Selamat datang di alternatif Amerika tahun 1985 yang dimain mainkan dengan asumsi asumsi sejarah yang berbeda: AS memenangkan Perang Vietnam, Presiden Nixon masih berkuasa untuk kesekian kali. Dalam distopia ini, yang mengambil peran penting adalah sekelompok superhero pelat merah, yang menjalankan tugas tugas khusus dari pemerintah. Pada tahun 40an mereka bernama Minutemen. Nama Watchmen diberikan untuk generasi kedua yang muncul tahun 60 an. Tahun 1977, kegiatan Watchmen dibubarkan. Tahun 1985, dunia yang dalam puncak ancaman perang nuklir, mengundang kembalinya para jagoan berpakaian norak ini.
“Watchmen” diangkat dari novel grafis tahun 1987, yang boleh disebut “Gone With The Wind”-nya genre komik serius. Sebagian gagasan orisinal “Watchmen” tak baru lagi sekarang karena sudah dikembangkan misalnya oleh komik “Identity Crisis” (2004), atau filem “The Incredibles” (2004).
Ketika akhirnya diangkat ke layar lebar, masalah terbesarnya adalah: “Watchmen” tak memerlukan interpretasi ulang, karena ia cuma punya satu versi yang tuntas. Tapi, ia harus dipindahkan dengan cara yang tepat; karena panel komik sangat berbeda dengan media filem yang bergerak dan bersuara.
Skenario David Hayter dan Alex Tse mempersingkat komik aslinya (400 halaman lebih), dan berfokus pada konflik yang pokok. Sub-plot lain pun harus mengalah. Reduksi ini, yang menyederhanakan kompleksitas isyu-isyu politik dan psikologis, tak mengecewakan, bahkan ia mampu membuat akhir yang lebih kuat ketimbang novel grafisnya.
Para aktor utama, samasekali jauh dari bintang besar, mampu menghidupkan keenam “Watchmen”: Silk Spectre II (Malin Akerman) si penggoda yang mewarisi pekerjaan superhero dari ibunya, Nite Owl II (Patrick Wilson) si penyendiri yang sensitif, Dr. Manhattan (Billy Crudup) si manusia atom tanpa emosi, Ozymandias (Matthew Goode) manusia tercerdas di dunia, dan Comedian (Jeffrey Dean Morgan) yang brutal, amoral dan nihilistik. Tapi, jempol khusus diberikan untuk Jackie Earle Haley yang memainkan Rorschach, yang kumuh dan misterius, tapi hitam-putih, pemilik kepriyayian super-hero yang sesungguhnya.
Memfilemkan “Watchmen” adalah dilema. Ia tak kan pernah memuaskan para pemuja komiknya. Sementara bila ia bersetia pada pola komiknya, penonton awam yang tak pernah membaca komik bakal cukup sulit menggapainya. Walhasil, sutradara Snyder bukan sekedar berkompromi, tapi ia menetapkan jalan sendiri. Visualisasi dilebih-lebihkan untuk mengesankan distopia (sekali lagi aneh bahwa kita di tahun 2009 menonton distopia tentang tahun 1986). Visualisasi ini lebih dekat pada pilihan gaya “Dark City” (1998) yang menggambar sketsa kasar; bukan citra yang halus dan detil. Kekerasan dan darah maujud dalam cara yang vulgar mengulang resep laga Snyder di “300” (2006). Berbeda dengan jalur “Dark Knight” (2008) atau “Iron Man” (2008) yang berusaha membuat dunia komik jadi dunia nyata; “Watchmen” justru menariknya masuk lebih komikal lagi (misalnya dengan visualisasi Nixon yang prostetik). Pilihan ini beresiko tinggi, tapi Snyder berhasil membuat “Watchmen” dinikmati kalangan yang lebih luas.
Catatan: jangan sampai terlambat masuk bioskop buat “opening scene” yang dahsyat, kaya, penuh referensi, dengan iringan paten dan dinamis Bob Dylan “The Times They Are a-Changin'”. Wow…
--------------
ponten biyoskop : A
Billy Crudup, Patrick Wilson, Malin Akerman, Jackie Earle Haley, Matthew Goode, Jeffrey Dean Morgan.
Sutradara: Zack Snyder
Skenario: David Hayter dan Alex Tse, dari novel grafis karya Alan Moore dan Dave Gibbons,
Sinematografi: Larry Fong.
Musik: Tyler Bates.
Panjang filem: 163 menit.
---------------