. yang baik!

Sebelum masuk kepada makna lirik tembang itu, saya perlu ceritakan disini tentang tembang Macapat. Terdiri dari sebelas tembang (salah satunya adalah “Mijil”), yang menurut para ahli tafsir sastra Jawa, tembang Macapat itu merupakan urutan sebuah perjalanan seseorang dari lahir sampai mati. “Mijil” adalah yang pertama. Secara harfiah berarti muncul atau tampil, ditafsirkan sebagai sebuah kelahiran. Ada yang menjelaskan bahwa itu merupakan kelahiran fisik bayi lahir dari kandungan ibunya, ada juga yang menafsirkan sebuah kelahiran ketika orang mulai muncul keinginan untuk menjadi baik, dikatakan sebagai kelahiran kembali.

Kemudian secara urutan, tembang Macapat berikutnya bernama “Maskumambang”, sebagai gambaran seorang bocah yang senang bermain. “Sinom” yang berarti muda, gambaran hidup seseorang disaat ‘muda’. “Asmaradana” sebagai simbol seseorang yang mulai menyukai lawan jenisnya. “Kinanthi” ketika orang tersebut mulai mengarungi bahtera rumah tangga. “Dandanggula” adalah gambaran saat indahnya kehidupan rumah tangga. Kemudian “Gambuh”, adalah sebuah sindiran saat kita mulai berkata ‘embuh’ kepada pasangan kita, dalam bahasa Jawa, ‘embuh’ berarti ‘tidak tahu’ atau ‘tidak peduli’. “Durma” adalah gambaran perselisihan dalam rumah tangga yang terkadang ada, kecil maupun besar. “Pangkur”, berarti gambaran masa-masa sulit kehidupan. “Megatruh”, berarti ‘megat-roh’, berpisah dengan roh, saat dimana roh berpisah dengan raga. Yang terakhir adalah “Pocung”, gambaran dimana raga yang ditinggal roh, dipocong dan dimakamkan.

Setiap tembang tersebut bisa digubah berisi syair yang berbeda-beda. Tapi setiap penggubah harus tunduk pada aturan yang disebut ‘ guru lagu’ (jatuhnya vokal di akhir tiap bait) dan ‘guru wilangan’ (jumlah suku kata tiap baitnya). Yang ternyata saya juga melihat setiap aturan guru lagu dan guru wilangan itu memiliki arti sendiri-sendiri yang bisa ditafsirkan menjadi sebuah nasihat kehidupan.

Kembali kepada “Mijil”, syair yang dinasihatkan ke saya, adalah syair yang pertama kali digubah, yang berbunyi :

Dedalane guno lawan sekti. Dibuka dengan sebuah kalimat yang mengabarkan tentang jalan agar seseorang bisa menjadi bermanfaat dan sakti. Juga saya bisa tafsirkan menjadi sebuah pengingat kita manusia, bahwa tujuan hidup bisa dilihat dari dua perpektif yaitu mempersiapkan bekal setelah mati (karena manusia pasti mati), dan melakukan sesuatu agar kesempatan kita hidup di dunia ini, menjadi sebuah kehidupan yang bermakna dan memberi manfaat bagi kehidupan. Sakti bisa ditafsirkan tentang gambaran sebuah pengetahuan dan ketrampilan seseorang. Bait ini bisa diterjemahkan secara bebas sebagai ‘jalan agar kita bermanfaat di dunia ini (sebagai salah satu tujuan hidup kita) dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki’.

Kudu andhap asor. Yang berarti harus bisa menempatkan diri sehingga kita bisa selalu menghargai orang lain, siapa pun orang itu! Andhap asor artinya ‘dibawah’. Bukan dilihat sebagai kita berada dibawah, tapi dilihat sebagai kita menempatkan orang lain selalu lebih tinggi dari kita, selalu kita hargai, selalu kita hormati, tak peduli apakah dia pejabat atau gembel, orang pandai atau tidak, kita tetap harus menghargainya sebagai sesama manusia. Dan menariknya, kalimat ini menjadi bait kedua setelah kalimat pembuka. Seolah memberi penekanan mengenai awal pertama kali seseorang harus mampu untuk ‘tahu diri’, sehingga bisa ‘menempatkan diri’. Untuk kemudian mampu ‘membawa diri’.

Wani ngalah luhur wekasane. Adalah bait yang paling saya suka di tembang ini, entah mengapa. Masih ada lorong-lorong pemahaman akan bait ini yang belum saya mengerti benar. Karena cukup menggelitik. Bukankah hal ini sebuah paradoks, ketika kita diminta untuk mengalah justru membutuhkan keberanian. Biasanya orang berbicara agar seseorang harus berani agar menang. Tapi ini tidak, justru kita harus berani mengalah. Saya ingat salah satu nasihat dalam Islam tentang siapakah sebenarnya musuh paling besar seorang manusia? Tak lain adalah dirinya sendiri, egonya sendiri. ‘Mengalah’ bukan berarti kita kalah terhadap orang lain, ‘mengalah’ adalah ketika kita bisa menang atas diri kita sendiri. Sehingga benar juga kata orang-orang itu, bahwa untuk menang harus berani. Tapi kini yang dimaksud adalah menang terhadap diri kita sendiri, kita memiliki kendali terhadap diri kita sendiri. Kita mampu memimpin diri kita sendiri. Itulah arti ‘mengalah’, dan itu butuh keberanian.

Tumungkul yen dipun dukani. Secara harfiah bait ini berarti ‘jangan membantah bila kita dimarahi’. Tapi perenungan saya tidak terbatas sampai disitu. Kita melihat ‘dimarahi’ bisa berarti oleh orang lain, tapi juga bisa oleh ‘kehidupan’, oleh ‘alam’, dan diujung perenungan itu bisa ‘oleh’ Sang Pencipta. Sebuah bencana, kecil atau besar, menimpa diri pribadi atau suatu umat, adalah juga saat kita ‘dimarahi’. Kita menemui kegagalan, karir mandeg, bisnis rugi, adalah juga saat-saat ketika kita ‘dimarahi’. Dan ‘tumungkul’ berarti ‘jangan membantah’. Yang bisa diartikan bahwa saat ‘dimarahi’ sebaiknya ‘tidak membantah’, tidak melawan, tidak putus asa, tidak saling menyalahkan. ‘Tidak membantah’ juga diartikan sebagai diam, mau untuk merenung, mau untuk belajar.

Bapang den simpangi. Bapang adalah nama sebuah gubahan tarian yang bisa dikonotasikan sebagai bentuk ‘hura-hura’. Bait ini bisa diartikan agar orang sebaiknya menghindari hal-hal yang berifat ‘hura-hura’. Lebih jauh lagi dimaknai sebagai hal-hal yang hanya ada dipermukaan. Karena konotasi ‘bapang’ bisa diperluas kepada hal-hal yang hanya tampak indah dipermukaan tapi dalamnya rapuh. Mungkin ini bisa dijabarkan kepada sikap-sikap yang terlalu menyukai pubilisitas, sifat suka dipuji, senang kalau orang lain mengagung-agungkan kita. Hal itulah yang sebaiknya dihindari.

Ono catur mungkur. Arti harfiahnya adalah, hindarilah pergunjingan. Pergunjingan biasanya selalu berawal dari prasangka buruk. Kalimat ini adalah sebuah inspirasi, alih-alih kita terlalu menanggapi prasangka buruk terhadap kita, sebaiknya justru kita lebih fokus pada apa yang baik kita kerjaan, dalam rangka memberi manfaat tadi. Saya terkadang sedih ketika kita melihat di sekitar kita saat ini masih jauh dari semangat seperti ini. Setiap kejadian, entah itu politik, hukum bahkan dunia hiburan sekalipun, selalu diikuti kegaduhan pergunjingan. Dan orang yang menjadi pokok pembicaraan juga ikut gaduh menanggapi. Sesuatu yang sebaiknya dihindari.

Untuk menjadi lebih baik, selalu berawal dari paradigma masing-masing kita tentang apa tujuan kita di sini, tujuan kita bekerja, tujuan kita membangun rumah tangga, sampai yang paling ujung adalah tujuan hidup kita. Dan saya pikir tidak terlalu berlebihan jika ‘menebar manfaat’ bisa menjadi inspirasi tujuan hidup kita. Dan itu bisa kita mulai dengan mari kita bersama-sama belajar makna “Mijil’…

20 September 2011

Pitoyo Amrih.




Last Updated on Tuesday, 20 September 2011 13:22
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2018 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo