pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Pitoyo Amrih, menceritakan dengan gaya novelis yang mengasyikkan. Sehingga kita seperti dibawa dalam cerita dunia pewayangan yang penuh intrik, tipu maupun cerita heroik.."
Marbot


Home Seri Kearifan Jawa
Pasar Tak Lagi Tenar (1) PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Thursday, 19 May 2011 11:18

Di Solo, kota tempat saya tinggal, beberapa tahun yang lalu pernah terjadi polemik. Berawal dari arah kebijakan pemerintah kota waktu itu yang seperti membuka keran investasi begitu lebar pada kelompok properti pasar modern. Maka bermuculanlah di sana sini pembangunan konstruksi untuk menjadi pasar swalayan modern, peretail modern, mal-mal modern, pusat perbelanjaan seperti layaknya di kota-kota besar.

Polemik berawal dari orang-orang yang menyuarakan kegelisahan para pelaku perdagangan di pasar-pasar tradisional. Mereka memandang masa depan mereka seperti menjadi suram. Keberadaan pasar-pasar modern dikhawatirkan akan pelan-pelan menggerus roda perekonomian pasar tradisional. Ada yang meneriakkan atas alasan dari sisi budaya, dimana pasar modern akan menghilangkan identitas budaya. Ada yang khawatir dari sisi perekonomian kelas menengah ke bawah yang faktanya memang perputaran uang mereka lebih banyak terjadi di pasar-pasar tradisional. Nah, waktu itu juga ada yang mencoba melihat dari sisi kearifan Jawa yang menyebutkan bahwa pergeseran yang terjadi kala itu dianggap sebagai pertanda. Pertanda bahwa Pasar (baca: pasar tradisional) Ilang Kumandange, bahwa Pasar telah Hilang Ketenarannya.

Kerajaan kecil dan besar di tanah Jawa jaman dahulu memakai konsep dimana pusat pemerintahan menghadap sebuah tanah lapang yang bisa menjadi tempat orang berkumpul. Seperti sebuah tempat yang bisa difungsikan sebagai tempat serba guna. Tempat pertemuan, pertunjukan, perhelatan. Di sisi kiri dan kanan alun-alun terdapat pasar di satu sisi, dan tempat ibadah di sisi lain. Sebuah konsep yang sepertinya mengupayakan kehidupan seimbang antara kehidupan dunia yang disimbolkan dengan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi, dengan kehidupan akhirat, yang dilambangkan dengan bangunan tempat ibadah di sisi lain.

Di pasar itu berkumpul orang-orang dari mana saja, entah warga kerajaan ataukah para pendatang, dengan kegiatan jual beli barang. Orang-orang itu berangkat membawa barang yang bisa mereka hasilkan atau buat, untuk dijual di pasar itu, dan sekaligus sebagian dari mereka membeli barang-barang yang mereka butuhkan untuk kehidupan mereka. Sehingga kemudian bisa menjadi tolok ukur sebuah kemakmuran sebuah kerajaan di lihat dari ramainya orang-orang di pasar itu. Sebenarnya cukup logis, bila sepi artinya perputaran uang sedikit, sehingga margin keuntungan yang tertinggal melimpah kepada masyarakat kerajaan itu lebih sedikit, tinimbang bila yang datang ke pasar itu terdapat lebih banyak orang.

Bila sebuah pasar di negri itu sebelumnya terlihat sepi, kemudian lambat laun ramai, itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Itulah yang dinamakan pertumbuhan. Ada yang tumbuh secara alami dimana ketika pemerintahan kerajaan itu memberikan aturan main yang jelas dan sangsi yang tegas kepada pelanggaran atas kegiatan ekonomi di pasar itu, maka lambat laun orang akan percaya, merasa aman dan nyaman melakukan transaksi di sana. Sehingga semakin banyak orang datang karena merasa terjamin bahwa kegiatan jual beli yang akan dia lakukan bisa selesai seperti yang diharapkan.

Ada yang pertumbuhan itu didorong secara artifisial, misalnya suatu ketika pemerintah negri itu menyelenggarakan kegiatan, perhelatan, atau pertunjukan di alun-alun yang menghadap pasar itu. Tak lain adalah dalam rangka menarik orang untuk datang dan upaya untuk membuat pertumbuhan kunjungan naik secara tajam dalam waktu singkat. Mungkin kurang lebih sama dengan upaya-upaya advertising seperti yang terjadi pada budaya modern.

Kebalikannya, bila suatu ketika pasar itu semula ramai dikunjungi orang, tapi kemudian –entah lambat laun, entah dalam waktu singkat- pasar itu kehilangan pengunjung. Maka kejadian tersebut oleh para cerdik pandai penggagas kearifan jaman dahulu menganggap itu sebagai sebuah pertanda. Pertanda itulah yang seharusnya bisa diurai maknanya. Karena masing-masing kejadian bisa memberikan telaah yang berbeda walaupun datang dari pertanda yang sama. Pasar menjadi sepi. Pasar Ilang Kumandange. Pasar telah Hilang Ketenarannya. Tapi yang paling mendasar dari pertanda ini, pada dasarnya bahwa telah terjadi perubahan, dan perubahan inilah yang harus disikapi. Perubahan inilah yang bisa kita anggap rambu-rambu yang kita bisa rasakan dan lihat, terhadap Hukum Alam Sang Pencipta. Pilihan kita memang bisa membiarkan saja pertanda itu dan mensikapinya dengan tetap berlaku seperti biasa saja, atau kita yang melihat pertanda itu juga harus berubah agar tetap bisa paling tidak bertahan, atau syukur-syukur tetap semakin tumbuh dan berkembang.

(bersambung)

Pitoyo Amrih

 




Last Updated on Thursday, 19 May 2011 11:26
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo