GALERI WAYANG
NOVEL DUNIA WAYANG
BUKU WAYANG
BUKU BUDAYA JAWA
Home Dunia Wayang
Home Pitoyo Dotcom
Yang Baru di Dunia Wayang
Tentang Dunia Wayang
Buku Pitoyo Amrih
Galeri Wayang
Advertising


Pitoyo Amrih's reviews on Goodreads


Antareja Antasena: Jalan Kematian Para KsatriaAntareja Antasena: Jalan Kematian Para Ksatria
reviews: 4
ratings: 12 (avg rating 3.62)



Kebaikan Kurawa, mengungkap kisah-kisah yang tersembunyiKebaikan Kurawa, mengungkap kisah-kisah yang tersembunyi
reviews: 2
ratings: 9 (avg rating 3.25)



Narasoma: Ksatria Pembela KurawaNarasoma: Ksatria Pembela Kurawa
reviews: 1
ratings: 5 (avg rating 4.00)



Perjalanan Sunyi Bisma DewabrataPerjalanan Sunyi Bisma Dewabrata
reviews: 1
ratings: 4 (avg rating 3.00)




Sponsored Link


Kunjungi Toko online Pitoyo Dotcom Webstore


Kunjungi profil Pitoyo Amrih sebagai Goodreads Author


Kunjungi profil saya


Meet me on Facebook



Login
Nickname:
Password:
  Registrasi?

Ulasan / Bedah Buku Wayang
Ulasan Novel Wayang: Antareja Antasena
Oleh Sinarbulan
Thursday, 06-March-2008, 07:53:55 1614 klik Send this story to a friend Printable Version Langganan Ulasan Duniawayang Pitoyo Dotcom
Saya tertarik pada novel ini karena mengangkat karakter wayang yang sempat saya selami melalui sejumlah referensi untuk keperluan menulis naskah komik pada suatu tahun. Mas Agus paling menaruh minat pada cerita di kerajaan Jalatunda, yang berlokasi di Dieng.

Antareja adalah putra Bima dari Dewi Nagagini, putri Hyang Antaboga yang memerintah bangsa ular. Sedangkan Antasena, saudara seayahnya, beribukan Dewi Urang Ayu yang merupakan putri Batara Baruna, penguasa Samudra (dalam buku ini dieja Samodra). Tokoh Antasena tidak ada dalam Mahabharata, hanya dalam wayang versi Jawa Yogyakarta.
Klik untuk melihat foto lainnya...
Peperangan senantiasa memakan korban tanpa pandang bulu. Tak ada keadilan dalam pertempuran, termasuk Baratayudha yang tidak lain tidak bukan ialah perang saudara. Antasena dan Antareja hanya salah dua dari korban tersebut, yang dipaparkan dengan elok dalam novel ini.

Batara Guru memerintahkan kepada Sri Kresna untuk membinasakan Antasena dan Antareja agar mereka tidak terlibat Baratayudha. Bila hal itu terjadi, bisa dipastikan Kurawa akan kalah seketika. Kesaktian kedua putra Bima ini tak tertandingi, bahkan oleh Sri Kresna sekalipun. Bahkan Antareja telah mewariskan kedigdayaannya kepada putra tunggalnya, Arya Danurwenda. Sri Kresna sempat dilanda kegundahan untuk melaksanakan titah ini, kendati dikukuhkan alasan pembenaran bahwa Antareja telah sangat merindukan mendiang kakeknya dan Antasena tak peduli pada hiruk-pikuk dunia. Lain dengan sepupu mereka, Wisanggeni. Ksatria yang sama brangasannya dengan Bima dan Antasena ini hanya disesatkan ke Atasangin, wilayah para jin, tetapi tidak harus menemui ajalnya. Ia dianggap masih harus menempuh perjalanan panjang dan sekadar mesti absen dari pertarungan di Kurusetra.

Kematian dua bersaudara ini sungguh memilukan hati, kendati keduanya menyerah pada takdir masing-masing. Antasena dengan rela mengubah diri menjadi tanaman jagung yang di sekitarnya dialiri danau. Akhir hidup yang membuat hati basah sehingga Sri Kresna pun tak dapat memanggilnya untuk muncul lagi, bahkan senjata Cakra yang sakti tidak kuasa memecahkan batu penghalang gua tempatnya mengurung Baladewa. Tidak disangka Antasena yang mempermainkan para jin dengan memberikan batu sebagai makanan dengan sukarela memenuhi permintaan pamannya untuk absen penuh dari Baratayudha.

Antareja menjumpai takdir kematiannya dengan perilaku tak kalah mulia, walau (lagi-lagi) membuat saya ingin menangis. Ia mencium telapak kakinya sendiri. Ilmu yang sakti luar biasa sehingga dapat mematikan banyak orang dalam sekejap hanya dengan mencium bekas pijakan kaki mereka. Sebagai pemimpin yang dihormati di Sappitu, Antareja sangat rendah hati. Ia bahkan berlaku santun kepada sesepuh bangsa ular yang mengantar dirinya dan Satyaki.

Terlepas dari banyaknya nama yang harus diingat, novel ini hadir secara memikat. Cara bercerita Pitoyo Amrih terbilang lancar, deskripsinya rinci, sampai ke adegan laga yang membuat saya merasa didongengi secara lisan oleh penulisnya. Banyak sisipan yang patut disimak, seperti tidak sehatnya batin Gatotkaca karena dipaksa menjadi dewasa dalam waktu singkat. Semua kembali diakibatkan campur tangan para dewa yang memperlakukan dunia wayang bagaikan boneka. Novel ini akan kian baik mutunya jika penyuntingannya dipertajam lagi.

ANTAREJA ANTASENA
Sub judul: Jalan Kematian Para Ksatria
Penulis: Pitoyo Amrih
Penerbit: Pinus
Tebal: 252 halaman
Cetakan: I, November 2006
Beli di: Togamas, Bandung
Skor: 8


Sinarbulan, Bandung
sinarbulan.multiply.com

 
SocialTwist Tell-a-Friend
Berita Bedah Buku Wayang Lainnya
.Ulasan Novel Wayang: Narasoma
Discussion
Latest Post
. Asal usul Kartamarma
Latest Response
. Terima kasih
. Asal usul Kartamarma
Iklan Baris
Iklan Terbaru
. Pedang Kwan Im dan Keris Krato...
. Pedang Kwan Im dari jaman Dina...
. Reselling Batik Solo...
. Antareja Antasena
Novel Dunia Wayang







Buku Wayang



Tautan Wayang Lainnya
All About "Wayang Kulit"

Ki Demang Sokowaten - Situs Sutresna Jawa

Haritage of Java

The Bharatayudha Arena
Buku Budaya Jawa