Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 29

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 32

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::load() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 161

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 138

Strict Standards: Non-static method JRequest::clean() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 33

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/environment/request.php on line 463

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/environment/request.php on line 464

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/environment/request.php on line 465

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/environment/request.php on line 466

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/environment/request.php on line 467

Strict Standards: Non-static method JRequest::_cleanArray() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/environment/request.php on line 468

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 35

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 38

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 39

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::load() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 161

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 138

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 46

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 47

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 50

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 53

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::import() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 54

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/loader.php on line 71

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 57

Strict Standards: Non-static method JLoader::register() should not be called statically in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php on line 58

Warning: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php:29) in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/session/session.php on line 423

Warning: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php:29) in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/session/session.php on line 423

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/import.php:29) in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/libraries/joomla/session/session.php on line 426
Pasar Tak Lagi Tenar (2)
pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"... Cinta Mati Dasamuka awesome!! .. two thumbs up!"
Dewi Nova


Home Seri Kearifan Jawa
Pasar Tak Lagi Tenar (2) PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Saturday, 21 May 2011 11:45

(sambungan tulisan sebelumnya)

Secara lengkap, kata kearifan itu berbunyi: Pasar Ilang Kumandange, Kali Ilang Kedunge, Gunung Ilang Kukuse. Kedung, adalah bagian dari alur aliran sungai dimana di daerah itu jauh lebih dalam dari rata-rata kedalaman seluruh aliran sungai. Secara hukum alam sebuah aliran alir, di daerah kedung inilah akan sempat terjadi pusaran air yang mengalir. Di permukaan akan tampak hamparan air yang terlihat lebih tenang dari aliran sungai lainnya. Sehingga membuat kehidupan ekosistem aliran sungai banyak terkonsentrasi di daerah ini. Ikan banyak dijumpai di daerah kedung, biasanya banyak orang akan berkumpul di sekitar daerah kedung untuk mengail ikan. Burung-burung lebih banyak berkeliaran di sini, karena sumber makanan mereka memang lebih banyak di daerah sini. Di sekitar tepi aliran sungai, relatif lebih banyak aneka ragam tanaman besar kecil, karena memang aliran sungai di sini jauh lebih lambat. Tidak seperti daerah aliran sungai lainnya yang lebih dangkal, dimana aliran akan jauh lebih deras, sehingga hanya tanaman-tanaman keras yang memiliki akar kokoh saja yang bisa bertahan di tepi aliran sungai.

Kali Ilang Kedunge, juga bisa diartikan sebagai sebuah pertanda akan sebuah perubahan. Orang dahulu mungkin belum begitu paham apa itu pendangkalan sungai. Saya coba renungi bahwa Kali Ilang Kedunge, secara harfiah bisa diartikan sebagai sebuah proses pendangkalan sungai. Bagi orang dahulu, mungkin belum merasa begitu penting untuk mengetahui kedalaman sebuah aliran sungai. Bisa dibayangkan waktu itu, hanya melihat dari tampak, bahwa yang disebut kedung artinya adalah bagian dari aliran sungai yang mengalir lebih tenang, banyak ikan dan warna air-nya lebih gelap (karena lebih dalam). Dan pertanda kali ilang kedunge muncul dari sebuah perubahan yang terjadi pada kedung itu, dimana ikan lambat laun semakin sedikit, aliran di permukaan tidak setenang dulu, dan semakin jarang orang memancing di sana.

Kukus pada Gunung adalah asap yang keluar dari puncak gunung. Secara ilmu pengetahuan, asap tersebut pada dasarnya adalah pelepasan gas-gas dan tekanan tinggi di dalam perut bumi melewati celah-celah lapisan bumi dan keluar pada titik terlemah di lubang kawah gunung berapi. Asap mengartikan bahwa gunung berapi itu masih aktif. Masih menyimpan energi yang sangat tinggi dan setiap saat bisa meletus membahayakan penduduk di sekitar lereng. Suatu ketika bila saja kukus tersebut tiba-tiba tak nampak, ada dua kemungkinan di sana. Kemungkinan satu adalah bahwa tekanan dalam bentuk gas yang dikeluarkan lewat kawah itu memang sudah habis. Bukan tekanan perut bumi yang habis, tapi memang jalur pelepasan magma ke permukaan bumi, ke arah kawah gunung itu sudah buntu sehingga tak ada lagi gas yang terlepas ke udara. Sehingga menjadi gunung mati, cepat atau lambat kawah akan mengering dan mengeras.

Kemungkinan kedua adalah, bahwa celah jalur menuju kawah gunung itu sudah terlalu sempit bagi tekanan-tekanan gas yang harus dikeluarkan menjadi bentuk asap. Karena tekanan yang tersisa bisa berbentuk larutan endapan lumpur yang tidak lagi mengeluarkan asap atau gas. Kemungkinan kedua ini berarti bahaya dan harus waspada, karena gunung meletus hanya masalah waktu.

Kedua kemungkinan itu menyiratkan kearifan, yang kurang lebih sama yaitu sebuah perubahan. Apa pun perubahan itu. Kemungkinan satu memang sebuah perubahan yang bisa memberikan kelegaan, dan orang bisa memanfaatkan lahan-lahan di lereng karena tempat itu akan menjadi tempat yang subur sebagai bekas gunung aktif. Dan kemungkinan kedua jelas harus diwaspadai, karena bisa berarti harus disiapkan rancangan evakuasi. Tapi apa pun kemungkinannya, tetap harus diwaspadai ketika kita tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.

