 |
 |
Senin, 20 Mei 2013





| Telusuri Buku-buku Pitoyo Amrih |
|
| Buku Pitoyo Amrih |

|
|
|
 |
 |
|
|
|
| Artikel/Kolom /
Seri Home Improvement |
|
| SEBUAH KEMENANGAN | | By Pitoyo Amrih |
| Wednesday, 11-October-2006, 09:37:30 |
2718 clicks |
 |
 |
 |
|
|
| Menurut anda apakah arti sebuah kemenangan? Bila kita mungkin membayangkan sebuah olahraga atau mungkin semacam permainan dengan aturan yang jelas dimana yang menang adalah yang bagaimana, sementara yang kalah adalah yang bagaimana, bisa jadi kita akan dengan mudah mendefinisikan sebuah kemenangan. Kita akan dengan mudah tahu sebuah pertandingan sepak-bola dimenangkan oleh kesebelasan yang mana ketika kita tahu skor hasil akhir, dimana yang menang adalah yang memiliki skor lebih tinggi dari lawannya. |
|
|
Lalu bagaimana dengan kehidupan kita? Bagaimana dengan diri dan keluarga kita? Mungkinkah kita menjadi pemenang dalam menempuh karir pada profesi kita masing-masing? Mungkinkah kita menjadi pemenang dalam interaksi kehidupan rumah tangga kita? Haruskah kita menang dalam lingkungan kita bermasyarakat?
Agak susah mungkin kalau kita harus menjawab itu. Saya pun terkadang dalam hati ada keheranan ketika suatu saat ada sebuah pelatihan pengembangan kepribadian, dan tema yang ditawarkan disitu adalah ‘Menjadi Pemenang!”. Karena ketika kita harus menjadi seorang pemenang, haruskah ada seseorang –atau sesuatu- yang kalah di seberang sana.
Tidak mudah melihat ide Stephen Covey atas pengertian Win-win Solution. Karena memang menurut saya bahwa kondisi menang adalah sebuah penilaian. Kalau kita bicara mengenai pertandingan olahraga, disitu terdapat aturan yang jelas mengenai olahraga tersebut, dan yang lebih penting lagi semua orang dan terutama orang-orang yang terlibat dalam pertandingan tersebut tahu dan sadar akan aturan main itu.
Namun ketika kita bercermin pada kehidupan kita, keluarga kita, walaupun ada tataran nilai agama, budaya, atau etika mungkin, tetap banyak kemungkinan setiap orang akan melihat nilai-nilai aturan tersebut secara berbeda-beda. Sehingga ketika seseorang mengalami sesuatu kondisi, kemudian dengan kondisi itu dia merasa menang, belum tentu orang lain melihat itu sebagai sebuah kemenangan.
Dalam sebuah negosiasi misalnya, mungkin orang akan melihat sebuah kemenangan dirasakan oleh satu pihak ketika pihak tersebut mendapatkan kesepakatan yang sesuai dengan harapannya dari awal. Tapi menurut saya, bila sebuah negosiasi dilakukan kedua belah pihak tanpa adanya tekanan dari luar, tetap pihak satunya juga disebut mendapatkan sebuah kemenangan. Menarik juga, dua belah pihak ternyata bisa disebut menang, tanpa ada yang merasa kalah. Sementara bagi orang diluar kedua pihak tersebut yang bisa jadi melihat beda, misalnya dengan melihat satu pihak sebagai pemenang sementara pihak lain sebagai yang kalah, tentunya tidak perlu mempengaruhi pemikiran dan perasaan kedua pihak yang memang keduanya merasa menang.
Contoh lain misalnya yang sekarang banyak terlihat kisah-kisah di media infotainmen kita. Sepasang selebritis yang sedang dalam proses perceraian mereka. Kedua pihak berjuang di pengadilan mengenai hak asuh atas anak-anaknya. Suatu saat pengadilan memenangkan sang bekas suami, dan si bekas istri menjadi pihak yang kalah, dalam hal hak asuh atas anak-anak mereka. Saya tidak tahu persis apa yang mereka –bekas pasangan suami-istri tersebut- rasakan. Bisa jadi sang suami merasa menang, dan si istri merasa kalah dalam hal ini. Tapi saya yakin jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, kedua pihak merasakan sebuah kehancuran akan kekalahan.
Sehingga sampai saat ini saya pun berkesimpulan bahwa dalam sebuah kehidupan, sebuah kemenangan adalah suatu keadaan unik masing-masing individu dan tidak bisa kita generalisasikan menjadi sebuah kondisi umum yang bisa diterima semua pihak.
Kesuksesan bagi sebagian orang mungkin sebuah kemenangan hidup, tapi saya pun kenal pada sebagian orang yang lain yang melihat sebuah kesuksesan adalah sebuah ancaman dan ketidak-tenangan. Apakah arti sebuah kemenangan, ketika saat menang kita justru merasa was-was.
Kekayaan pun demikian. Sebagian besar dari kita melihat bahwa hidup banyak uang adalah sebuah kemenangan hidup. Tapi kita tidak jarang mendengar para milyuner, justru terjerumus ke dalam hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan seperti narkoba, terjebak perselingkuhan dan sebagainya. Apalah arti kemenangan menjadi kaya, ketika dengan kemenangan itu kita menjadi buta dan tuli mana yang benar dan mana yang salah.
Saya juga pernah melihat sendiri, pada sebuah arena permainan keluarga di sebuah pusat perbelanjaan. Seorang bapak dengan seorang anaknya yang kira-kira pada usia sekolah dasar, bermain bersama sebuah game bola basket. Sebuah momen keceriaan bersama sebuah keluarga yang tentunya bisa kita jadikan contoh. Hanya saja sangat disayangkan, pada permainan tersebut si bapak justru secara sengaja beberapa kali mengajarkan pada anaknya bagaimana melakukan kecurangan agar menang alias dapat skor tinggi. Sebuah persepsi akan sebuah kemenangan yang dalam mencapainya seolah boleh dilalui dengan segala cara.
Sampai disini saya mulai mencoba mengerti kenapa Stephen Covey dalam judul habit ke-empatnya memakai istilah “Think Win/Win”, bukan hanya dengan istilah “Win/win” yang sekarang seolah selalu dilatahkan orang. Seolah menjadi sebuah kalimat ampuh yang bisa diucapkap saat mengawali sebuah negosiasi ataupun pembicaraan untuk mencari sebuah kesepakatan.
Dan menurut saya juga memang seharusnya demikian. Kondisi menang-menang haruslah dicapai ketika orang mampu memikirkan bagaiman sebaiknya arti sebuah kemenangan bagi dirinya sendiri. Tidak perlu terpengaruhi oleh persepsi orang lain, pengertian umum yang ada di masyarakat, atau tuntutan egonya.
Dan itu hanya bisa terjadi pada orang yang mampu proaktif melihat dirinya sebagai penentu keputusannya sendiri, mampu melihat apa yang nantinya menjadi tujuan yang harus ditempuh, dan mampu menyemangati dirinya untuk mengawali sebuah tindakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tanpa itu semua, seseorang hanya mencari sebuah kemenangan hanya dalam usaha untuk mengalahkan, agar orang bisa melihat dia sebagai pihak yang menang.
Saya masih ingat sebuah momen yang bagi saya menarik dan menjadi contoh akan hal ini adalah ketika menjelang final Piala Eropa beberapa tahun yang lalu. Ketika itu berhadapan kesebelasan yang menjadi musuh bebuyutan yaitu kesebelasan Belanda dan kesebelasan –saat itu- Jerman Barat.
Malam menjelang pertandingan, manajemen kedua kesebelasan mengadakan jumpa pers. Menarik sekali, apa yang disampaikan saat itu bahwa masing masing kesebelasan memang akan bermain untuk mencapai kemenangan yang akan dipersembahkan bagi negara mereka masing-masing. Tapi ada lagi pernyataan mereka, bahwa kemenangan buat mereka adalah ketika mereka bisa menyuguhkan pertandingan sepakbola bermutu yang akan dipersembahkan kepada seluruh penonton di dunia dan menjadi catatan sejarah.
Dan ini semua mungkin bisa menjadi pelajaran bagi masing-masing diri kita terutama dalam lingkup kita memberdayakan diri kita dan keluarga kita. Bahwa sebuah kemenangan tidak harus dicapai dengan cara mengalahkan. Sebuah kemenangan justru terjadi ketika kita mampu berpikir untuk menang dan membuat semua orang juga merasa menang. Tidak dengan cara ‘menipu’ mereka akan arti sebuah kemenangan, tapi dengan cara memberdayakan mereka agar mampu bersama-sama melihat sebuah ‘kemenangan hidup bersama’…
Pitoyo Amrih
Artikel yang pernah dipublikasikan oleh www.pembelajar.com pada minggu pertama bulan Mei 2006
|
| |
 |
|
|
|
|
 |
 |
| Advertising |

|
| Buku Erlangga for Kids |


|
|
 |
|
 |
 |