 |
 |
Jumat, 24 Mei 2013





| Telusuri Buku-buku Pitoyo Amrih |
|
| Buku Pitoyo Amrih |

|
|
|
 |
 |
|
|
|
| Artikel/Kolom /
Seri Home Improvement |
|
| Perasaan Marah dan Memarahi | | By Pitoyo Amrih |
| Wednesday, 13-January-2010, 16:17:15 |
2870 clicks |
 |
 |
 |
|
|
Menyadur ungkapan salah satu reporter salah satu televisi swasta, yang mengatakan bahwa hari kemarin adalah hari yang cukup aneh. Dari sekian banyak berita, sebagian besar adalah berita tentang orang yang marah. Seseorang yang marah di persidangan, marah-marah dalam suatu demonstrasi, memarahi kelewat batas anak sendiri.
Bagi saya cukup menarik, karena baik dari substansi berita yang disampaikan dan bagaimana sang reporter menyimpulkan, saya melihat bahwa sebagian besar orang melihat bahwa rasa marah (kata sifat) dan perilaku memarahi (kata kerja) adalah sesuatu yang sama. Dua hal yang seharusnya berbeda masih dilihat sebagai sesuatu yang sama! |
|
|
Setiap orang, namanya juga manusia, memang dari sononya dibekali oleh Sang Pencipta sebuah kondisi emosi yang kemudian dapat memicu hormon dan adrenalin sehingga hati terasa tidak nyaman, kepala rasanya panas, wajah memerah dan terkadang diikuti oleh tangan yang gemetar. Inilah salah satu indikasi rasa marah (sebuah kata sifat). Adalah respon wajar yang dimiliki oleh setiap orang sebagai sinyal pada diri yang menyimpulkan bahwa apa yang terjadi tidak seperti apa yang diharapkan.
Butuh proses belajar bagi seorang anak sehingga dia bisa mengenali rasa marah dalam diri. Tapi saya melihat bahwa masih banyak juga orang yang notabene dewasa secara usia, masih belum bisa mengenali rasa marah yang timbul dalam diri. Bisa dibuktikan dengan kondisi dimana masih jarang orang yang merasa marah, dengan sadar mengatakan bahwa dia sedang marah.
Yang ada adalah sebuah wujud perilaku memarahi (sebuah kata kerja), dari bentuk yang paling sederhana berupa ungkapan kata-kata yang bernada tinggi, ataupun yang sudah ekstrim sampai melakukan tindak kekerasan, merusak, melukai orang lain.
Dua hal inilah yang bahkan oleh seorang dewasa sekalipun dianggap sebagai hal yang wajar, ketika saya merasa marah (kata sifat) maka sah-sah saja kemudian langsung diikuti dengan perilaku memarahi (kata kerja). Padahal seharusnya, manusia sebagai makluk istimewa ciptaan Tuhan dibekali dengan anugrah kemampuan untuk memilih dalam mengambil keputusan. Pilihan yang seharusnya masih terbuka banyak sekali kemungkinan ketika tiba-tiba kita merasa marah (kata sifat), apakah langsung diikuti dengan perilaku memarahi (kata kerja) atau tidak.
Sehingga hal yang utama yang menurut saya penting dalam hal ini adalah, bagaimana kita bisa mengenali rasa marah dalam diri kita. Ketika kita mengetahui, maka disana terbuka kemungkinan untuk mengelola rasa marah itu, apakah harus kemudian diikuti pilihan melakukan perilaku marah.
'Marah pada saat yang tepat', demikian kata pepatah. Sebuah ungkapan yang tepat untuk memperlihatkan pentingnya kita mengelola rasa marah sehingga tidak harus menjadi perilaku memarahi. Karena bagaimanapun juga kita tetap harus melihat apa yang menjadi tujuan. Sehingga perlu sebuah konfirmasi apakah 'perilaku memarahi' kita selaras dengan tujuan.
Dan bila memang 'perilaku memarahi' menjadi pilihan terbaik sebagai respon terhadap suatu hal, maka harus dipahami bahwa 'perilaku memarahi' bukan berarti melakukan sesuatu yang justru kontra-produktif. Sebagai orang dewasa, tentu kita bisa berpikir dan menganalisa, apakah berkata dengan nada tinggi adalah sebuah tindakan produktif.
Juga setiap orang yang merasa dirinya dewasa, harus mengerti bahwa ada batas yang jelas antara 'perilaku memarahi' dengan sebuah tindak kekerasan atas dalih merasa marah.
Tinggal pertanyaan yang tersisa adalah, bila kita mau dengan jujur bertanya pada masing-masing diri kita, sampai dimana kita mau belajar untuk menjadi dewasa setiap kali kita mengenali 'rasa marah' (sebagai kata sifat) yang timbul..
Pitoyo Amrih
Pitoyo.com
Duniawayang Pitoyo.com |
| |
 |
|
|
|
|
 |
 |
| Advertising |

|
| Buku Erlangga for Kids |


|
|
 |
|
 |
 |