| Follow @PitoyoAmrih |
|
![]()
|
"...'Perjalanan Sunyi Bisma' nya bagus banget!..."
|
| Revolusi Budaya Kota Solo |
|
|
|
| Written by Pitoyo Amrih | |
| Sunday, 05 December 2010 07:00 | |
(tulisan dalam bentuk makalah yang disampaikan Pitoyo Amrih sebagai salah satu pembicara dalam diskusi berjudul “Anak Muda Membangun Kota Solo” sebagai tindak lanjut atas wacana “Revolusi Budaya” yang disampaikan Walikota Solo, di Balai Soedjatmoko, Solo, hari Minggu tanggal 5 Desember 2010) Tantangan akan perlunya sebuah revolusi budaya adalah hal yang perlu dicermati. Hal ini bisa dipahami karena satu pihak saat ini, Solo yang secara historis, harus mau dan selalu menyandang predikat Kota Budaya. Dengan mengusung visi menuju Kota Budaya yang bertumpu pada potensi Perdagangan, Jasa, Pendidikan, Pariwisata dan Olahraga (sesuai visi misi kota Surakarta). Sementara di lain pihak, muncul semangat menjawab tantangan kemajuan teknologi modern yang juga ingin menjadikan Solo sebagai kota berbasis teknologi informasi dalam rangka upaya peningkatan daya saing global di bidang Perdagangan, Jasa, Pendidikan, Pariwisata dan Olahraga, itu sendiri. Hal ini sepertinya menjadi sesuatu yang sulit ketika kita masih berkutat pada paradigma lama yang menarik garis tegas definisi budaya dengan definisi teknologi. Pemahaman awam memang melihat budaya lebih kepada entitas seni, dimana produk-produknya dianggap sesuatu yang masih bersifat imajinatif, bukan sebuah hal yang aplikatif langsung dapat memberikan nilai tambah bagi kehidupan. Sehingga orang lebih mengenal budaya pada produk-produk sastra, seni rupa, seni pentas, filsafat, kegiatan ritual. Contoh mudahnya kita bisa melihat persepsi banyak orang akan budaya langsung mengarah pada Batik, Wayang, Ritual Adat, dan Kraton. Membutuhkan upaya pemikiran yang tidak sederhana ketika kita harus menarik garis antara hal diatas dengan teknologi modern yang saat ini berisi persepsi akan teknologi informasi yang diwakili oleh perkembangan begitu pesat alat bantu komputer, telepon selular, internet, modern-gadget. Juga produk teknologi terapan lain yang bisa langsung bisa diambil nilai tambahnya, seperti teknologi otomotif, teknologi bangunan, jalan dan prasarana, teknologi biokimia, teknologi nano. Sampai di sini mungkin kita perlu kembali memaknai definisi filosofis dari ‘budaya’ itu sendiri, yaitu hasil kreatif budi daya pikiran manusia. Dimana budaya bisa berarti budi daya pikiran manusia yang berada dilingkaran soft-competency manusia melalui ide, komunikasi dan pemberdayaan akan nilai-nilai (yang bisa dilakukan dengan cara memelihara produk-produk –yang saat ini kita persepsikan sebagai- budaya) untuk selalu memperbaiki hakekat kehidupannya. Juga budaya bisa berarti hal-hal yang berada di lingkaran knowledge dan skill manusia, yang termanfaatkan dalam budi daya teknologi, untuk memperbaiki kualitas penghidupan manusia. Dari renungan di atas, perlahan kita bisa mulai menjamah pemahaman bahwa sebenarnya budaya tidak harus mengalami keterasingan di sebuah tata kehidupan modern yang melaju dengan ilmu dan teknologi. Karena ilmu dan teknologi juga merupakan bagian dari budi daya manusia. Sehingga ilmu dan teknologi juga merupakan produk budaya. Produk budaya yang kebetulan lebih memakai pengetahuan dan ketrampilan dalam pengembangannya tinimbang akan kajian nilai-nilai dalam masyarakat. Ilmu dan teknologi yang berkembang bisa jadi mengalami daur hidup tertentu. Dulu kita pernah mendengar kejayaan teknologi radio transistor, yang saat ini hanya ada di museum sebagai bagian dari catatan sejarah. Mikroprosesor sebuah komputer begitu pesat semakin maju. Sekarang terkesan begitu canggih, esok hari sudah usang. Berbeda dengan kajian dan media pengkomunikasi nilai-nilai yang saat ini kita kelompokkan secara eksklusif sebagai produk budaya. Sebuah nilai bergerak dan berkembang ke segala arah. Semakin didikusikan, ditelaah, dikembangkan, tidak membuat nilai-nilai terdahulu menjadi usang. Bahkan bisa jadi nilai-nilai baru tersegarkan oleh kajian nilai-nilai lama. Atau beberapa nilai-nilai lama yang sepanjang masa menjadi nilai-nilai universal. Sehingga terminologi budaya sebagai media pengkomunikasi nilai seharusnya tak akan pernah usang oleh pengaruh modernitas. Saat ini mungkin kita banyak dibanjiri kampanye pengembangan diri oleh para motivator modern, yang tak lain sebenarnya juga sebuah cara mengkomunikasikan sebuah nilai. Sementara bila kita telaah dan renungi secara mendalam, pementasaan lakon wayang “Wahyu Makutarama” misalnya, bisa jadi memberi substansi nilai yang lebih membumi bagi kita sebagai orang Jawa. Revolusi budaya bisa diartikan sebagai upaya kita menggagas dan memelihara budaya dengan tidak lagi berdiri pada paradigma konvensional akan pemahaman budaya, tapi adalah sebuah upaya yang didahului dengan merubah cara pandang kita terhadap budaya itu sendiri. Sehingga apa yang kita sebut sebagai budaya saat ini tidak lagi sekedar sebuah produk seni budaya yang justru dikarantina dan sengaja dipinggirkan dari pengaruh-pengaruh modern, tanpa harus mengurangi makna fungsi utamanya sebagai hasil budi daya kreasi untuk mengkomunikasikan nilai-nilai. Dari perspektif pemahaman saya, bisa dijabarkan sebuah konsep revolusi budaya dengan pendekatan-pendekatan sebagai berikut: Semua konsep pembangunan dan pengembangan kota Solo dan seluruh eks karesidenan Surakarta, harus berangkat dari master-plan tata kota, wilayah serta pengelolaannya, yang merupakan penjabaran dari penggalian kembali produk kearifan budaya lokal, dengan perenungan kembali konsep-konsep budaya tradisional untuk di-transformasikan ke dalam rencana kerja pembangunan dan pengembangan wilayah, misalnya :
Tafsir revolusi budaya yang saya utarakan bisa jadi sudah menjadi sebuah rumusan oleh para pembuat kebijakan, hanya saja seharusnya hal ini tidak hanya menjadi agenda pemerintah secara sepihak, tapi dari awal konsep dan strategi harus juga sudah melibatkan seluruh masyarakat Solo, paling tidak para tokoh-tokoh budaya dan orang-orang yang berkompeten dalam teknologi dan memiliki wawasan budaya.
Solo, 5 Desember 2010 Pitoyo Amrih Penulis buku dan pemerhati budaya.
|
|
| Last Updated on Wednesday, 05 January 2011 18:41 |
Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.
Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671