 |
 |
|
 |
 |
|
| Ulasan / Lelakon |
|
|
|
|
Antara Hidup dan Mati Saturday, 13-June-2009, 21:07:46 Kedatangan Durna di tengah tengah mereka memaksa pertikaian antara Arjuna dan Ekalaya berhenti sementara.
Aku dapat merasakan apa yang kalian rasakan. Sebagai seorang ksatria, perang tanding merupakan cara penyelesaian pamungkas yang terbaik. Kecuali jika salah satu di antara kalian mau mengalah atau mengaku kalah sebelum bertanding. Itu pun tidak mungkin kalian lakukan. Pasti! Karena aku tahu watak keduanya. Maka jangan salah sangka jika aku melarang kalian ber perang tanding. Silakan berperang tanding, asalkan jelas alasannya.
(1735 klik)
|
Luka Hati Seorang Dorna Terbalaskan Saturday, 27-September-2008, 11:14:07
Pada umumnya seorang beranggapan dia berwatak buruk perusak perdamaian dan tukang fitnah, tetapi dia seorang resi bergelar Danghyang Dwija Wirpa. Artinya saking lihung derajatnya hampir setingkat dewa. Sikapnya bijaksana, cerdas tetapi rendah diri walau berilmu tinggi. Ia puns eorang sarjana ilmu perang memiliki Sir Weda Danur Weda, yakni kitab ilmu bercinta dan ilmu menggunakan senjata dan strategi perang. (2455 klik)
|
Darah yang Bercahaya Thursday, 03-April-2008, 12:38:54 ular sawah menelan telur ayam, o
padahal sungguh sedang dieram
di dalam perut telur itu menetas
merayap keluar dari mulut ular
anak ayam menghilang ke hutan
ular sawah tidur kekenyangan, o!
Kematian Dursasana yang mengenaskan segera tersebar ke segala penjuru pertempuran. Dengan rasa ngeri diceritakan bagaimana Bima tidak lagi bertindak seperti manusia. Ia menghancurkan wajah Dursasana yang buruk rupa, menggocohnya sampai menjadi bubur, menyobek perutnya dengan pisau, mengeluarkan ususnya, dan menghirup darah sebanyak-banyaknya. Demikianlah diceritakan dalam Kakawin Bharata-Yuddha:
(2376 klik)
|
Kayon Friday, 29-February-2008, 22:35:29 Setelah Duryudhana mati, dan berangsur-angsur pagi meluas, dan suara gamelan bertambah pelan, tancep kayon. Dalang menancapkan lambang gunung itu di tengah-tengah layar. Kisah berakhir, meskipun sebenarnya banyak hal belum diutarakan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk itu selesai.
(2133 klik)
|
Drupadi Wednesday, 12-September-2007, 16:16:21 SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.
Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?” (2168 klik)
|
Aswatama Friday, 24-August-2007, 04:45:47 TIGA pengendara kuda bergegas menjauh dari danau besar yang muram
itu, tiga laki-laki yang tak lagi ingin bicara. Mereka tak menyaksikan sesuatu
yang tak akan dengan mudah ditanggungkan siapa pun, kecuali oleh Waktu.
Perang selesai, sanak saudara punah terbunuh, tentara kalah, kekuasaan
hilang. Dan pada klimaksnya, di tepi Danau Dwipayana yang tak dihuni, mereka
melihat raja mereka, dengan tubuh setengah hancur, tergolek, sendiri. (1980 klik)
|
Gandhari Wednesday, 08-August-2007, 03:13:18 Ia bisa diselamatkan dari para penujum, tapi bisakah ia dibela dari nasib? Sejak Raja Subala mendengar ramalan buruk itu, ia perintahkan agar siapa saja yang hendak membaca masa depan tak diperkenankan masuk ke istana. Baginda tak akan lupa ucapan brahmana yang datang di musim semi itu—penujum terakhir yang diantar dengan bergegas ke luar balairung: ”Kelak, putri Paduka akan hidup dalam gelap, mungkin karena getir.” (1259 klik)
|
Sayembara di Kerajaan Giyantipura Friday, 23-March-2007, 10:51:08 Dari pernikahannya dengan Satyawati, Raja Santanu mendapatkan dua putra, Chitranggada dan Wichitrawirya.
Chitranggada tewas dalam sebuah pertempuran. Karena ia meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, maka adiknya, Wichitrawirya dinobatkan menjadi raja untuk menggantikannya. Tetapi karena sewaktu naik takhta ia belum dewasa, maka tampuk pemerintahan untuk sementara dipegang oleh kakak tirinya, yaitu Dewabrata alias Bhisma. Hingga suatu waktu ketika Wichitrawirya telah cukup dewasa untuk menikah, Bhisma mencarikan calon istri yang pantas untuk adiknya.
(1428 klik)
|
Karna Friday, 02-March-2007, 08:05:59 kakek yang kuhormati, aku tahu aku ini anak Dewi Kunti, bukan anak sais kereta. Tetapi, aku berhutang budi kepada Duryodana. Aku hidup dan makan dari hasil bumi tanah milik Kurawa. Aku harus jujur kepadanya dan menepati janjiku sebagai ksatria. Tidak mungkin bagiku menyeberang ke pihak Pandawa sekarang. Ijinkan aku membalas jasa Duryodana dengan jiwaku. Ijinkan aku membalas hutangku terhadap kepercayaan dan cintanya kepadaku. Engkau pasti memahami ini dan memaafkan aku. Aku mohon restumu. (1885 klik)
|
Mata Malam Tuesday, 12-December-2006, 03:41:48 PAGI ini seluruh keluarga Pandawa berduka. Tadi malam salah satu putra terbaik, Gatutkaca anak Bima tewas di medan perang. Tungku pembakaran jasadnya masih mengepulkan asap, membubung tinggi ke angkasa. Baranya bahkan belum padam. Wewangian merebak dan semua menundukkan kepala. Mungkin aku satu-satunya yang tidak menangis karena bagiku tak ada yang perlu ditangisi. Dia mati dengan hebat, bertempur dengan ksatria yang sama sekali bukan tandingannya, Karna Adipati Awangga, sulung Pandawa yang dibuang ibunya dan memilih bergabung dengan Kurawa. Aku tahu semua alasannya, jadi mengapa kini semua berlomba mengucurkan air mata. Satu-satunya yang berhak menangis adalah Pergiwa, istri Gatutkaca. Dia tidak pernah tahu untuk apa suaminya mati. Dan jika ada orang kedua yang pantas meratapi kematiannya, maka itu adalah aku karena aku yang melahirkannya. (1875 klik)
|
|
|
| Selanjutnya
|
|
|
 |
 |
| Buku Wayang |


|
| Buku Budaya Jawa |

|
|
 |
|
 |
 |