 |
 |
Minggu, 19 Mei 2013





| Telusuri Buku-buku Pitoyo Amrih |
|
| Buku Pitoyo Amrih |

|
|
|
 |
 |
|
|
|
| Artikel/Kolom /
Renungan Keluarga |
|
| Manusia Modern | | By Achmad R Sudirjo |
| Wednesday, 22-April-2009, 11:06:07 |
6164 clicks |
 |
 |
 |
|
|
Bagaimanakah manusia Modern?
Jika keadaan sekarang ini disebut modern, lalu apakah kita yang hidup saat ini dikategorikan sebagai manusia modern? Menurut Alex Inkeles, Guru Besar Sosiologi Universitas Harvard, jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Kita memenuhi satu tanda khas dari manusia modern, yakni ciri luar dari manusia modern. Ciri luar itu berkaitan dengan keterlibatan kita dalam urbanisasi, pendidikan, politisasi, industrialisasi, dan komunikasi massa. Juga ditandai dengan terlepasnya individu individu dari jaringan jaringan keluarga dekat; orang semakin impersonal dalam berhubungan dengan orang lain. Ciri ciri itu adalah ciri ciri keadaan lingkungan bagi manusia modern, yang tidak cukup untuk mengatakan orang orang yang terlibat dalam ciri ciri itu sebagai manusia modern. Sebagai manusia modern, seseorang harus memenuhi ciri dalam yang berkaitan dengan semangat, cara merasa, cara berpikir, dan cara bertindak modern.
|
|
|
 |
| Click to view another photos... |
|
Masalah Psikologis Manusia Modern:
Setelah kita lihat bagaimana manusia modern didefinisikan, sekarang kita akan melihat apa-apa masalah manusia modern. Sebagaimana yang kita lihat di atas, manusia modern telah semakin terasing dari hubungan-hubungan karib dengan sesama manusia. Keluarga besar yang akrab tidak lagi mudah ditemui. Yang ada keluarga-keluarga kecil yang hanya terdiri ayah, ibu, dan anak. Demikian pula pola-pola hubungan antar sesama berubah dari hubungan-hubungan yang personal: akrab, dekat, dan hangat, menjadi impersonal, di mana orang berhubungan karena adanya kepentingan-kepentingan ekonomi atau kekuasaan belaka. Akibatnya manusia-manusia modern mengalami masalah- asalah psikologis yang kurang dijumpai pada masyarakat tradisional. Masalah-masalah itu berkisar pada pengingkaran kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial, di mana orang semakin menjauh dari pergaulan sosial.
Victor Frankl, salah seorang tokoh psikologi eksistensial terkemuka, mengatakan bahwa manusia modern mengalami masalah frustrasi eksistensial (Frustrasi dalam pemenuhan keinginan kepada makna) dan kehampaan eksistensial (merasa kehidupan tidak memiliki makna) yang semakin meluas.2 Menurutnya, individu masyarakat modern dilanda keraguan atas makna kehidupan yang mereka jalani. Hilangnya tradisi dan nilai-nilai sebagai salah satu sumber utama kemunculan frustrasi eksistensial dan kehampaan eksistensial. Akibat dari hal itu, individu melakukan kompensasi- ompensasi melalui berbagai aktivitas seperti membenamkan diri dalam pekerjaan, berjudi, alkoholisme, obat bius, dan seks.
Frankl berpendapat pada manusia modern sekarang ini dijumpai suatu fenomena umum yang mirip dengan kondisi neurosis, tetapi tidak bisa di kategorikan ke dalam suatu bentuk patologi. Fenomena itu dinamakannya neurosis kolektif dengan empat gejala sebagai berikut:
Sikap Pesimistis terhadap hidup.
Individu-individu yang mengalami gejala ini menjalani hidup seakan-akan tidak ada hari esok. Karenanya tidak ada perencanaan-perencanaan untuk masa depan.
Sikap Fatal terhadap hidup.
Individu yang terlanda gejala ini melihat rencana masa depan sebagai kesia-siaan. Mereka bertingkah laku seolah-olah bukan dari dirinya sendiri dan bukan untuk dirinya sendiri. Mereka cenderung mendevaluasi dirinya sendiri dan kehidupannya.
Konformisme dan Kolektivisme.
Terlihat pada individu yang meleburkan diri ke dalam massa, kehilangan kepribadiannya dan bertingkah laku seakan-akan mereka adalah fungsi atau alat belaka dari massa, atau di negara-negara totaliter, dari negara.
Fanatisme.
Individu yang terlanda fanatisme mengingkari kepribadian orang lain. Mereka hanya mau mendengar opini-opini mereka sendiri yang pada hakikatnya bukan opini-opini pribadi mereka, melainkan opini-opini penguasa, opini-opini partai, atau opini-opini publik.
Rollo May, tokoh psikologi eksistensial lainnya menyoroti permasalahan manusia-manusia modern pula. Ia menyatakan ada tiga masalah utama manusia modern, yaitu kekosongan, kesepian, dan kecemasan.
1. Kekosongan.
Kekosongan adalah kondisi individu yang tidak lagi mengetahui apa yang diinginkannya, dan tidak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Kekosongan telah mengarahkan individu-individu menjadi outer directed yakni mengarahkan diri pada orang lain dalam rangka mencari pegangan dan petunjuk untuk menentukan hidup. Ciri pertama kekosongan adalah bisa merespons tapi tidak bisa memilih sendiri respons apa yang paling baik bagi masalah-masalahnya. Ciri kedua adalah pasivitas terhadap lingkungan sosial. Ciri ketiga adalah apati terhadap dunia sekitar, atau tidak peduli.
2. Kesepian.
Kesepian dialami individu-individu dalam masyarakat sebagai akibat langsung dari kekosongan, keterasingan dari diri sendiri dan sesama. Individu dalam masyarakat modern mengalami ketakutan akan kesepian. Mereka memiliki hasrat yang kuat untuk diterima orang lain, dan memiliki ketakutan yang dalam akan ditolak. Kegiatan menciptakan kebersamaan dengan orang-orang dilandasi oleh ketakutan diisolasi oleh orang lain bukan untuk menciptakan hubungan yang akrab dan hangat.
3. Kecemasan.
Ketidakmenentuan yang semakin besar dari hari ke hari, tidak bisa tidak telah meningkatkan kecemasan individu dalam masyarakat modern. Kecemasan timbul karena perubahan traumatik yang dialami sebelumnya, yakni hilangnya nilai-nilai persaingan individu yang ditujukan kepada kesejahteraan bersama yang digantikan oleh persaingan antar individu yang eksploitatif, hilangnya penghargaan atas keutuhan pribadi yang digantikan oleh pembagian pribadi menjadi rasionalitas dan emosionalitas (berpikir dianggap baik, mengalami emosi dianggap buruk), hilangnya rasa berharga, rasa bermartabat, dan rasa diri dari individu-individu. Individu yang cemas bingung siapa dirinya dan apa yang harus diperbuatnya.
Salah seorang tokoh psikologi yang paling terkenal dalam menyoroti persoalan-persoalan masyarakat adalah Erich Fromm. Gagasannya mencakup masalah yang luas di masyarakat. Ia melihat bahwa masyarakat modern sekarang ini telah semakin terisolasi dan mengalami kesepian karena dipisahkan oleh alam dan dari orang-orang lain. Dalam sejarah manusia, dari waktu ke waktu manusia semakin bebas dalam menentukan apapun mengenai hidupnya, akan tetapi mereka juga semakin merasa kesepian. Tercerabutnya manusia modern dari hubungan-hubungan akrab dan hangat atas dasar kemanusiaan belaka, telah menjadikan manusia menjadi mesin-mesin hidup.
Achmad Ridwan Sudirjo |
| |
 |
|
|
|
|
 |
 |
| Advertising |

|
| Buku Erlangga for Kids |


|
|
 |
|
 |
 |