 |
 |
Selasa, 21 Mei 2013





| Telusuri Buku-buku Pitoyo Amrih |
|
| Buku Pitoyo Amrih |

|
|
|
 |
 |
|
|
|
| Artikel/Kolom /
Dunia Pendidikan |
|
| Dunia Sekolahku | | By Aprilia Lestari |
| Wednesday, 04-August-2010, 21:48:36 |
1766 clicks |
 |
 |
 |
|
|
Setelah dua atau tiga bulan terakhir ini para orang tua dan calon siswa sibuk mencari 'tempat', sekarang mereka mulai tenang karena kebanyakan dari mereka sudah mendapatkan 'tempat' yang mereka sebut sekolah. Tapi pada kenyataannya, dunialah sekolah mereka.
Sebelumnya dengan penuh harap orang tua memberi pengertian kepada anak anaknya betapa mereka ingin agar anaknya dapat bersekolah di sekolah yang mereka anggap bagus. Sebagian dari mereka juga ada yang tidak memiliki kepercayaan diri sehingga merasa cukup dengan sekolah biasa biasa saja. Sebagian lagi orang tua lengah sehingga terpaksa menyekolahkan anaknya di STM. Bukan Sekolah Teknologi Menengah, tapi Sekolah Teko Mulih (sekolah datang pulang), karena gurunya sering tidak hadir. |
|
|
Apa yang diharapkan para orang tua dan murid-murid itu sendiri? Tidak lain ingin mendapatkan pendidikan dan pembelajaran untuk mempersiapkan masa depan. Pendidikan adalah suatu proses yang membentuk kepribadian seseorang. Pada awal negara kita berdiri, pendidikan budi pekerti dan penerapan disiplin di sekolah mempunyai porsi yang besar dalam materi pembelajaran. Hanya dalam perkembangannya porsi itu terus dikurangi tanpa bersifat selektif. Akibatnya sekarang sekolah-sekolah lebih bersifat liberal dan mengabaikan nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan dalam proses pendidikan. Hal ini terutama terjadi pada sekolah-sekolah tingkat menengah. Hanya sebagian yang masih bisa mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidik. Sebagian darinya hanya dapat diikuti oleh kelompok masyarakat kelas atas.
Jadi peran sekolah sebagai tempat pendidikan sudah diragukan eksistensinya. Lalu kalau pendidikan itu adalah proses pembentukan kepribadian dan pola pikir, siapa yang berperan? Tentu saja lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Mengingat mudahnya informasi diterima dari belahan dunia yang satu ke belahan dunia yang lain, dapat dikatakan bahwa seluruh dunia adalah sekolah bagi seorang anak. Dunia yang banyak berperan dalam pembentukan kepribadian dan pola pikir anak.
Kasus video porno artis yang ceritanya sudah terlalu banyak mendominasi media, merupakan contoh peran lingkungan dalam pendidikan anak. Seperti yang dikatakan oleh seorang pakar seksolog,Rusak, upaya kita selama ini untuk memberikan pendidikan seks kepada anak-anak dan remaja. Kasus ini (video porno) merusak usaha kita untuk memberikan pendidikan seks yang sehat dan baik. Sebegitu sulitnya pendidik menenemkan nilai-nilai untuk membentuk kepribadian dan begitu mudahnya merusak nilai-nilai tersebut.
Jika orang tua tidak menanamkan nilai-nilai kepada anak, tidak memberi tahu secara konsisten, tentang mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang tidak baik, maka anak akan belajar dari apa yang akan didengar dan dilihatnya. Kalau anak melihat lingkungan tetangganya, itulah yang berfungsi sebagai sekolahnya, kalau anak melihat dunia melalui televisi dan internet, itulah yang berfungsi sebagai sekolahnya. Terpikir bagi para orang tua untuk dapat mendominasi peran pendidikan ini terhadap anak-anaknya. Tetapi sepertinya butuh sekampung untuk membentuk kepribadian anak. Kata-kata ini terjemahan dari buku yang ditulis oleh Hilary Clinton, It Takes A Village To Raise A Child. Digambarkan bahwa sekuat-kuatnya orang tua mengambil peran dalam mendidik anaknya, tetapi jika dia tumbuh di lingkungan yang tidak kondusif, akan sangat sulit tujuan pendidikan itu dapat dicapai.
Aprilia Sakti Kusumalestari
|
| |
 |
|
|
|
|
 |
 |
| Advertising |

|
| Buku Erlangga for Kids |


|
|
 |
|
 |
 |