Hidup penuh risiko. Begitulah kata bijak. Setiap keputusan yang kita ambil pastilah memiliki risiko. Bisa besar atau kecil. Sehingga dalam kehidupan profesional terutama, perlu kita lakukan apa yang disebut mengukur sebuah risiko terhadap setiap keputusan kita. Baik keputusan yang akan kita ambil, keputusan yang sudah kita ambil, atau secara konsep bisa jadi sebuah keputusan dimana kita memilih untuk tidak mengambil keputusan. Artinya membiarkan sesuatu hal berjalan secara alamiah. Pembiaran adalah juga sebuah keputusan, dan itu tetap mengandung risiko.

Mengukur risiko menjadi penting karena bila keputusan belum diambil, dan kita menilai bahwa risiko terhadap keputusan itu besar, maka kita bisa lakukan sesuatu agar risiko terhadap keputusan menjadi kecil sampai pada batasan bahwa risiko bisa diterima (acceptable). Apa yang kita lakukan bisa bersifat preventive (menanggulangi sebab timbulnya dampak), ataupun bersifat protektif (mengurangi akibat bila dampak terjadi). Keputusan yang sudah terlanjur diambil pun kita bisa ukur risikonya dan kemudian kita kendalikan sehingga sampai pada batas risiko yang bisa diterima.

Saya mungkin bisa contohkan mudah misal kita akan mengambil keputusan untuk mengendarai motor di sebuah jalan yang sangat ramai. Bisa jadi saat mengukur risiko akan menghasilkan angka yang besar (risiko tinggi), apakah itu berarti kita tidak pergi bermotor? Bagaimana kalau pergi bermotor itu harus dilakukan? Maka kita bisa lakukan pengendalian risiko, misal dengan tetap pergi bermotor dengan mengendara perlahan pada kecepatan rendah (preventive), dan mengenakan helm (protektif). Sehingga risiko bisa ditekan pada tingkat yang acceptable. Lalu bagaimana kita mengukur sebuah risiko?

Sebelum kita masuk lebih jauh. Mungkin perlu didudukkan dulu istilah dalam bahasa Inggris ini, yaitu: Hazard, Harm, dan Risk itu sendiri. Kalau merujuk ke 'bahasa'-nya OSHA, maka pengertiannya: Hazard adalah sesuatu hal yang berpotensial menimbulkan Harm. Harm sendiri bisa diartikan sebagai celaka, rusak pada benda, atau sakit/mati pada manusia. Hazard bisa berupa benda dan zat (pisau, pipa besi, bensin, dsb), bisa karena keadaannya (panas, berada pada ketinggian, melaju dengan cepat, dialiri listrik, dsb), bisa karena sebuah proses (pengelasan, tempa, gerinda, dsb). Nah, Risk atau bahasa Indonesianya risiko, adalah kombinasi dari kemungkinan timbulnya dan keparahan dari Harm atas keberadaan Hazard.

Sehingga mencoba mengilmiahkan sebuah risiko selalu terdapat tiga aspek, yaitu Probability, atau risiko dari kemungkinan timbulnya harm. Kemudian Severity, atau risiko tingkat keparahan dari harm bila terjadi. Dan Detectability, yaitu risiko kemampuan kita mengenali terjadinya harm, mengenalinya bisa saat sebelum harm terjadi (artinya Detectability-nya baik), bisa jauh setelah harm terjadi (artinya Detectabilty-nya sangat buruk).

Probability, kita menilai memberi skor sampai seberapa sering kemungkinan itu terjadi. Semakin sering semakin tinggi skor-nya. Anda bisa memberi angka sendiri atas skor-nya, tingkatan skor-nya, dan definisi atas setiap tingkat skor tersebut. Menilainya anda bisa melihat data masa lalu kemudian anda kuantifikasikan. Misalnya anda beri skor rendah bila tidak pernah terjadi, dan skor tinggi bila terjadi sampai lebih dari 10x setahun. Bagaimana bila saya tidak punya data? Pertanyaan yang cukup sering mengemuka, yang memberi konsekuensi kepada kita untuk mencari informasi sekeras mungkin atas data kemungkinan harm akibat keputusan kita. Apalagi sekarang sudah jamannya internet, mungkin pencarian data akan lebih terbantu. Yang penting untuk dipahami, bahwa tidak adanya data, bukan berarti harm itu tidak pernah terjadi. Dan bila memang data benar-benar tidak ada, kita tetap bisa melakukan survei memberikan daftar pertanyaan tentang kemungkinan harm pada sejumlah responden mewakili, dan itu bisa jadi data.

Severity, kita memberi skor tingkat keparahan bila harm itu sampai terjadi. Kita membuat perkiraan masa depan bila harm sampai terjadi. Skor kecil bila dampaknya tidak parah, tergantung apa definisi parah kita masing-masing. Skor besar bila keparahan itu berupa kematian, sesuatu yang katastropik, fatal, lethal, dsb. Ada juga istilah Kekritisan yang juga terkadang dikaitkan dalam penilaian risiko. Saya sendiri berpendapat bahwa penilaian kekritisan bisa divariasikan dalam pendefinisian skor pada tingkat level keparahan. Kritis bisa diartikan bahwa tujuan diambilnya sebuah keputusan tidak tercapai, sehingga kita beri skor tinggi untuk skor severity-nya.

Pada Detectabilility, kita memberi skor di saat ini, di masa sekarang ini, bagaimana kemampuan kita mengenali harm atas keputusan yang kita ambil itu. Seperti yang saya sebut sebelumnya, Detectability ini agak tricky. Bila anda bisa mengenali harm jauh sebelum hal itu terjadi maka Detectability kita definisikan baik, detectability baik maka skor-nya rendah. Kebalikannya bila harm hanya bisa dikenali setelah terjadi, bahkan kadang mungkin hanya bisa dikenali jauh setelah terjadi. Misalnya minum obat memberi dampak bahaya keracunan dan itu hanya bisa dideteksi sekian tahun setelah obat diminum, maka detectability sangat buruk, sehingga skor-nya harus tinggi.

Ukuran Risiko, bisa diberi besaran RPN (Risk Priority Number), adalah perkalian dari skor Probability, Detectability dan Severity. Mungkin bisa saya gambarkan dengan bagan sederhana:

 

RPN hanya akan berarti bila diawal kita bisa definisikan batas angka apakah risiko itu dikatakan kritis, tinggi, sedang, rendah, atau risiko yang bisa diterima (acceptable). Dan ketika kita bisa mengukur risiko, bila sebuah keputusan memang harus diambil, maka kita bisa melakukan sesuatu mengiringi keputusan itu sehingga risiko bisa ditekan sampai tingkat yang acceptable. Entah dengan cara mengurangi kemungkinan timbulnya harm (memperkecil probability) -cara preventive-, mengurangi keparahan harm (memperkecil severity) -cara protektif-, atau memperbaiki sehingga bisa lebih baik dalam mengenali harm (memperbaiki detectability = memperkecil skor detectability). Atau kombinasi dari ketiganya.

 

Pitoyo Amrih

 

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya