Bayangkan anda memiliki sebuah mobil baru. Baru kemarin dikirim dari dealer. Bila anda ditantang agar melakukan usaha bagaimana caranya sehingga kira-kira duapuluh tahun lagi mobil anda akan memiliki kondisi sama seperti sekarang ini, saat mobil belum sama sekali digunakan. Selama duapuluh tahun mobil tidak digunakan? Maka hal itu akan menjadi lucu, karena pertanyaan kemudian adalah mengapa mobil harus dibeli?

Itu tentang mobil. Dimana alasan pemanfaatan, bila anda bukan pengusaha armada, maka keberadaan mobil lebih dimaksudkan sebagai alat transportasi anda sendiri. Bahkan ada yang juga dibumbui masalah gengsi. Sehingga biaya yang ditimbulkan karena keberadaan mobil, baik untuk operasional maupun perawatan sepertinya bukan lagi menjadi hal penting untuk dilihat, dibanding kemanfaatan yang akan diperoleh.

Akan menjadi sangat berbeda bila itu adalah mesin proses produksi. Setiap jam mesin itu bekerja, benar memang mesin akan menghasilkan produk yang memberi potensi pendapatan. Tapi semakin lama mesin bekerja juga akan memberi konsekuensi adanya biaya pengoperasian. Biaya energi, depresiasi. Dan satu hal lagi, ketika kita mengharap mesin itu akan selalu bekerja pada kondisi sama seperti awal mula mesin itu beroperasi, bak tentang kasus mobil baru tadi, maka akan ada lagi komponen biaya, yaitu biaya perawatan mesin.

Konsep merawat yang produktif mungkin bisa didekati dengan pengertian sebisa mungkin dalam merawat mesin tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya, tapi duapuluh tahun lagi kondisi mesin masih sama persis seperti saat baru. Tapi hal itu tentunya mustahil. Hukum alamnya bila kita tak mengeluarkan biaya untuk perawat alias tidak merawat, dalam hitungan bulan saya percaya mesin sudah tidak beroperasi secara baik. Dan sebaliknya ketika tujuannya hanya fokus pada kondisi duapuluh tahun lagi mesin akan tetap seperti baru, kita pasti akan kehilangan sense pengendalian biaya yang harus dikeluarkan dalam berproduksi. Padahal besar kecil komponen biaya akan mempengaruhi besar kecil laba dari produk yang kita jual.

Productive Maintenance adalah sebuah pendekatan agar mesin produksi tetap dalam kondisi sesuai harapan saat digunakan sampai pada waktu tertentu, dengan biaya perawatan dan operasional yang sekecil-kecilnya. Dan embel-embel 'Total' didepan terminologi itu adalah sebuah isyarat bahwa tanggung jawab terhadap hal itu tidak melulu hanya pada bagian perawatan, tapi juga bagi semua orang yang memiliki kepentingan terhadap mesin. 

Pitoyo Amrih

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya