pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Novel yg luarbiasa! Semua novel2 pak Pitoyo dari yang pertama sampai sekarang. Semuanya bersambung dan melengkapi. Novel2 luarbiasa!"
Sugiharto Gandamihardja


Home Seri Kearifan Jawa
Cakra Manggilingan PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 11 September 2011 10:32

Dunia berputar, semua pasti setuju. Berotasi berputar pada sumbunya, juga ber-revolusi berputar mengelilingi matahari. Kalau kita mau merenung, mungkin timbul pertanyaan, mengapa perputaran tak pernah berhenti? Akankah suatu saat berhenti? Bisa jadi kita akan menjawab memang begitulah kuasa Ilahi, namun mungkin kita bisa mengembangkan pertanyaan menjadi : Mengapa Tuhan membuat hukum alam yang demikian?

Saya mungkin bisa ceritakan sedikit pemahaman saya tentang filsafat hukum alam, tentang hal di atas, bukan pada pendekatan ilmu astronomi, tapi dari pendekatan kosmologi ilmu fisika alam. Dunia tak pernah berhenti berputar, karena konon seorang pintar cendekia fisika alam semesta pernah sampai kepada perenungan bahwa ‘entropi’ alam semesta ini menuju tak terhingga. Apa itu entropi? Sebuah pengertian sederhana tentang ini bisa didekati dengan gambaran sebuah ketidakstabilan. Entropi berjalan menuju tak hingga artinya semakin menuju ke-ketidakstabilan. Hukum alam Tuhan memang mengatakan sebuah kondisi tak stabil akan membuat ‘pergerakan’ untuk menuju ke-stabilan, tapi apa yang terjadi di alam hampir selalu, perjalanan  menuju ke-stabilan itu menyebabkan ke-ketidakstabilan ke-ketidakstabilan baru yang selisihnya justru semakin banyak ketidakstabilannya daripada ke-stabilannya. Perlu dahi berkerut untuk memikirkannya memang, tapi begitulah teori itu. Pemahaman yang membuat sang filsuf fisika ini konon menjalani kehidupan sufi dan tak henti-hentinya selalu memuja kebesaran Ilahi.

Saya mencoba membawa pengertian hukum alam ini kepada sebuah hukum sosial peradaban umat manusia. Yang tentunya juga semakin logis bila kita mengatakan bahwa  ‘perjalanannya’ akan semakin tidak stabil tinimbang hukum alam. Karena yang terlibat di sini adalah umat manusia yang jauh dari sempurna pemahaman, akal, pikiran dan perilakunya tarhadap perikehidupannya di muka bumi ini. Sebuah ketidak stabilan yang ‘memaksa’ setiap orang untuk selalu bergerak, selalu berpikir, selalu mencari hal baru, selalu mencoba memperbaiki, dan diantara sekian banyak perbaikan di muka bumi ini, sebagian justru menimbulkan masalah baru, yang bisa jadi lebih besar membuat ke-ketidakstabilan baru dari ke-stabilan yang diperoleh dari perbaikan sebelumnya, menimbulkan semangat untuk tetap bergerak, semakin berpikir, semakin mencari hal baru, demikian seterusnya. Sebuah siklus yang terjadi pada sebuah komunitas peradaban sekelompok umat manusia pada satu daerah dan satu ras tertentu. Dan menariknya, perputaran siklus ini di daerah lain dan suku bangsa lain bisa berbeda, ada yang berputar cepat ada yang pelan, ada yang suatu ketika sebuah ras mencapai kejayaannya, sementara saat yang sama ras lain mencapai kejumudan. Dan di lain waktu, yang jaya menjadi jenuh, sementara yang dibawah, tumbuh membaik.

Itulah semua yang mungkin digambarkan sebagai kejadian ‘roda berputar’. Roda tak nampak yang begitu besar, menjangkau segala sisi kehidupan, baik yang bersifat hukum alam, maupun hukum sosial, dan melibatkan semua faktor yang ada di alam semesta ini. Dan yang membuat saya juga kagum adalah ketika para filsafat dan budayawan Jawa dulu ternyata juga sudah melihat perputaran roda itu, dan membuat sebuah ungkapan yang begitu dalam.. Cakra Manggilingan!

Mari kita coba sedikit lihat perputaran roda peradaban itu. Kita mulai dari daratan Amerika, dulu beberapa ribu tahun sebelum Masehi telah ada kehidupan di sana yang konon begitu harmoni dengan alam. Mungkin kita bisa menilai sebagai kehidupan primitif, tapi kebaikan tidak bisa hanya dinilai dari kemajuan teknologi. Peradaban Astec dan Inca yang pernah mencapai kejayaan, kemudian suatu ketika dilanda perang saudara yang begitu buruk semua musnah. Kurun waktu berikutnya muncul bangsa Indian yang hidup bersahabat dengan alam. Suatu ketika berdatangan bangsa Eropa, membangun peradaban, terjadi perang saudara, kemudian bersatu membangun Negara Amerika. Terimbas revolusi industri dari Eropa, industrialisasi dimana-mana, muncul masalah kaum buruh dan urban, resesi, muncul perang dunia. Kemudian bangkit lagi, menjadi kekuatan dunia di era perang dingin, semakin maju, tapi kembali orang Amerika terlena, krisis ekonomi melanda, dan kini kembali mengalami titik terendah. Baru kali ini utang negri Amerika lebih besar dari GDB-nya.

Kita lihat bangsa Eropa. Suatu masa dulu pernah porak poranda oleh budaya bar-bar. Kemudian tumbuh peradaban Romawi, jatuh dan bangun. Perang antar negri, konflik internal masing-masing negri antara kaum bangsawan dan jelata, reformasi, revolusi industri, industri manufaktur dan jasa muncul dimana-mana, kemudian krisis, perang, rekonsiliasi, kembali tumbuh, kini krisis lagi, tahun-tahun ini begitu berat  bagi Eropa ketika dimulai dari Yunani kemudian Portugal, dimana negri mereka dinyatakan bangkrut. Bayangkan, sebuah negara bangkrut?!

Peradaban Timur Tengah sampai afrika utara di barat dan Persia di timur, apa yang terjadi juga demikian, sebuah siklus. Pernah mencapai kejayaan suatu ketika dulu, konon jejaknya masih ada, dimana terdapat bangunan-bangunan yang dikatakan sudah memiliki budaya paling modern pada jamannya sekian ribu tahun sebelum masehi. Mulai muncul perpecahan, mengalami masa gelap jahiliyah begitu lama, kemudian tumbuh kejayaan pemerintahan Islam, kemudian terjadi konflik, perebutan kekuasaan, perang antar kelompok dan suku, kemudian tumbuh lagi menjadi banyak negara kerajaan berdaulat, modernisasi dimana-mana, kini kembali krisis oleh isu demokrasi.

Anda bisa lihat jejak yang sama juga terjadi di peradaban Asia Timur (Jepang, Korea, Cina) dan Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh). Lalu bagaimana Asia Tenggara? Khususnya Indonesia? Keping-keping jejak sejarah mengatakan, kita pernah berjaya suatu ketika dulu, sekian tahun sebelum Masehi sampai sebelum datangnya bangsa Eropa di abad-15. Ada kerajaan Sriwijaya, Pajajaran, Majapahit, Mataram. Kemudian di wilayah timur juga ada kerajaan Ternate yang konon sampai jauh ber-ekspedisi ke utara. Penjajahan membuat kita terpuruk, muncul pergerakan oleh para intelektual. Masa kemerdekaan, pergolakan politik internal bangsa, kemudian diredam dan konsentrasi pembangunan di masa orde baru, kisruh reformasi, gonjang-ganjing riuh rendah gaduh politik, sampai mulai beberapa tahun terakhir ini dimana parameter ekonomi menunjukkan bahwa kalau kita mau hal ini bisa menjadi momentum untuk sebuah kekuatan peradaban baru bahkan sampai seratus tahun mendatang!

Dari kacamata dunia secara keseluruhan pun demikian, lihatlah ‘roda’ kejayaan peradaban itu terus berputar bila kita urutkan berdasar kurun waktunya. Misal dimulai kejayaan peradaban Inca, ke timur kemudian muncul masa Romawi kuno, sementara Inca mulai redup. Kemudian kemajuan peradaban Persia, masa kejayaan Timur Tengah, semakin ke timur, era kejayaan Cina, Jepang. Angin semakin ke timur ketika Amerika mulai berjaya, kemudian negara-negara di Eropa, dan kini peradaban yang dilongok dari perspektif ekonomi, mulai terlihat aliran modal yang begitu masif ke Cina, india, dan .. Indonesia. Dunia berputar! Peradaban berputar! ‘Roda’ itu berputar! Cakra Manggilingan!

Di tengah kegaduhan segala macam permasalahan internal bangsa kita, boleh saja kita sejenak kecewa, mungkin marah, ikut memaki keadaan, ikut menyindir bahkan mencemooh pemimpin bangsa dan diri kita sendiri, tapi di tengah kehebohan itu semua sebaiknya kita bisa merasakan tanda-tanda alam, tanda-tanda perputaran ‘roda’, peka terhadap ‘cakra manggilingan’, dan bila anda percaya kata-kata saya, saat inilah saat yang tepat untuk kita membangun membangkitkan kembali peradaban! Dan itu bisa dimulai dengan fokus dan konsentrasi pada hal-hal yang bisa kita lakukan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Biarlah pernak-pernik masalah yang ada menjadi tanggung jawab petugas atau orang-orang yang memiliki wewenang di sana.

Kenapa saya bisa berpendapat inilah saat yang tepat? Lihatlah sekeliling kita, Amerika kini terpuruk oleh utang, Amerika latin belum bisa mengendalikan kerajaan industri narkoba, Eropa ketar-ketir oleh kebangkrutan yang sudah dimulai di Yunani, Portugal, dan tanda-tandanya menyusul Irlandia, Spanyol, kemudian Itali dan Eropa timur. Sementara Afrika sampai sekarang masih juga belum bisa terbebas dari konflik internal, rasial, dan kekerasan. Timur-tengah terlalu sibuk dengan isu demokrasi dari kaum muda mereka yang menginginkan  perubahan. Sementara Australia terlalu multi-ras untuk bisa membuat mereka satu nusa satu bangsa satu rasa. Semua orang berpaling ke Asia!

Lalu siapa Asia? Ketika Jepang dan Korea justru sudah jenuh karena demografi mereka menuju negara tua, Cina dan India secara ekonomi dikatakan ‘overheat’ karena kemajuan mereka terlalu cepat, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura, Malaysia, Phillipina, bahkan mungkin Thailand, menunjukkan indikator ekonomi negri itu tidak terlalu signifikan berkontribusi pada keseimbangan ekonomi dunia, maka akal sehat itu akan membawa wajah untuk berpaling ke Indonesia! Yang kita seharusnya bersyukur ditakdirkan memiliki wilayah yang luas dan sumber daya manusia yang signifikan besar jumlahnya.

Anda boleh tanya pakar ekonomi siapa saja, yang saya yakin pasti semua setuju bahwa sejak beberapa tahun terakhir ini ada pergerakan modal yang sangat masif ke Indonesia. Agar sehat, pemerintah berusaha mendorong agar modal itu tidak melulu berputar di pasar uang, tapi juga harus mengalir ke sektor  riil, biarlah itu menjadi tugas pemerintah. Dan menjadi tugas kita semua, untuk bisa memanfaatkan modal–modal sektor riil menjadi hal-hal yang produktif bagi kita. Dan bila semua komponen bangsa disiplin melakukannya, saya yakin kejayaan peradaban bangsa Indonesia hanyalah masalah waktu yang sebentar lagi di depan mata.

Kearifan bangsa itu berkata ‘Cakra Manggilingan’, dan bagi saya, perenungan akan kearifan itu seharusnya memberi kita semangat untuk berkata,.. kini giliran kita!

 

11 September 2011

Pitoyo Amrih




Last Updated on Sunday, 11 September 2011 16:40
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo