pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Webpitoyo.com

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"Pitoyo Amrih, menceritakan dengan gaya novelis yang mengasyikkan. Sehingga kita seperti dibawa dalam cerita dunia pewayangan yang penuh intrik, tipu maupun cerita heroik.."
Marbot


Home Seri Kearifan Jawa
Mampir Ngombe PDF Print E-mail
Artikel Pitoyo Amrih - Seri Kearifan Budaya Jawa
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 02 April 2010 07:00

Mampir Ngombe adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti mampir sebentar untuk minum. Kalau anda banyak melewatkan waktu di Jawa Tengah, pasti sesekali pernah mendengar seseorang berucap memberi gambaran akan kehidupan yang seolah seperti mampir ngombe, sekedar mampir untuk minum. Istilah ini banyak diucap, oleh para sesepuh misalnya, pentas wayang, pentas budaya kraton.

Tapi kejadian ‘mampir ngombe’ sendiri, saat ini memang tidak banyak dijumpai, mungkin di daerah-daerah pedesaan masih ada, tapi saya sendiri yang hidup di lingkungan setengah kota setengah desa di pinggiran Solo. Saya hampir tak pernah menjumpai seseorang melakukan hal ‘mampir ngombe’ ini.

Dulu, memang banyak sekali seseorang melakukan perjalanan panjang. Bahkan kegiatan ini bisa jadi memakan lebih dari separuh waktu hidupnya. Tidak seperti sekarang, dimana sebuah perjalanan bisa dilakukan dengan cepat dengan terciptanya wahana kendaraan bermesin. Dulu, orang yang punya kedudukan pun, paling jauh menaikki kereta ditarik kuda, menaikki kuda, atau orang biasa para pengembara memilih jalan kaki dalam melakukan perjalanan. Dengan berbagai alasannya. Bisa dalam rangka mencari nafkah bagi kehidupannya, mencari kehidupan yang dianggap lebih baik, memaknai kehidupan, mencari ilmu, dan sebagainya. Dan begitulah, orang-orang itu melakukan perjalanan panjang.

Rumah-rumah di wilayah Jawa terutama di pedesaan jaman dulu, banyak yang kemudian menjadi tempat persinggahan para pengembara ini. Sehingga si tuan rumah banyak yang kemudian secara suka rela menyediakan wadah minum khas jaman dulu berisi air minum, diletakkan biasanya di pagar rumah. Sebenarnya ini merupakan niat baik si tuan rumah agar sang pengembara tak perlu repot dan merasa sungkan untuk bertamu hanya sekedar minta minum. Dan lagi, sang pengembara biasanya mampir hanya sekedar untuk istirahat sejenak dan mengatasi rasa hausnya. Setelah itu ingin segera mereka cepat pergi tanpa harus berbasa-basi dan pamit dengan tuan rumah.

Jadilah para pe-’mampir minum’ ini melakukan kegiatannya ‘mampir ngombe’ dengan singkat, seperlunya, dan segera bergegas pergi. Kejadian inilah yang kemudian dijadikan sebuah perlambang dalam melihat kehidupan kita manusia di dunia ini. Singkat, seperlunya, sampai ajal menjemput bak ‘mampir ngombe’.

Kira-kira apa semangat yang terkandung dalam kita melihat kehidupan seperti demikian? Lama coba saya merenungi dan sampai kepada pemikiran bahwa ungkapan itu mengandung makna yang bisa jadi akan selalu memotivasi kita secara positif menjalani hari demi hari kehidupan kita.

Sederhananya mungkin bisa dikatakan dari ungkapan ‘mampir ngombe’ itu, bahwa hidup di dunia ini singkat. Implikasinya adalah sangat terbuka banyak sekali alasan agar kita selalu berusaha memberi manfaat atas kehidupan kita di dunia ini. Hidup yang singkat juga menyiratkan sebuah semangat bahwa apa pun yang kita usahakan dalam memberi manfaat, tak perlu kita risau akan resiko-resiko yang mungkin terjadi dalam kita berusaha. Dan memang benar kata nasehat itu, jangan pernah menyerah, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, ‘life is too short to worry’. Semua itu bisa kita maknai secara signifikan ketika kita bisa melihat bahwa hidup ini tak ubahnya ‘mampir ngombe’.

Dan satu lagi yang juga penting untuk sebuah ‘mampir ngombe’, ketika mampir untuk minum itu benar-benar kita manfaatkan sehingga berguna, maka haus hilang, rasa lelah pun berkurang. Maka sudah seharusnya kita manusia selalu bersyukur kepada Sang Pencipta, betapa kita berkesempatan untuk ‘mampir ngombe’.

Mampir Ngombe, sebuah penglihatan akan kehidupan yang bisa memberi kita motivasi untuk selalu berusaha menebar manfaat, tidak pernah berhenti berusaha, dan selalu bersyukur karenanya…

 

Pitoyo Amrih

www.pitoyo.com

Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga.




Last Updated on Monday, 31 January 2011 09:00
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2013 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo