|
Lelakon Wayang -
Goro Goro
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Friday, 28 January 2011 07:00 |
Naskah : Pitoyo Amrih Gambar : Mawan Sugiyanto |
|
Last Updated on Saturday, 21 May 2011 22:21 |
|
Read more...
|
|
Artikel Pitoyo Amrih -
Seri Kearifan Budaya Jawa
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Wednesday, 21 July 2010 07:00 |
Saya yakin hampir semua orang bila ditanya arti kata kaya, maka mereka akan mengubungkannya dengan hal-hal yang terkait dengan materi. Kaya berarti memiliki materi berlimpah lebih dari kebutuhan, kaya diartikan dengan memiliki rumah mewah, mobil lebih dari satu, Kaya berarti bisa memenuhi secara melimpah kebutuhan tersier-nya. Tapi benarkah demikian?
Sebuah semangat kearifan budaya Jawa mengatakan: “Sugih Tanpa Banda” yang berarti Kaya Tanpa Harta. Tentunya ungkapan ini akan menjadi sebuah paradoks bila dikembalikan dengan sebuah persepsi akan kaya bagi kebanyakan orang. Karena jelas, bagi sebagian besar orang, yang disebut kaya adalah ketika memiliki harta, oleh karena itu seseorang tanpa harta, terminologinya bukanlah kaya. Tapi benarkah begitu? Karena pertanyaan selanjutnya tentunya akan menantang kita, jangan-jangan kearifan budaya Jawa tadi sudah tidak lagi pas bagi perikehidupan masa kini.
|
|
Last Updated on Monday, 31 January 2011 09:26 |
|
Read more...
|
|
Artikel Pitoyo Amrih -
Seri Kearifan Budaya Jawa
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Sunday, 13 June 2010 07:00 |
Mungkin kita mulai bisa melihat harapan-harapan di negri ini, ketika kita lihat di hampir setiap kota, banyak tumbuh pemukiman-pemukiman baru. Geliat para pengembang dalam berinvestasi di sektor usahanya, memang bisa menjadi salah satu indikasi sebuah pertumbuhan ekonomi secara fundamental. Hanya saja, dari kaca mata saya, ada hal yang terkadang membuat saya sedih. Tak habisnya sesekali saya bertanya mengapa ketika di pinggiran-pinggiran kota besar dibangun pemukiman yang cenderung kurang bersahabat dengan pemukiman asli di sana yang ada di sekitarnya. Pemukiman-pemukiman itu, terutama yang memang dibuat mewah menjangkau segmen kalangan paling atas, sengaja dibuat sangat eksklusif dan seperti tak peduli kepada sekelilingnya.
Sebuah pertumbuhan budaya, yang menurut saya, membuat persepsi akan rasa aman menjadi sesuatu yang agak berbeda dari pemahaman saya. Saat ini sebagian besar orang melihat bahwa rasa aman diciptakan dengan cara membangun tembok tinggi, hidup di sebuah lingkungan eksklusif, membayar fasilitas security 24 jam, menciptakan budaya rasa saling curiga, menciptakan rasa takut pada orang yang melihat kita. Yang kalau secara jernih kita selami lebih dalam, mungkin hal itu akan menjadi sebuah paradoks karena sepertinya apa yang kita lakukan untuk menciptakan rasa aman pada diri kita, justru semakin membuat kita merasa tidak aman.
|
|
Last Updated on Monday, 31 January 2011 09:22 |
|
Read more...
|
|
Sedikit Bisa Cukup, Banyak Bisa Kurang |
|
|
|
|
Artikel Pitoyo Amrih -
Seri Kearifan Budaya Jawa
|
|
Written by Pitoyo Amrih
|
|
Saturday, 08 May 2010 07:00 |
Sesekali saya coba manfaatkan waktu untuk sekedar ngobrol dengan siapa saja yang saya temui ketika kebetulan saya berada dalam situasi menunggu. Kadang menunggu anak saya yang sedang les musik, menunggu istri saya belanja, sambil menunggu mobil di tempat pencucian, menunggu antrian. Dan beberapa hari lalu saya berkesempatan untuk berbincang panjang dengan seorang bapak tukang parkir karena saya datang ke sebuah bank terlalu pagi. Beliau bukan seorang tukang parkir resmi. Hanya serabutan mengatur parkir mobil di pinggir jalan besar bila saja parkir di halaman bank itu atau kantor-kantor sebelahnya, sudah penuh oleh mobil. Atau bila seseorang tak mau repot memarkir mobil ke dalam halaman karena buru-buru sekedar masuk ATM, biasanya memilih parkir di luar di pinggir jalan. Demikianlah sang bapak tukang parkir bisa memberikan jasanya untuk mengatur dan menjaga mobil-mobil yang parkir di luar halaman.
|
|
Last Updated on Monday, 31 January 2011 09:18 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 19 of 68 |