|
|
|
| Artikel/Kolom /
Perumahan Planet |
|
| Tak Ada Gengsi Untuk Berhemat! | | By Pitoyo Amrih |
| Sunday, 30-October-2005, 00:47:46 |
2163 clicks |
 |
 |
 |
|
|
Pagi itu adalah hari Senin di minggu pertama bulan Oktober 2005. Ada sebuah pemandangan yang cukup aneh bagi warga perumahan di Perumahan Planet. Adalah Pak Gembong, salah seorang penghuni real estate blok Istana Megah, yang biasanya keseharian ke kantor mengendarai mobil mewahnya Toyota Land-Cruiser, pagi itu tampak dengan pakaian kantornya mengendarai sepeda sport yang biasa dia pakai olah-raga setiap hari minggu. Dan sepertinya pagi itu dia sedang bergegas berangkat ke kantor.
|
|
|
 |
| Click to view another photos... |
|
Adalah terutama ibu-ibu perumahan dengan profesi ibu rumah-tangga, yang pada hari itu seperti menjadi ‘head-line’ berita di tempat mangkal pedagang sayur di ujung perumahan.
“Bu Kromo, lihat nggak…pagi ini Pak Gembong kok pake sepeda ya..ke kantor…”, kata bu Ateng mencoba membuka pembicaraan sambil sibuk memilih sayur bayam dihadapannya.
“Ah…ya nggak apa-apa to, bu…”, jawab bu Kromo, “..mungkin Pak Gembong lagi pengin ke kantor naik sepeda,…bosen mosok tiap hari naik mobil terus..”
“Iya..ya bu ya,..mosok Pak Gembong kok sampai terpengaruh sama naiknya harga Be Be Em,..paling juga iseng pengin sekali-sekali beda dari biasanya..” tambah bu Nono-gendut.
“Ya,..udah..lah.,..nggak usah didiskusikan, itu kan hak asasi tiap orang, mau pake mobil kek..mau pake sepeda kek…angkutan umum mungkin…selama beliau bisa dan penginnya begitu…ya dihargai aja, tidak perlu dimasalahkan…”, kata bu Kromo kembali.
“Ya..apa nggak gengsi gitu lho bu…orang banyak duit gitu kok ke kantor naik sepeda…ndak takut diremehkan orang nanti…”, kembali bu Ateng menimpali.
“He,…bu Ateng, menurut saya, namanya harga diri itu ndak ada hubungannya sama gengsi…apa lagi sama kekayaan seseorang..”, kembali bu Kromo menyanggah. Bu Kromo memang kebetulan termasuk orang yang di-’tua’-kan dan disegani di perumahan itu. Selain karena memang sudah sepuh, pendapat-pendapatnya di setiap diskusi pertemuan ibu-ibu PKK perumahan selalu menjadi panutan.
“Wah..kalo saya sih, misalnya suami saya tiba-tiba ke kantor naik sepeda…ya saya isin tenan…”, masih jawaban bu Ateng berusaha membenarkan pendiriannya. “Wis, mbok…ini dua puluh ribu,.. sayurnya saya borong semua”, kata bu Ateng kemudian sambil meletakkan uang dua puluh ribuan, menyambar segala macam sayur-sayuran dihadapannya, dan bergegas pergi.
“Masih ada kembalian,..bu Ateng”, teriak mbok tukang sayur.
“Udah ambil saja kembaliannya…”, timpal bu Ateng. Ibu-ibu yang masih disitu pun hanya geleng-geleng kepala melihat kejadian itu.
Sore harinya, dengan kayuhan sepeda yang lambat tapi pasti, tampak pak Gembong melintas masuk perumahan.
“Sore, pak Gembong..”, sapa pak satpam, “..kok tumben ke kantor bawa sepeda, Pak.?.”
“Ah.., mencoba untuk hemat, mas…, Be-be-em mahal,..toh kantor saya kan dekat dari sini…,”jawab pak Gembong setengah berteriak sambil tetap mengayuh sepedanya menuju rumahnya di ujung jalan.
19 Oktober 2005
Pitoyo Amrih
|
| |
 |
|
|
|