CLASSIC View Kota Tanpa Wajah
Kota Tanpa Wajah

Kota Tanpa Wajah
[eBook]

$1.00


BOOK IS IN INDONESIAN LANGUAGE



Merupakan eBook kumpulan cerpen:
Judul : Kota Tanpa Wajah
Tebal : 120 halaman
Format : ebook dengan format .epub
Penerbit : Pitoyo eBook Publishing
ISBN : 978-979-17910-4-5
Penulis : Raudal Tanjung Banua, Abidah El Khalieqy, R. Toto Sugiharto, Han Gagas, Eko Triono, Hamdani MW, Abednego Afriadi, Gunawan Tri Atmodjo, Puitri Hati Ningsih, Gendut Pujiyanto, Sungging Raga, Syamsi M Jafar, Dewi Kharisma Michellia, Imam Wahyudi, Joko Utomo, Zuhri, dan Niken Kinanti, yang tergabung dalam komunitas Bengkel Sastra Surakarta

Daftar Isi Cerpen :
Teluk Hayat (Raudal Tanjung Banua) ; Menari di Padang Prairi (Abidah El Khalieqy) ; Kesunyian Dunia Kecil (R. Toto Sugiharto) ; Bulimia Dan Anoreksia (Han Gagas) ; Tata Dunia Baru (Eko Triono) ; Nisan Terakhir (Hamdani MW) ; Sempak (Abednego Afriadi) ; Menakar Hidup Menawar Maut (Gunawan Tri Atmodjo) ; Senja Senja Tebu (Puitri Hati Ningsih) ; Kota Tanpa Wajah (Gendut Pujiyanto) ; Argo Kutojaya (Sungging Raga) ; Makam Berdarah (Syamsi M Jafar) ; 22 (Dewi Kharisma Michellia) ; Menunggu Emak Pulang (Imam Wahyudi) : Sketsa Emansipasi (Joko Utomo) ; Pesan Singkat di Kuburan (Zuhri) ; Aku dan Pamanku (Niken Kinanti)


Pengantar
Menerbitkan kumpulan cerpen dari para cerpenis Jogja dan Solo bukan tanpa alasan. Kedua kota ini terhubungkan oleh moda transportasi yang relatif mudah, terutama kereta api yang diwakili oleh Prameks (Prambanan Ekspres) yang hanya ditempuh sekitar 1 jam perjalanan. Karena kemudahan moda ini, banyak terjadi interaksi dari para cerpenis kedua kota. Selain sekedar saling berkunjung, juga di antaranya saling mendatangi acara-acara sastra, baik diskusi buku maupun workshop penulisan yang diselenggarakan di dua kota ini.
Tanpa melupakan model interaksi lain semacam jejaring sosial facebook, berkat kedekatan dan kemudahan interaksi ini, proses pengumpulan cerita menjadi lebih mudah. Dan, lagipula, bertatap muka langsung berbeda dengan berkomunikasi lewat jaringan maya, ada proses emosional yang berbeda setiap membincangkan sebuah karya.
Tak hanya sebab kedekatan dan kemudahan itu, dari kumpulan cerpen ini mungkin bisa dilihat seberapa pengaruh ‘bahasa dan budaya Jawa’ pada karya-karya mereka karena semuanya berhabitat sama, yakni sama-sama tinggal di kota pusat budaya Jawa. Namun apakah cerita-cerita di dalam ini semua bernuansa Jawa? Saya kira tidak, tidak semuanya, karena imajinasi pengarang bebas menembus batas apapun. Lagipula kumpulan cerpen di sini tidak dibatasi oleh tema tertentu, semua bebas sebagaimana pameo bahwa mengarang adalah dunia bebas.
Ide menerbitkan antologi cerpen bersama ini bermula dari diskusi di antara cerpenis-cerpenis yang bergabung dalam jaringan Bengkel Sastra Cawe-cawe, yang kemudian berganti nama menjadi Bengkel Sastra Surakarta: semacam forum bebas bagi penulis lepas, sifatnya cair, tidak berpretensi “besar” dan bersifat “persahabatan/keluarga”. Awalnya Bengkel Sastra Cawe-cawe hanya bermula dari pertemuan tiga penulis, yaitu Sungging Raga, Han Gagas, dan Gendut Pujiyanto (kebetulan berasal dari dua kota: Solo dan Jogja), yang karena persamaan minat dan kedekatan domisili saling mengunjungi. Beberapa waktu kemudian bergabunglah teman-teman lain tepatnya saling ajak, yang berasal dari kota yang sama: Solo & Jogja, namun kemudian seiring waktu banyak teman Jogja yang jarang hadir dan akhirnya secara realistis hanya teman-teman Solo dan sekitarnya yang bisa berkumpul, sehingga namanya pun berubah menjadi Bengkel Sastra Surakarta.
Pada awalnya ditunjuk tiga kurator untuk kumpulan cerpen ini, namun akhirnya saya dan Hamdani MW yang lebih banyak bekerja. Di sela-sela pengumpulan naskah, teman-teman bengkel mengundang sejumlah penulis tamu yang selain sudah saling kenal juga terakui karya-karyanya di pentas sastra nasional.
Mereka adalah R Toto Sugiharto, Raudal Tanjung Banua, dan Abidah El Khalieqy. Mengundang penulis tamu tak bermaksud yang bukan-bukan. Kami memintanya semata untuk merayakan buku ini dan karena kedekatan dan ‘demi sastra’ mereka pun memberinya dengan sukarela.
Semangat yang patut dicatat lainnya adalah, kumpulan cerpen ini bisa berguna sebagai perangsang untuk lebih meningkatkan kualitas karya teman-teman bengkel. Dengan diterbitkannya karya cerpenis muda bersama penulis “senior” lain dalam bentuk buku akan menambah semangat dan gairah menulis mereka.
Mencampurkan karya cerpenis yang sudah dianggap baik dengan yang belum matang mungkin berisiko, tetapi kalau dilihat dari kacamata bahwa menulis adalah sebuah proses, hal demikian bisa dimaklumi, karena tak menutup kemungkinan sang “yunior” di antara cerpenis ini suatu saat nanti bisa “mengalahkan” mutu karya dari sang “senior”. Seiring waktu tanda-tanda demikian mulai terlihat dari sejumlah kemenangan beberapa teman bengkel dalam lomba penulisan baik cerpen maupun novel yang diselenggarakan lembaga kebudayaan yang telah mapan di negeri ini.
Demikianlah sedikit pengantar saya mewakili teman-teman. Tak ada gading yang tak retak, mohon maaf jika ada kekurangan. Selamat membaca dan mengapresiasi.

Salam hangat,
Han Gagas


This product was added to our catalog on Monday 25 March, 2013.