Di dunia wayang, bila kita melihat secara gambaran besarnya, dimana atas gubahan pujangga tanah Jawa, jalinan kisah itu ditautkan satu dengan yang lain sejak jaman Kisah Para Dewa, Harjunasasra, kemudian jaman Ramayana, sampai Mahabarata, yang berpuncak pada Baratayudha, dan berlanjut pada kejayaan Parikesit, yang kemudian di tafsir menurunkan raja-raja tanah Jawa. Siklus sebuah kerajaan di tanah Jawa pun selalu bergeser. Dari kerajaan Kediri, ke masa kejayaan Majapahit di timur dan Pajajaran di barat. Kemudian muncul kerajaan Demak, bergeser ke selatan kekejayaan Pajang, sampai kemudian munculnya Mataram, yang kemudian terbagi empat sampai sekarang menjadi sebuah simbol budaya Jawa. Itu belum termasuk kasultanan-kasultanan lainnya misal di Cirebon, Banten, Pasuruan, dan sebagainya.

Mengapa kisah kejayaan itu selalu berganti? Tak lain adalah karena sebuah perubahan. Hal ini bisa kita jabarkan sebuah pengertian bahwa tidak ada yang kekal di atas bumi ini. Sang Pencipta telah membuat mekanisme bahwa yang kekal berlaku pada manusia adalah perubahan itu sendiri.

Pasar Ilang Kumandange, Kali Ilang Kedunge, Gunung Ilang Kukuse adalah tiga kalimat kearifan yang biasanya diucapkan secara bersama, yang ketiganya kurang lebih menyiratkan hal yang sama yaitu sebuah kearifan agar peka terhadap perubahan yang terjadi. Secara hakiki kehidupan manusia memang berubah. Baik dilihat dari skala kehidupan seorang manusia dari lahir hingga matinya. Ataupun dilihat dari skala yang lebih besar yaitu kurun waktu kehidupan umat manusia sejak dari Nabi Adam sampai sekarang.

Seorang manusia lahir, kemudian belajar duduk, merangkak, berdiri, berjalan, kemudian berlari, berlatih mengucap kalimat, mempertajam panca indera, ketrampilan fisik tangan dan kaki, belajar mengembangkan kemampuan otak, kemudian berkarya, menghasilkan keturunan, membimbing anak keturunannya agar bisa menghadapi kehidupan, begitu seterusnya. Selalu berubah. Juga kurun waktu umat manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang. Manusia yang dilengkapi kemampuan berpikir dan menganalisa terus mengalami perubahan untuk kehidupan yang lebih baik. Ketika sadar bahwa manusia saling membutuhkan satu sama lain, maka mereka berkumpul membentuk komunitas, menunjuk pemimpin, membuat sebuah negara. Tak selamanya negara itu jaya, ada pasang surutnya. Suatu ketika silang pendapat mennimbulkan perpecahan, membuat manusia belajar, sehingga menajamkan kembali arti sebuah kebutuhan manusia untuk berkumpul bersama dalam suatu kelompok.

Hal seperti inilah yang saya yakin secara tajam dirasakan dan dilihat oleh para cerdik pandai tanah Jawa, sehingga muncul kearifan ini. Kearifan yang seharusnya bisa memberikan ilustrasi kepada kita bahwa kita sebagai individu juga harus berubah. Ketika kecil, perubahan itu lebih bersifat naluri. Ketika seorang bayi mulai bisa merasakan indera pengecapannya, secara naluri diapun berubah, menjadi tumbuh kebiasaan untuk selalu memasukkan apa saja kedalam mulutnya. Dia sekedar ingin merasakan apa saja yang dia lihat dan dia sentuh. Ketika seorang anak tumbuh bisa berlari, secara naluri dia pun merubah dirinya, selalu saja dia cenderung ingin berlari. Lambat laun semakin dewasa, semakin didominasi oleh kemampuan otak, disinilah juga timbul hasrat. Dimana manusia dewasa tidak lagi didominasi oleh naluri tapi juga di beri kebebasan untuk memilih. Sehingga ‘keinginan untuk berubah’, juga berubah dari yang semula bersifat naluriah menjadi sesuatu yang membutuhkan sebuah kemauan. Karena manusia dewasa menjadi bebas untuk memilih, mau berubah atau tidak.

Ketika banjir yang dulunya tak pernah terjadi kini melanda sebuah kota misalnya, dibutuhkan sebuah kearifan untuk melihat dan menumbuhkan kemauan baik secara individu maupun kolektif pada komunitas kota tersebut, untuk berubah. Kebiasaan mereka buang sampah, kebiasaan mereka menutup tanah dengan beton, kebiasaan mereka menebangi pohon.

Dalam kehidupan kita secara individu pun juga demikian. Karir kita, kehidupan sosial kita, rumah tangga, pertumbuhan fisik kita. Ketika ada pergeseran dan perubahan diluar sana, maka kita juga harus berubah. Ketika banyak orang semakin pintar, sebaiknya kita juga berubah agar kita selalu mau untuk belajar. Anak-anak kita yang tumbuh dewasa pada masa kini, tentunya berbeda suasana dengan masa kecil kita dulu, sehingga kita juga harus berubah.

Sama halnya dalam menggapai sukses. Definisi sukses, berkembang dan selalu berubah. Untuk menggapainya juga menuntut kita agar selalu peka terhadap perubahan tersebut.

 

Pitoyo Amrih

Artikel diatas merupakan juga terdapat dalam buku "Ilmu Kearifan Jawa"

 




Last Updated on Saturday, 21 May 2011 11:59
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2020 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru


Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_latestnews/helper.php on line 109

Popular


Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

Warning: Creating default object from empty value in /home/ptyoc/public_html/pitoyoamrih/modules/mod_mostread/helper.php on line 79

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo