 |
 |
|
 |
 |
|
| Ulasan /
Cermin |
|
| Kekuasaan yang bisa membuat lupa... | | Oleh pitoyo |
| Monday, 26-March-2007, 00:57:07 |
1706 klik |
 |
 |
 |
|
|
| Sulit memperkirakan apa yang ada dalam pikiran Duryudana, apa yang ada dikedalaman lubuk hatinya. Sang raja Hastinapura ini selalu lebih banyak diam pada setiap pertemuan petinggi kerajaan. Banyak orang menganggap dia sebagai orang yang keras kepala, sementara sebagian orang menganggap dia sebagai orang yang terpengaruh oleh hasutan sang patih Arya Sangkuni. Dan hampir semua pendapat itu selalu menempelkan sifat jahat dan keji pada diri Duryudana. |
|
|
Sebagian besar rakyat Hastinapura sendiri terkadang kasak-kusuk mempergunjingkan keabsahan sang Duryudana dalam menduduki tahta pimpinan kerajaan. Karena pada kenyataannya sebenarnya bukan dia yang di! tunjuk memerintah Hastinapura. Destarastra- lah, ayah dari Duryudana, yang sebenarnya untuk sementara waktu diminta memerintah Hastinapura atas mangkatnya Prabu Pandu Dewanata. Karena Samiaji, putra sulung Pandu dianggap masih terlalu muda untuk memimpin sebuah negri besar seperti Hastinapura.
Namun Destarastra adalah seorang tua yang rapuh. Dia terlihat begitu terlalu renta untuk usianya, untuk berjalan saja dia harus membawa tongkat, bahkan terkadang harus dipapah. Mungkin karena matanya yang buta sejak lahir telah merenggut semangat hidupnya. Sehingga justru segala sesuatunya diambil alih oleh anak sulungnya, Duryudana. Termasuk tahta sementara negri Hastinapura itu. Walaupun sebenarnya usia Duryudana sedikit lebih muda dari Samiaji.
Semula memang Destarastra yang duduk disingasana, Duryudana selalu berdiri disampingnya sambil selalu memberi pendapat. Tapi lama kelamaan, Destarastra sudah tak nampak lagi disana, tubuhnya terlalu lemah, jadilah Duryudana duduk di singgasana. Upaya Samiaji secara baik-baik meminta kembali tahta itu, sia-sia. Tawaran untuk membagi negri pun ditolak Duryudana. Sampai kemudian Duryudana memilih untuk mengobarkan perang dengan saudara sepupunya sendiri demi mempertahankan kedudukannya di singgasana Hastinapura.
Suatu ketika, Duryudana pernah berdalih bahwa itu semua dilakukannya agar semua adik-adiknya yang berjumlah sembilan puluh sembilan beserta keturunan mereka kelak bisa terjamin hidupnya. Tapi mungkin begitulan hukum alamnya, seratus bersaudara anak-anak Destarastra memang dari kecil jauh dari perhatian dan pendidikan. Mereka tumbuh menjadi anak-anak bejat jauh dari tata krama. Mabuk dan berjudi adalah keseharian mereka. Dan Duryudana, si sulung, merasa bahwa dia harus tetap bertanggung jawab terhadap masa depan adik-adik kandungnya itu.
Apa pun dalihnya, kekuasaan memang terkadang membutakan. Firaun menjajah rakyatnya sendiri demi dalih sebuah mercusuar dunia dan sikap megalomania- nya. Jengis Khan tetap dikenang sebagai seorang tiran, walaupun beb! erapa orang mulai menganggap bahwa dia adalah justru seorang raja dengan visi luar biasa. Hitler, .. semua orang tahu betapa kejinya dia, walaupun dalam bahasa-nya Stephen Covey dia termasuk orang yang proaktif, memegang teguh nilai-nilai yang dianutnya. Hanya sangat disayangkan bahwa Hitler tidak pernah selalu bertanya apakah nilai-nilai yang dipegangnya selalu selaras dengan prinsip-prinsip universal.
Pernah juga ada sebuah cerita seorang dokter ahli bedah yang mengidap penyakit kejiwaan yang disebut God-complex. Tangan dinginnya yang selalu berhasil melakukan penyembuhan pasien melalu jalan operasi, membuatnya lupa diri dan menganggap dirinya punya kuasa terhadap hidup dan matinya seseorang.
Ya, ..kekuasaan memang sering melenakan. Apakah itu kuasa karena tahta seperti Duryudana, kuasa karena kekuatan layaknya Firaun, Jengis Khan atau Hitler, atau kekuasaan yang dimiliki seseorang karena pengetahuannya seperti dokter bedah itu.
Dikehidupan kita, sekecil apa pun itu, pastilah kita punya sebuah kekuasaan. Kekuasaan selaku kepala keluarga, kekuasaan kita sebagai atasan, kekuasaan karena ditunjuk sebagai pemimpin, menjabat untuk memimpin anak buah.
Dengan kekuasaan kita bisa belajar, dengan kekuasaan kita bisa memberikan nilai tambah kepada kehidupan, dengan kekuasaan mungkin kita bisa membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik. Tapi dengan kekuasaan, kita juga bisa lupa...
Pitoyo Amrih
|
| |
 |
|
|
|
|
 |
 |
| Buku Wayang |


|
| Buku Budaya Jawa |

|
|
 |
|
 |
 |