pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Webpitoyo.com

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


bannerkomentar

"..mas pitoyo rupanya punya kiat tersendiri supaya kisah wayang yang biasanya kita lihat melalui pagelaran wayang kulit menjadi sebuah novel apik dan menarik dibumbui dengan rekaan kisah buatannya sendiri"
Didiet Darmawan


Home Seri Tuhan Selalu Berbicara
Sudah Bersyukurkah Kita Hari Ini? PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Friday, 06 September 2002 07:00

Kalau anda pernah tahu seorang penyanyi Inggris bernama Phil Collins,  bisa dipastikan anda pernah tahu salah satu lagunya berjudul “Another Day in Paradise”. Dirilis dalam satu album Berjudul “But Seriously “.

Lagu ini kurang lebih berkisah tentang seseorang yang karena super sibuknya –beberapa orang percaya bahwa kisah ini adalah kisah pribadi Phil Collins sendiri-, berjalan begitu cepat memburu waktu, tidak perduli ada seorang peminta-minta yang dilewatinya. Sampai kemudian orang tadi sadar akan perasaan yang dipunyai peminta-minta tadi, dia bermaksud kembali untuk sedikit membantu kebutuhan sang peminta, tapi sang peminta yang memang hidup berpindah-pindah tidak ada ditempatnya semula.

Bagi saya perjalanan hidup Phil cukup menarik, dimana ketika belasan tahun bersama grup band Genesis, lirik lagunya yang kebanyakan dibuat bersama Peter Gabriel berkisah lebih banyak tentang kisah klasik  kehidupan yang dikemas dalam bentuk gaya surealisme. Kemudian Phil bersolo karier, lebih banyak berlirik lagu bertema cinta sepasang manusia. Lalu munculah album “But Seriously”, yang seolah-olah telah mengejutkan penggemarnya, dimana lagu-lagu didalamnya mengangkat sisi-sisi humanitas manusia dalam bentuk ‘close-up’.

Lalu mengapa hal itu begitu istimewa bagi saya ? Saya ajak anda untuk mencoba ‘berhenti’ sejenak dari keseharian anda, dan coba untuk melihat sekeliling anda. Ketika anda bermobil ke kantor sehabis sarapan bersama keluarga, kemudian di perempatan menjumpai anak-anak jalanan. Pernahkan ada dibenak kita untuk bertanya  ‘sudah sarapankah mereka..?’. Atau misalnya di kantor ketika bertemu seorang cleaning service sedang mengepel lantai, pernahkah kita meluangkan waktu sejenak untuk menanyakan kesehatan keluarganya. Keistimewaan bagi saya terletak karena itu semua membuat saya untuk selalu mensyukuri apa yang telah saya peroleh. Dan memang bisa jadi “But Seriosly”  juga merupakan  wujud rasa syukur Phil Collins ketika ‘berhenti’ sejenak untuk melihat ‘sekeliling’.

Hal yang saya pikir serupa dan juga menarik adalah ketika saya membaca tulisan bung Wandi S Brata berjudul “Kura-kura Pemandu Wisata”. Dimana kurang lebih beliau mengajak kita untuk ‘menyatu’ dengan kehidupan dengan selalu memperhatikan hal-hal kecil di sekitar kita. Mengajak kita untuk selalu berusaha mendengar bicara-Nya dengan tidak ‘tergesa-gesa’. Mengajak kita untuk selalu mensyukuri apa yang kita dengar akan bicara-Nya.

Saya merasakan Phil Collins dan Wandi S Brata sudah ‘mendengar’ bahwa semua berawal dari Tuhan, bahwa betapa sedikit yang kita tahu, bahwa semua tak pernah sia-sia, bahwa hidup bisa jadi bagian dari perjalanan. Dan melalui ‘bahasa’ mereka berupa lagu dan tulisan, beliau-beliau mengajak kita untuk juga mendengar apa-apa yang mereka dengar. Beliau-beliau mengajak kita untuk selalu bersyukur.

Pernah saya melihat seseorang yang begitu bangga akan mobil barunya, kemudian seorang tukang parkir secara tidak sengaja menjatuhkan uang logam di atas kap mobil baru tadi. Orang tadi kemudian memarahi tukang parkir tersebut habis-habisan. Waktu itu saya hanya bisa berdoa semoga dia diberi kesempatan dalam hidupnya untuk bisa mensyukuri apa yang telah dia punya.

Juga pernah di depan saya – yang bagi mereka tentulah saya adalah orang lain -, seorang suami yang menegur istrinya dengan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya. Waktu itu pun saya hanya bisa berdoa agar sang suami bisa mensyukuri apa-apa yang telah istrinya abdikan kepadanya.

Mungkin juga anda pernah melihat di layar TV,  ketika sorot kamera memperlihatkan wakil rakyat – yang secara pengertian sederhana mereka sebenarnya adalah para pembantu rakyat -, yang seperti Iwan Fals katakan, yaitu justru tidur waktu sidang soal rakyat. Sungguh apa yang mereka lakukan jauh dari rasa syukur mereka dengan melakukan amanat bahwa betapa rakyat telah dan masih mempercayakan suaranya kepada mereka.

Rasa syukur sepertinya sudah menjadi barang langka, terutama oleh orang-orang ditengah hiruk-pikuk kehidupan kota. Dimana apa yang mereka selalu peroleh serasa tidak pernah cukup. Mungkin bisa jadi mereka berjanji untuk mengucap syukur ketika semua yang diperolehnya terasa sudah cukup. Hanya saja ketika perasaan mengatakan bahwa apa yang diperoleh tidak pernah cukup, rasa bersyukur pun menjadi sesuatu hal yang sebenarnya mudah dan murah tapi menjadi amat sulit dan mahal.

Pertanyaan saya ini mungkin terdengar sangat awam di telinga, dan bisa jadi bagi sebagian kita seperti sebuah nasehat kepada anak kecil menjelang tidur. Tapi seperti Mr Collins dengan lagunya dan Bung Wandi  dengan tulisannya, saya akan tetap selalu berteriak kepada kita semua, “ Sudah bersyukurkah kita hari ini…?”

 

2002

Pitoyo Amrih

Berdomisili di Solo




Last Updated on Friday, 06 August 2010 21:36
 
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2013 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo