pitoyo.com menu left
pitoyo.com menu right

Advertisement


Buku Pitoyo Amrih

Novel-novel Kisah Dunia Wayang yang kembali diungkap secara lengkap sejak jaman para Dewa, era raja Harjunasasra, kejayaan Sri Rama, sampai kisah perseteruan dua saudara Pandawa dan Kurawa, hingga perang besar Baratayudha. Diakhiri dengan masa kejayaan dan keruntuhan negri Hastinapura di masa raja Parikesit.



KostumAnak Pitoyo.com

Ready stock berbagai kostum profesi untuk anak usia 3 s.d 8 th. Juga melayani pesanan berbagai kostum untuk anak maupun dewasa.


Herbadrink

Minuman Herbal untuk kesehatan. Dibuat dari ekstrak bahan alami, yang diproses dengan teknologi modern dan kualitas sesuai standard Good Manufacturing Practices


Semua Artikel yang ditulis Pitoyo Amrih, baik di media internet maupun media cetak, yang telah dipublikasikan sejak tahun 1997 sampai sekarang.

Melalui Perbatasan Tiga Negara PDF Print E-mail
Written by Pitoyo Amrih   
Sunday, 21 October 2018 20:14

Sekitar limabelas tahun lalu saya pernah juga melewati batas negara lewat jalan darat. Ketika itu perjalanan dari Dusseldorf, kota di Jerman, ke Valenciennes, sebuah kota kecil wilayah Prancis. Dua kali malah border wilayah negara itu dilewati. Jerman ke Belgia, kemudian Belgia ke Prancis. Dan bolak-balik. Ketika itu, mobil berhenti di kantor perbatasan, paspor cukup dibawa masuk kolega kami di sana, saya dan rombongan dari Indonesia cukup di mobil. Mungkin sekarang situasi di perbatasan Eropa sana bisa jadi juga semakin ketat terkait isu keamanan negara yang tentunya berbeda dengan keadaan limabelas tahun lalu. Terutama bagi negara barat. Tapi yang jelas, apa yang saya rasakan beberapa hari lalu melewati imigrasi jalan darat antara Thailand ke Malaysia, kemudian berlanjut ke Singapura menjadikan sebuah pengalaman baru bagaimana kita menghargai sebuah kepercayaan. Situasinya bahkan tidak serileks bila kita menembus imigrasi di bandara.

 

Perjalanan saya mungkin tidak bisa seratus persen disebut sebagai tour. Antara merayakan hak sebagai apresiasi dari kantor dan menunaikan kewajiban. Perjalanan maraton tanpa jeda. Sore hari dari Solo terbang ke Jakarta, esok pagi-pagi sekali menuju terminal tiga bandara Cengkareng, terbang ke Singapura. Sambil menunggu connecting-flight malam harinya menuju ke Hatyai, kota kecil di wilayah selatan Thailand, melewatkan waktu siang dan sore di keramaian tengah perkotaan negri Singapura. Tiba di hotel Hatyai hampir tengah malam, kemudian esok harinya selama lima hari berturut-turut menuju kota Shonklah, yang masih wilayah Thailand, menembus perbatasan Thailand-Malaysia menuju George Town di Pulau Penang, terus ke selatan melewati jembatan terpanjang di Asia Tenggara sepanjang 24 km merentang di atas laut, Jembatan Sultan Abdul Halim Muadzam Shah namanya, menuju ke Kualalumpur, kemudian Malaka, setelah itu ke Johor, hingga dihari ke-lima pagi hari sekali menembus perbatasan jalan darat dari Malaysia ke Singapura. Siang hari terbang dari Singapura ke Jakarta. Dan malam harinya dengan pesawat terakhir hari itu langsung pulang ke Solo.

Last Updated on Wednesday, 24 October 2018 07:01
Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 1 of 28
Like Pitoyo Amrih on FacebookFollow @PitoyoAmrih on Twitter



Copyright © 2019 KupasPitoyo, KumpulanTulisan PitoyoAmrih. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Novel Wayang Pitoyo AmrihGaleri Wayang Pitoyo.com



Terbaru

Popular

NovelWayang

GaleriWayang


Powered by Joomla!. Template by Themza Joomla 1.5. Design by Pitoyo.com. Valid XHTML and CSS.

Pitoyo Dotcom | Jl Cemani Indah D-22, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Solo 57552, Indonesia | Telp/Fax +62-271-631671

Twitter @PitoyoAmrih
Beli Buku karya Pitoyo Amrih
Kontak Pitoyo Amrih
Facebook Pitoyo Amrih
LinkedIn Pitoyo Amrih
Langganan KupasPitoyo